
"Mas Avan?"
"Kayla?"
Kayla tergugu melihat bos dari kakaknya itu berdiri di depannya.
"Kayla!" Suara pekikan dari Raize di kejauhan, seketika menyadarkan Kayla ditengah gerimis yang mulai membasahi bumi.
Dengan cepat kayla masuk ke dalam mobil Avan,"mas, cepat jalanin mobilnya." Pinta Kayla dengan air mata yang masih membasahi pipinya, "cepat mas, plis." Sambungnya memohon, melihat Raize semakin dekat.
Merasa tak tega, Avan masuk lagi ke dalam mobil.
"Kayla! Tunggu! Kamu salah paham. Kayla!" Panggil Raize mengetuk-ngetuk kaca di samping Kayla. Merasa kayl tak menggubris nya, Raize bergegas berdiri di depan mobil untuk menghalau Kayla semakin jauh.
Di dalam mobil, Avan menoleh pada Kayla. Gadis itu menunduk, terlihat sesenggukan menangis. Bahunya bahkan berguncang hebat. Tiba-tiba saja gerimis berubah menjadi hujan. Hujan yang terus membasahi tubuh Raize.
Avan tak bisa menjalankan mobilnya, karena ada raize di sana. Menghadang dengan tatapan memohon pada Kayla. Ada rasa tak nyaman karena berada di situasi antara Kayla dan Raize. Avan menatap Kayla yang masih terus menangis. Lalu berganti menatap Raize dengan rasa iba, Avan memilih mematikan mesin mobilnya. Raize bergerak ke sisi pintu di samping Kayla duduk lalu mengetuk lagi. Meminta Kayla untuk keluar atau setidaknya mendengarkan penjelasan bahwa semua itu hanyalah salah paham.
"Kayla, kamu salah paham. Tolong dengarkan penjelasanku, Kay." Mohon Raize semakin lirih di tengah hujan.
Kayla masih tak bergeming. Hatinya masih terasa sangat sakit, baru beberapa menit mereka berpisah, Raize sudah memeluk wanita lain. Begitu dalam pikiran Kayla, meski begitu, ia masih saja mencintai Raize. Dan itu yang membuat Kayla marah serta kecewa pada dirinya sendiri.
Raize terus mengetuk kaca di samping Kayla. Namun, sedikitpun Kayla tak bergeming. Tetap diam di dalam mobil Avan.
Perlahan, tubuh Raize merosot ke bawah. Duduk bersandar pada pintu mobil di sisi Kayla. Ia di luar dibawah guyuran hujan, sedangkan Kayla di dalam mobil dan mulai menguasai dirinya. Air mata masih mengalir di pipi meski tak sebanyak sebelumnya. Bahu Kayla bahkan tak lagi berguncang.
Hingga hampir dua jam berlalu. Langit yang masih setia mengguyur bumi. Begitupun dengan Raize yang masih setia menunggu di bawah guyuran hujan. Tubuh Raize mulai mengigil, jika ia terus memaksakan bertahan, entah akan seperti apa dirinya? Mungkin akan di landa hipotermia. Akhirnya, Raize memutuskan untuk masuk ke hotel. Beranjak dan melangkah mundur, melihat siluet Kayla dari balik kaca mobil.
Avan mengulurkan tisu pada Kayla. Dengan senyum terpaksa Kayla mencabut beberapa lembar tisu, lalu mengusap air mata dan ingusnya.
"Aku antar kamu pulang."
Mata Kayla yang sembab itu memandang Avan.
__ADS_1
"Aku nggak punya cukup hati membiarkan wanita seperti mu pulang sendirian, hujan dan dalam keadaan hati yang jelas tidak baik-baik saja." Jelas Avan tanpa melihat ke arah Kayla dan langsung menghidupkan mesin mobilnya.
Selama dalam perjalanan dan keheningan diantara mereka. Avan tak mempertanyakan yang baru saja terjadi. Begitupun Kayla yang tak menanyakan kenapa Avan sampai bisa berada di sana.
Mobil avan berhenti tepat di depan rumah pak Rahman. Hujan sudah reda dan menyisakan rintikan kecil.
Avan keluar lebih dulu dengan mengunakan payung untuk menaungi. Lalu membukakan pintu di samping Kayla. Dengan hati-hati dan memastikan Kayla tak basah oleh tetesan air hujan. Avan dan Kayla berjalan beriringan hingga didepan pintu rumah pak Rahman.
Belum sempat pintu diketuk, sudah terbuka dari dalam. Wajah pak Rahmat tampak sangat kaget dan terkejut. Melihat Kayla dan Avan di depan pintu.
"Assalamualaikum..." Sapa Avan ramah.
"Wa'alaikum salam..." Jawab pak Rohman masih tak mengurangi keterkejutan nya, lalu memiringkan tubuh agar tamunya bisa masuk."Ayo masuk."
Payung yang sudah terlipat dan masih basah itu tersandar di tembok depan rumah Kayla. Avan duduk di kursi samping pintu, sementara Kayla sudah pamit masuk kamar lebih dulu.
Tak lama keluar Bu Rohman dari arah dalam dengan membawa teh hangat dan camilan. Sedangkan pak Rohman duduk gelisah di sebrang Avan duduk. Pria tua itu tak mengerti, bagaimana bisa Kayla yang harusnya berada di kamar bisa muncul di depan rumah bersama dengan Avan.
Avan tersenyum ramah, lalu menyeruput teh yang telah tersaji. Setelah habis setengah, Avan meletakkan teh hangat itu di atas meja.
"Maaf pak, saya hanya mengantar Kayla pulang. Untuk ada apanya, bapak bisa tanyakan sendiri pada Kayla. Saya pamit dulu, sudah cukup malam tidak pantas jika masih bertamu di jam segini." Pamit Avan halus.
"Baiklah, terima kasih karena sudah mengantarkan Kayla pulang. Dan maaf karena sudah merepotkan." Ucap pak Rahman tak enak hati.
"Nggak usah sungkan, pak." Jawab Avan tanpa mengurangi rasa hormatnya pada orang tua.
Setelah Avan pamit dan mobilnya tak lagi terlihat, pak Rahman membuka pintu kamar Kayla. Wajah pak Rahman terlihat merah padam oleh amarah yang di tahan. Pak Rahman melangkah masuk, lengannya tertahan sejenak oleh tangan sang istri.
"Jangan terlalu keras padanya, pak." Pesan emak lirih.
"Bapak tau."
Pak Rahman lalu masuk dan duduk di kursi yang dia geret dari meja rias Kayla. Menatap anak gadisnya yang duduk diatas ranjang dan memeluk lututnya. Wajah Kayla sudah sangat sembab. Pak Rahman mengela nafas panjang, sedih hatinya melihat Kayla seperti itu.
__ADS_1
"Jawab bapak dengan jujur. Apa kamu menemui laki-laki itu lagi, La?"
Kayla mengangguk dengan lemas.
"Bapak kecewa sama kamu, La." Tukas pak Rahman setelah menghela nafas berkali-kali. "Bapak sangat kecewa padamu. Kenapa kamu terus mengecewakan bapak? Apa salah bapak sama kamu, La? Hingga kamu balas bapak dengan kekecewaan sebesar ini?"
Kayla menggeleng dengan cepat menatap sang ayah dengan hati yang semakin hancur. Bukan maksud menghancurkan hati cinta pertamanya itu.
"Maafkan Kayla, pak." Tangis Kayla tergugu.
"Apa pantas kamu meminta maaf lagi setelah melanjutkan lagi hal yang membuat bapak kecewa?"
Tangis Kayla makin terdengar pilu.
"Dia bukan laki-laki yang baik, La. Percaya sama bapak. Lupakan dia."
###
Keesokan paginya, seusai sarapan, Kayla memang sudah ijin untuk tak masuk kerja. Sesuai janjinya, Kayla membantu Bu Rohman membuat camilan untuk jeng Retno yang akan datang bersama anaknya yang baru pulang dari Turki.
Pukul 9.30 pagi, yang di nanti akhirnya datang. Meski Kayla tak berselera, ia tetap menemui Bu Retno dan anaknya. Sedikit berdandan agar tak terlihat pucat dan tentu saja karena sang ibu memintanya begitu.
Setelah berbincang cukup lama, akhirnya tamunya itu pulang. Namun sang anak dari Turki itu bermaksud untuk mengajak Kayla jalan-jalan sore. Kayla menyanggupi demi sang ibu yang terlihat sangat antusias.
Di taman kota, Kayla hanya terdiam saat anak dari teman emaknya mengajak bicara. Hanya menanggapi seperlunya. Pikiran Kayla terus terpaut pada Raize.
Sementara itu, Raize yang berada di klinik mendengar Kayla sudah mengundurkan diri dari sana. Tentu saja pak Rahman yang mengantarkan surat itu. Dan bertemu dengan Raize.
"Jangan temui Kayla lagi."
"Kenapa bapak begitu menentang kami?"
"Coba kamu tanyakan pada Rocky, kenapa sambutanku pada mu dan pada dirinya berbeda?" Ucap Pak Rahman."Jika Kamu sudah dapat jawabannya, kamu tanyakan pada dirimu sendiri, apa yang selanjutnya akan kamu lakukan."
__ADS_1