Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu
bab 57


__ADS_3

Pagi itu wajah bu Rohman sudah di tekuk-tekuk. Pasalnya, pagi-pagi sekali Roxy sudah bertamu, dengan membawa sekeranjang sayur dan beberapa daging ayam berserta perbumbuan.


"Pagi-pagi kok sudah datang ke sini? Apa tuan Roxy ini sangat senggang?" Tanya Bu Rohman tak ramah.


"Kebetulan tadi pas joging saya melewati pasar, jadi skalian ke sini."


Bu Rohman mencebik, lalu mengulak-alik bahan makanan di atas meja yang Roxy bawa. Sengaja memang, karena Roxy tak ingin keluarga Ayla mempertanyakan bahkan menolak jika dia memberi makanan yang sudah matang. Dengan alasan tidak tau halal atau tidak.


"Daddy!" Uwais berseru dari dalam dan langsung memeluk Roxy tanpa canggung.


Netra Bu Rohman melebar.


"Kangan sama Daddy."


"Daddy juga, Is." Roxy mengangkat tubuh Uwais tinggi-tinggi dan berputar, hingga bocah itu menjerit-jerit kegirangan.


"Akrab juga dia dengan Uwais." Gumam Bu Rohman melengos."Tapi dasarnya Uwais saja yang gampang akrab pada orang-orang." Lanjut emak bergumam masih mencari hal yang tak spesial dari Roxy.


"Wah, pagi-pagi sudah ke sini mister." Sapa tetangga Bu Rohman di depan rumahnya yang kebetulan bersebelahan dengan rumah Bu Rohman.


Roxy tersenyum ramah. "Lagi usaha meluluhkan calon mertua, mbak."


"Eehh, kok embak sih? Udah emak-emak nih."


"Oohh ya? Masih muda ya? Saya pikir embak."


Bu Rohman cebik."mulutnya manis banget, dasar tukang rayu." Bu Rohman bergumam sendiri.


"Wah, di bawain sayur buk? Sama calon mantu? Beruntung ya? Udah ganteng, ramah, baik lagi." Tetangga memuji melihat Bu rohman masih mengolak-alik keranjangnya.


"Namanya aja lagi nyari perhatian buk, ya wajarlah. Tau nanti kalau udah jadi beneran... Bisa aja nanti anak saya di sia-siain." Sahut Bu Rohman bersungut.

__ADS_1


"Mister Ini baik kayaknya Bu."


"Alah, kovernya aja itu. Paling juga sama kayak Alfa."


Roxy hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun. Lebih memilih bermain dengan Uwais.


Seperti yang Supri bilang, "yang namanya calon mertua itu nggak ada salahnya. Kalau salah balik lagi ke kalimat awal. Jadi, biarkan saja, cukup tunjukan dengan sikap yang baik.Namanya juga meluluhkan hati mertua."


Kata-kata itu Roxy pegang dengan erat. Meski sebenarnya, Roxy tak terima di samakan dengan Alfa.


"Mister sudah datang, masih pagi ini. Baru jam 6 lewat dikit." Bapak yang baru saja dari melihat ladang menyapa dari depan rumah.


"Iya pak, sekalian joging." Jawab Roxy ramah.


"Uwais udah bangun. Tumben." Bapak berganti melihat cucunya yang asyik di dalam gendongan Roxy.


"Tadi dengar suara Daddy."


"Daddy?" Bapak terperangah.


Seusai sarapan bersama. Bapak mengajak Roxy untuk ikut mengairi sawah. Tentu saja Roxy tidak menolak, terlebih itu hal yang baru baginya.


"Ibuk aja yang kirim, ay. Kamu jaga warung." Ucap Bu Rohman tak ingin Ayla dan Roxy lebih sering bertemu. Walau bagaimanapun, Bu Rohman lebih suka pada Avan yang jelas seiman dan sama-sama orang pribumi. Berbeda dengan Roxy yang jelas orang luar dan di ragukan keyakinannya. Sayang, Avan sudah memiliki calon.


Sesampainya di sawah, tampak ada begitu banyak orang berkerumun di sana. Rata-rata emak-emak dan anak gadis. Entah apa yang mereka lakukan hingga begitu ramai.


Bu Rohman yang kepo, mendekat pada kumpulan emak-emak yang sedang menggelar tikar sambil makan rujak. Enak benar, panas-panas makan rujak.


"Waahh, lihat mister itu, udah ganteng, badannya bagus lagi." Kata salah satu emak yang melihat Roxy sedang bertelanjang dada ikut membuka jalur airan sawah yang sempat di tutup.


"Iya, mengkilat kena keringat. Jadi seksi." Sahut emak yang lain terkekeh genit.

__ADS_1


"Ck! Itu nggak menjamin kebahagiaan dunia akhirat Bu, ibu." Bu Rohman mencibir menimpali.


"Cie, yang punya calon mantu....."


"Weh, Bu. Kalau badannya bagus kek gitu kan, bisa ngebahagiain di kasur..." Seloroh emak berdaster yang lain lagi.


"Huuuhh, siapa tau barang nya kecil." Bu Rohman melengos.


"Jangan salah Bu, Yang import biasanya wooww lohh.."


Emak-emak yang berkumpul menyahut dengan gelak tawa.


Wajah Bu Rohman tiba-tiba malu sendiri."astaghfirullah, ini pada bicarain apa sih?"


Bu Rohman berlalu meninggalkan kumpulan emak-emak tukang gosip.


"Bu, kalau nggak mau, buat saya aja itu mas mister." Seru satu emak tetangga depan rumah Bu Rohman.


Bu Rohman melengos tak perduli.


"Pak! Makan!" Suara Bu Rohman memanggil suaminya. Lalu meletakkan kiriman dalam bakul di bawah pohon mangga.


"Iya Mak e."


Tanpa menunggui, emak pulang. Hingga azan Zuhur berkumandang. Emak membersihkan diri dan berangkat ke masjid.


"Tumben rame." Gumam Bu Rohman karena melihat emak-emak dan anak gadis banyak yang datang ke masjid. Sangat tidak biasa, apalagi di waktu tengah hari seperti ini.


"Loh? Bapak? Tumben zuhuran di masjid."


"Mumpung ada temannya, Mak." Jawab pak Rohman sembari menunjuk Roxy yang baru selesai berwudhu.

__ADS_1


Emak mencebik.


"Astaghfirullah, niat betul dia sama anak ku."


__ADS_2