
"Paman,"
Raize menoleh pada gadis yang mengenakan baju rumah sakit yang khas. Pria tampan itu sedikit tertegun melihat gadis bersama Selena itu mendekat dan tersenyum padanya.
"Ternyata, paman seorang dokter."
Raize menunggu selena yang berjalan semakin dekat. Gadis kecil yang cantik itu masih tampak berwajah pucat membawa setangkai bunga berwarna ungu yang sepertinya dia petik dari tanam. Di kepalanya terpasang topi rajutan seolah menyembunyikan seluruh rambut. Selena tersenyum pada Raize lalu mengulurkan bunga itu pada Dokter muda yang masih menata hati.
Raize membalas senyuman Selena. Lalu berjongkok menyamakan tinggi, memandang gadis kecil yang cantik namun, terlihat pucat itu.
"Ini untuk ku?"
Selena mengangguk dan tersenyum tulus.
"Terima kasih." Ucap Raize."Sebenarnya, bunga cantik ini lebih pantas untuk gadis cantik seperti mu."
Selena menggeleng pelan. "Untuk Dokter ganteng saja. Karena ini dari mama."
Wajah Raize sedikit berubah, ada raut keterkejutan di sana.
"Aku selalu dapat dari para suster di sini. Mereka sangat baik, tapi, bunga ini. Untuk Dokter tampan saja. Sampai jumpa dokter." Ucap Selena riang sembari melambai dan pergi.
Raize ikut melambaikan tangannya. Lalu pandangan Raize tertuju pada bunga pemberian sang gadis kecil. Raize tersenyum kecil, merasai hatinya yang menghangat.
Hari terus berlalu, beberapa kali Raize bertemu dengan Selena. Dan gadis kecil itu selalu memberinya bunga yang sama. Dan Raize selalu menyimpan bunga itu di vas meja kerjanya. Hingga terkumpul lebih dari 10bunga.
Hingga pada suatu masa, Raize merasa penasaran, kenapa terus bertemu dengan Selena di rumah sakit. Tanpa sadar, Raize menunggu gadis bernama Selena di lorong tempat mereka biasa bertemu.
"Dokter Raize?"
Raize menoleh pada nert yang memanggilnya.
"Sudah waktunya."
"Baiklah." Angguk Raize merasa berat melangkahkan kakinya. Beberapa kali Raize menoleh ke belakang, ke lorong dekat taman tempat nya biasa bertemu Selena. Raize tersenyum kecut, gadis kecil itu benar-benar menganggu nya. Dalam hati, Raize bertekad akan mencari tau gadis itu sakit apa.
"Selena?"
"Heemm, aku memang belum terlalu lama di rumah sakit ini. Tapi, setiap hari, gadis kecil bernama Selena itu terus memberiku bunga." Ucap Raize pada sesama rekan seprofesi nya sembari menunjuk kumpulan bunga di vas meja kerja.
Rekan kerja Raize tersenyum kecil, ikut memandang sangat lama pada bunga berwarna ungu itu.
"Hmm,, mungkin Selena yang kamu maksud Selena Frizh."
Raize memajukan tubuhnya sebagai tanda dia tertarik.
"Dia salah satu pasien dokter Graner."
__ADS_1
"Dokter Graner? Maksudmu..."
"Dia menderita kanker stadium 3."
Entah kenapa Raize merasa sangat lemas. Tubuh Raize bahkan sampai tersandar pada pungungan kursi kerjanya. Gadis yang begitu ceria dan cantik itu ternyata tak berumur panjang. Apalagi mendengar Selena di vonis hanya bertahan hingga bulan depan.
Raize melangkah dengan gontai hendak melewati lorong tempat biasa bertemu dengan Selena. Ternyata gadis itu sedang duduk di atas kursi roda. Wajah pucat dan topi rajut selalu menyertainya. Raize melangkah cepat dan menghampiri.
"Selena."
Selena menoleh pada Raize, lalu tersenyum sangat lebar.
"Aku menunggu dokter," ucap gadis itu polos sembari mengulurkan bunga seperti biasanya.
"Terima kasih."
"Dokter, apa dokter mengumpulkan bunga yang aku beri?"
Raize mengangguk.
"Harusnya, bunga itu sudah terkumpul 15. Dokter, aku hidup tidak lama lagi. Dan Mama pasti akan kesepian jika aku pergi. Mama sudah melalui hidup yang berat. Aku tak ingin meninggalkan mama."
"Kamu tidak akan pergi, princess."
Selena tersenyum mendengar ucapan dari Raize yang begitu tegas dan membuatnya semakin berharap untuk hidup. Namun, Selena sangat sadar akan keadaan dirinya yang sudah di vonis hingga bulan depan. Selena menggeleng pelan.
Raize terdiam sesaat memandang gadis berwajah pucat yang semakin menggetarkan hatinya.
"Baiklah. Aku akan menemani mama." Raize menyetujui, Selena langsung tersenyum senang. Lalu mengulurkan tangannya dan memeluk Raize. Raize pun memberinya pelukan hangat, mengusap kepala Selena yang tertutup topi rajut.
"Terima kasih dokter, aku bisa pergi dengan tenang. Dokter tampan yang baik."
Tanpa terasa air Mata Raize meluncur dari pelupuk mata. Dengan cepat pria tampan itu mengusapnya. Agar gadis itu tak melihat, Raize melepas pelukannya dan tersenyum pada Selena.
"Dokter, kata mama, aku cantik meski tak memakai topi."
Raize mengangguk, dan tetap tersenyum pada Selena.
"Kamu memang cantik, bahkan meski tak ada sehelai rambut pun di kepalamu. Kamu gadis tercantik yang pernah ku lihat."
"Benarkah?"
Raize mengangguk. Lalu mencium kening Selena.
"Terima kasih dokter." Ucap Selena memeluk lagi Raize.
"Selena!"
__ADS_1
Raize memandang kearah suara yang memanggil gadis dalam pelukannya itu. Lalu melepas pelukan Selena.
"Mama..."
"Mama mencari kamu kemana-mana. Kenapa keluar kamar? Dokter Graner melarang keluar kan? Kamu harus istirahat di kamar." Omel mama Selena itu dengan wajah yang tampak sangat cemas dan khawatir. Lalu mendorong kursi roda anaknya. Sebelum wanita muda itu mengangguk kecil pada Raize.
Dua hari berlalu, Raize sibuk dengan pekerjaannya dan tak bertemu dengan Selena. Seusai menjalani operasi, Raize yang masih mengenakan baju hijau itu berjalan di lorong. Bermaksud untuk kembali ke ruang kerjanya.
Saat melewati kumpulan suster dan nert. Raize mendengar percakapannya mereka.
"Ya ampun, benarkah? Kasihan sekali Selena."
"Iya, gadis itu sudah dua hari ini di ruang isolasi, aku tau dia tak akan bertahan lebih lama. Tapi aku tidak menyangka akan secepat ini."
Mata Raize melebar, dengan cepat menyela para suster yang sedang berbincang itu.
"Apa Selena yang kalian maksud adalah Selena Frizh?" Tanya Raize sangat tak sabar dan cemas.
"I-iya."
Raize bagai kehilangan ruhnya, pria itu segera berlari menuju ruang isolasi. Ia berharap agar masih memiliki kesempatan untuk melihat gadis kecil yang ceria itu.
Langkah kaki Raize menjadi pelan, saat di lihatnya mama Selena duduk di bangku depan ruang isolasi. Wajah wanita berambut pirang itu terlihat sangat lelah penuh beban, namun, tak mengurangi kecantikan mama Selena.
Raize memutuskan untuk melangkah perlahan dan mengatur nafasnya. Lalu duduk di sisi wanita yang memejamkan mata. Mama Selena menoleh pada Raize begitu membuka mata.
"Bagaimana keadaan nya?"tanya Raize lirih.
"Aku sangat mengharapkan ajaiban Tuhan."
"Selena gadis yang kuat, dia pasti bisa melalui semua ini."
"Benarkah? Apa kamu yakin? Aku sangat takut, dia..." Suara parau wanita itu tak mampu lagi meneruskan kalimatnya.
"Selena sangat menyayangi mu, dia bahkan memikirkanmu jika dia pergi nanti."
Bahu wanita itu berguncang. Suara isakan kecil terdengar dari nya. Wanita itu memilih menutup wajahnya dengan tangan.
"Rencana Tuhan adalah yang terbaik. Teruslah berdoa, dia pasti bisa melalui ini, asalkan kita terus mendukungnya."
Wanita itu menatap Raize, "benar, Selena bilang kamu dokter yang baik. Dia selalu membicarakan mu, dan ingin menikah dengan mu nanti." Ungkapnya dengan tawa kecil.
Raize pun ikut tersenyum. "Jika dia bangun nanti, aku akan memberikan pesta pernikahan untuknya."
Ibu Selena menangis haru, "terima kasih, seperti kata Selena, kamu memang baik."
Raize menepuk punggung ibu Selena dengan lembut. Lalu membawa wanita yang masih berguncang tubuhnya itu ke dalam pelukan.
__ADS_1