
Ayla mengemasi semua baju-baju dan barang miliknya juga Uwais. Memindahkan ke dalam travelbag dengan sangat terburu.
Alfa berdiri diambang pintu kamar Uwais. Wajah nya yang sangat tegang dan marah. Berjalan mendekat dan mengeluarkan semua barang-barang milik Ayla dari koper.
Ayla tak terima, ia menatap nyalang pada Alfa. Mendorong tubuh suaminya hingga mundur dua jengkal.
"Kalau kamu nggak mau pergi, biarkan kami pergi mas!"
"Ayla! Dengarkan mas!"
"Apa lagi yang mesti aku dengar mas? Semua sudah semakin jelas. Agya hamil dan kamu harus bertanggung jawab." Hardik Ayla menyalang.
"Ayla! Itu mungkin saja bukan anakku!"
Plak!
Dengan penuh amarah, Ayla menampar wajah suaminya. Betapa tidak tau malunya Alfa sampai bisa mengingkari buah dari perbuatannya.
"Mati saja kau mas! Berani berbuat harus berani bertanggung jawab. Meski kamu terus mengingkari, Ayla tau kamu sudah berhubungan dengan Agya! Dan jadilah laki-laki yang pantas di sebut sebagai ayah." Tukas Ayla makin geram pada yang kini berada di hadapannya itu.
Dada Ayla sudah naik turun oleh emosinya. Ayla kembali mengemasi barang-barang. Lalu membawa travelbag nya ke ruang depan. Alfa masih mengikuti dan menahan lengan Ayla.
Di ruang tamu ada Bu ignis yang memilih duduk diam setelah mengetahui Alfa juga udah membuat seorang wanita lain hamil. Ia sudah sangat malu pada Ayla. Sudah tak ingin lagi membujuk Ayla meski Bu ignis tak ingin rumah tangga anaknya hancur. Tapi itu semua tak lepas dari perbuatan Alfa sendiri.
"Kamu nggak boleh pergi Ayla!" Tahan Alfa memeluk Ayla. Ayla mencoba melepaskan diri dari dekapan Alfa.
Agya yang melihat drama itu meradang, lalu menarik tubuh Alfa agar menjauh dari Ayla.
"Mas! Apa kamu nggak melihat ku di sini?"
"Diam kamu Agya!" Sentak Alfa berang menjambak rambutnya sendiri.
Alfa kembali menahan lengan Ayla. "Jangan pergi Ayla! Mas mohon!"
Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Ayla menyentak tangan Alfa. Ayla kembali masuk ke dalam kamar Uwais, mengengdong anak semata wayangnya yang sedang terlelap. Alfa masih mencoba menghalangi Ayla.
"Kamu nggak boleh membawa Uwais ay."
Ayla melirik Alfa menyalang. Amarahnya sudah semakin memuncak. Apa hak Alfa melarang Ayla membawa anaknya?
"Uwais anakku mas."
"Dia juga anakku!" Tatap mata Alfa tak mau kalah mencoba mengambil Uwais dari gendongan Ayla. Dengan cepat Ayla menjauh.
"Anak? Apa selama ini kamu udah memenuhi kewajiban mu sebagai ayah, hah? Apa kamu udah melakukan yang seharusnya seorang ayah lakukan? Berani sekali kau menyebut diri mu ayah Uwais!" Sentak Ayla semakin marah dan beremosi.
"Pokoknya kamu nggak boleh membawa Uwais! Titik! Kamu nggak boleh pergi!"
"Mas!" Agya yang berada diantara Alfa dan Ayla menarik lengan Alfa.
__ADS_1
Ayla tersenyum kecut.
"Jaga dia dengan baik, jangan sampai dia mengejar ku." Ketus Ayla pada mantan sahabatnya."Ambilah bekasku! Bekas Sahabat!"
Seusai mengatakan hal itu, Ayla melangkah cepat sembari mengengdong Uwais dan menggeret travelbag nya.
"Berhenti! Ayla! Berhenti di sana! Aku tidak mengijinkan mu pergi!" Teriak Alfa mencoba melepaskan lengannya yang di peluk erat oleh tangan Agya.
"Kamu yang hentikan mas! Kamu punya aku! Kenapa kamu masih mengharapkan wanita yang selalu kau hina sudah tak enak lagi?" Ucap Agya dengan suara lebih keras yang tentu saja Ayla dengar.
Namun, Ayla tak menggubrisnya.
"Diam kamu Agya! Jangan buat semua jadi makin rumit!" Sentak Alfa menatap Agya hingga matanya melotot sempurna.
Lalu Alfa kembali melihat ke arah Ayla.
"Ayla!" Serunya mencoba melepaskan diri Agya.
Ayla tak bergeming, terus melangkah tanpa menoleh meski ia sendiri kesulitan menggeret koper yang berat dan menggendong Uwais yang masih tertidur.
Ayla tetap berusaha tegar meski hati dan pikiran nya hancur dan kalut.
Langkah kaki Ayla harus terhenti saat tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depannya.
Ayla tertegun melihat Roxy keluar dari sana dan membukakan pintu penumpang belakang.
Ayla masih terkejut melihat kemunculan Roxy yang tiba-tiba itu.
"Ayla!" Seru Alfa yang mulai lepas dari pegangan Agya dan berlari mendekat.
Ayla tak ingin menoleh lagi, Ayla masuk kedalam mobil Roxy. Sementara salah satu orang Roxy membawa travelbag milik Ayla.
Alfa semakin dekat. Roxy melirik Alfa dan tersenyum seperti mengejek. Lalu masuk kembali dalam kuda besinya.
Saat Alfa sudah semakin dekat. Mobil Alphard itu sudah membawa Ayla pergi. Alfa memukul udara dengan segudang kecewa dan kekesalan nya.
"Ayla!" Serunya menatap mobil hitam itu semakin jauh.
"Aaaarrrrrgggggg!!!"
***
Di sepanjang perjalanan, Ayla terus memeluk Uwais yang masih tertidur dalam pangkuannya. Ia sangat ingin menikmati momen ini. Apalagi, Alfa sudah berusaha memisahkan mereka tadi.
Roxy hanya melirik kecil ke jog belakang. Ia biarkan tanpa ingin menganggu Ayla yang sedang nyaman memeluk anaknya.
Ayla memandang bangunan di depannya. Untuk kedua kalinya ia menginjakkan kaki di sana. Roxy menyentuh punggung Uwais yang mulai terbangun. Lalu mengambil alih mengenggongnya.
"Papa?"
__ADS_1
Roxy mengulas senyum. "Kamu bilang ingin tinggal di sini kan?"
Uwais yang baru saja bangun dari tidurnya masih belum mengerti apa yang sedang terjadi. Wajah bantal itu masih tampak sangat mengantuk.
"Ayo masuk dan tidur."
Roxy melangkah menapaki teras mansionnya.
Ayla memaku di tempatnya berdiri. Sementara dua orang wanita yang selama ini mengikuti dan mengawasi Ayla diam-diam berdiri di belakang Ayla dengan koper yang tadi sempat mereka amankan. Mempersilahkan wanita cantik itu untuk melangkah masuk mengikuti Tuan Roxy.
Ayla ragu, tak mungkin ia akan bermalam di sana. Sementara dirinya dan Roxy tak memiliki hubungan apapun yang membolehkan untuk bermalam seatap bersama. Terlebih beberapa sikap mesum Roxy padanya masih terbayang dalam ingatan nya walau samar. walau tertutup oleh sikap manis dan perhatian dari Roxy untuknya dan Uwais.
"Masuklah dulu nona." Ucap wanita berbaju hitam di belakang Ayla."jika ada keluhan masih bisa di bicarakan nanti di dalam. Tuan Roxy sudah menunggu."
Ayla melangkah juga akhir nya. Di ruang utama yang sangat luas itu Ayla duduk di samping kopernya. Ayla memandang berkeliling, entah kemana Roxy dan Uwais pergi.
Di ruangan itu hanya ada Ayla dan seorang kepala pelayan bernama Pitung. Pria setengah abad itu menuangkan teh Jasmin ke dalam cangkir di depan Ayla duduk.
"Ummm.... Di mana tuan Roxy."
Pitung menatap Ayla sebentar lalu tersenyum.
"Tuan Roxy sedang menidurkan tuan muda Uwais."
"Di mana? Bolehkan aku ke sana?"
Pitung tersenyum kecil.
"Sebentar lagi tuan kembali untuk menemui anda." Ucap Pitung lalu berlalu memasuki pintu suatu ruangan yang lebih dalam.
Tak lama Roxy ke luar. Ayla langsung berdiri.
"Di mana Uwais?"
"Tidur di kamarnya."
"Aku akan membawanya, di mana...."
"Tinggallah di sini Ayla." Potong Roxy sebelum Ayla menyelesaikan kalimatnya.
"Tinggallah di sini..."
_______
Temen-temen, berkomen yang baik ya, kurangi umpatan, jika sangat nggak tahan pingin ngumpat, di akalin aja pake Doble huruf atau spasi. biar komen kalian nggak di tenggelamkan sama sistim. Sedih hati othor banyak komen yang tenggelam oleh sistem.
Terima kasih atas pengertiannya. Tetep dukung othor ya.😘
semangat berhari Minggu.
__ADS_1