
"Ooohhh, shiit!! Ayla! Mulutmu... Aaaarrrrrhhhhh..."
Rocky terus meracau dan menyebut nama Ayla. Masih memberi kepuasan bagi Rocky mulutnya melahab batang Rocky bagai melahab eskrim, bergerak maju dan mundur. Lidah Ayla bergoyang dan menari di pucuk batang milik Rocky.
Tangan Rocky mengusap kepala Ayla, menelusupkan jemarinya diantara helaian rambut sang istri dan menberi sedikit remasan di sana. Tubuh Rocky terasa semakin tegang. Pria bule itu memejamkan matanya, membiarkan Ayla menikmati lolipop miliknya. Dengan hisapan dan goyangan lidah Ayla yang menggoda, hingga cairan yang ia keluarkan memenuhi mulut Ayla.
Rocky menatap lembut sang istri yang mulai berdiri hingga wajah mereka sejajar. Rocky mengusap bibir Ayla yang masih tersisa cairan yang ia keluarkan.
"Terima kasih, sayang." Ucap Rocky membawa sang istri dalam pelukan dan menjatuhkan diri ke belakang.
"Kamu juga melakukan hal yang sama. Aku hanya membalasmu, dad."
Rocky semakin melebarkan senyuman. "Mau sekali lagi?"
"Baiklah," kekeh Ayla.
Ayla dan Rocky terlelap bersama setelah melakukan sedikit adegan panas tanpa hentakan itu. Keduanya tertidur dengan saling berpelukan dan berbagi kehangatan.
Sementara itu, di sisi belahan bumi yang lain. Lebih tepatnya di mansion kedua yang di tinggali oleh Raize dan istri bohongan nya.
Kayla memiringkan tubuh menghadap tembok yang menjadi pembatas antara kamarnya dan kamar Raize. Tanpa Kayla ataupun Raize sadari mereka tidur saling berhadapan dan berbatas tembok kamar.
Kayla mencoba menyelami hatinya, menyelami perasaan yang ia miliki untuk Raize. Ia tak mau jika perasaan yang ia miliki hanya akan menjeratnya semakin dalam pada Raize. Kayla hanya berharap, Raize benar-benar berubah.
Keesokan paginya, Kayla terbangun agak siang. Ia memang tidak melaksanakan dua rokaat karena sedang masa siklus nya. Kayla merasa rumah itu terasa sangat sepi. Kayla melangkah ke meja makan, tak ada siapapun di sana, hanya seorang pelayan yang kebetulan membereskan meja makan.
"Nona." Sapa sang pelayan.
"Apa Raize tak ada di rumah?" Tanya Kayla menggeret kursi di meja makan.
"Tuan sudah pergi bekerja. Beliau tadi mendapat telpon dari rumah sakit dan langsung pergi."
"Oohh, begitu." Ucap Kayla sedikit kecewa.
"Ini, tuan sendiri yang memasak dan menyiapkan nya untuk nona." Ujar sang pelayan menunjuk pada piring nasi goreng seafood di depan Kayla duduk.
"Ini, Raize yang masak?" Tanya Kayla menatap sepiring nasi goreng seafood dengan telur mata sapi diatasnya.
"Benar nona."
"Apa dia udah sarapan tadi?"
"Belum non, begitu mendapat telpon dari rumah sakit, tuan langsung pergi tanpa sempat sarapan."
__ADS_1
"Aahh, sepertinya ia sibuk sekali." Gumam Kayla pada dirinya sendiri."Apa ada Masalah di rumah sakit?"
"Tuan raize meminta saya untuk memastikan nona memakan nasi gorengnya."
"Kenapa?"
"Tentu saja karena tuan Raize sangat memperhatikan anda. Tuan raize cukup pandai memasak, dan ini pertama kalinya tuan raize memasak untuk wanita."
Kayla tersenyum dalam ketersipuannya, "benarkah?"
Pelayan itu mengangguk, Kayla tau semua pelayan di sana sudah bekerja cukup lama pada Raize. Tentu sangat tau dan mengenal Raize bagaimana jika di rumah. Saat Kayla tak punya kegiatan, Kayla hanya bergaul dan ngobrol dengan pelayan. Mereka sudah seperti teman bagi Kayla. Tentu saja Kayla percaya mereka tak mungkin bohong.
"Kalau begitu, aku akan makan ini." Tutur Kayla lalu mulai menyuap nasi goreng.
Seusai sarapan, Kayla membuat beberapa masakan. Ia ingin membawa ke tempat Raize bekerja. Karena ia tau, Raize belum Sarapan dan yakin pria itu tak akan sempat makan jika ada hal mendesak di rumah sakit.
Ayam kecap, pergedel, dan tumis capcay sudah masuk kedalam box makanan. Kayla tak lupa membungkus nasi putih juga. Selanjutnya, ia memasukkan semua itu kedalam tas.
Setelah sedikit moles wajah nya dan menyemprotkan parfum di tubuh. Kayla membawa tas berisi masakannya dan meminta seorang supir untuk mengantar ke rumah sakit.
Begitu mobil memasuki areal rumah sakit, Kayla baru ingat jika dia belum memberi kabar Raize jika dirinya datang kerumah sakit.
"Ya ampun, aku lupa mengabarinya jika kemari." Gumam kayla menepuk jidadnya sendiri. "Aahh, sudah sampai sini. Langsung ke ruangannya saja."
"Baik, non."
Kayla melangkahkan kakinya menuju ruangan Raize. Tak banyak orang yang Kayla kenal di rumah sakit itu. Hanya beberapa suster yang pernah ia temui saat dulu menemui Raize untuk beberapa urusan kampusnya.
Langkah kaki Kayla terhenti di depan pintu ruangan Raize. Dengan ragu, Kayla mengangkat tangannya menyentuh handel. Ia masih ingat saat dulu membuka pintu itu. Raize tengah bercumbu dengan seorang wanita yang entah siapa.
Keraguan menghinggapi hatinya. Jika dulu Kayla masih sanggup untuk mengabadikan momenn itu, namun tidak sekarang. Masih mampukan hatinya untuk menyaksikan adegan itu lagi?
"Kuatkan hati kay, ingat, kamu sudah membuat kesepakatan dengan nya jika dia ingkar kamu bisa akhiri ini." Gumam Kayla pada diri sendiri.
Dengan menguatkan hati dan pikirannya, Kayla menekan hendel dan bersiap mendorong pintu di depannya itu.
"Kayla!" Sebut suara yang Kayla cukup kenal dari lorong sebelah kirinya.
Kayla melihat ke arah suara itu berasal. Raize dengan baju putihnya dan testoskop yang menggantung di lehernya berdiri beberapa langkah dari nya bersama dua orang suster di belakang dan seorang dokter wanita di sampingnya.
Raize berbincang sebentar dengan dokter wanita itu sebelum mereka bertiga pergi menyisakan Raize dan Kayla di lorong ruangan sang dokter muda.
"Ada apa kemari?" Tanya Raize melangkah mendekat.
__ADS_1
"Aku dengar kamu belum sempat sarapan karena mendapat panggilan dari rumah sakit."
"Benar. Ada operasi darurat pagi ini."
"Benarkah? Apa semua berjalan lancar."
"Begitulah, ayo masuk." Ajak Raize membuka pintu ruangannya, dan memiringkan tubuh mempersilahkan Kayla untuk masuk.
Setelah menutup pintu, Raize duduk di kursinya. Sedangkan Kayla duduk di kursi depan meja kerja Raize.
"Apa itu yang kamu bawa?" Tanya Raize melihat Kayla menenteng tas bekal.
"Sarapan buatmu. Aku pikir kamu pasti belum makan." Ujar Kayla mengeluarkan semua kotak makanan dari tas bekal.
"Memang. Aku lapar sekali." Aku Raize memandang makanan yang terlihat menggiyurkan begitu Kayla membuka tutup box nya.
Aroma ayam kecap menguar memenuhi ruangan Raize. Aroma capcay pun tak kalah menggoda lidah Raize untuk segera mencicipi nya.
"Heemmm, baunya, enak banget."
"Rasanya tak kalah enak." Tukas Kayla percaya diri.
"Oh ya? Biar kucicipi." Raize mengambil sendok lalu memulai memakan capcay."Enak."
Mendengar pujian dari Raize Kayla tersenyum, wajah nya juga mulai menghangat.
"Ini pegedel ya?"
"Iya, agak hancur ya bentuknya?" Ucap Kayla sedikit malu.
"Yang penting rasanya." Kata Raize mencubit pergedel dan menyuap kemulutnya."Ini juga enak."
Lagi-lagi, Kayla merasa tersipu dengan pujian jujur dari Raize.
"Ayo, kamu juga makan." Raize mengambil ayam kecap dan menyodorkan ke depan mulut Kayla. Tangan Kayla terangkat hendak menggunakan tangannya sendiri, namun raise menampik tangan Kayla dan memaksa gadis itu menerima suapan darinya."aaaa...."
Wajah Kayla menghangat, perlahan membuka mulutnya dan menerima suapan dari raise. Pria itu tersenyum lebar begitu Kayla mengunyah ayam kecap buatanya sendiri.
"Enak?"
"Enak dong, kan buatanku." Puji Kayla pada dirinya sendiri untuk mengusir rasa gugup di hatinya.
Raize mendekatkan ayam kecap yang tadi di gigit oleh Kayla ke mulutnya dan menggigit tepat di bekas gigitan Kayla. "Enak, benar katamu."
__ADS_1