
Alfa menyetir menuju lokasi playgrup yang sudah di sebutkan oleh kakek Yaris. Di persimpangan, Alfa membuka hp untuk melihat wajah cuci dari sang majikan.
Tepat saat Alfa hendak menekan tombol lihat gambar pada pesan yang dikirim ke nomor gawai nya, lampu merah di persimpangan sudah berganti hijau. Memaksa Alfa untuk meletakkan kembali gawainya.
Sesampainya di depan gerbang playgrup, Alfa mendorong pintu di sampingnya sembari membuka lagi gawai nya. Mata Alfa melebar, jantungnya tiba-tiba saja seperti berhenti berdetak. Tubuhnya serasa sangat lemas dan syaraf seperti tak berfungsi lagi.
Layar di ponselnya terpampang wajah Uwais. Anak semata wayangnya.
"Uwais.... Uwais..." Sebut Alfa, tubuhnya terdorong kebelakang hingga membentur samping mobil, karena kaki nya terlalu lemah untuk menopang.
"Uwais..." Air mata Alfa lolos begitu saja di pipi, bahu nya trus berguncang seiring suara tangisnya yang terdengar pilu.
Dari arah gerbang, terdengar suara lembut yang sangat dia kenal.
"Ayah..."
Sontak Alfa melihat ke sana. Uwais berdiri di belakang gerbang playgrup.
"Ayah Alfa...."
Air mata Alfa semakin deras berderai. Dengan cepat, Alfa mengusap nya dengan punggung tangan. Mencoba bernafas dengan mulutnya karena hidungnya terasa tersumbat. Alfa mengatur nafas dan hatinya yang sudah tak karuan.
"Uwais..."
Alfa berjalan mendekat sambil sesekali menghapus air matanya. Lalu berjongkok karena melihat Uwais berlari menerjang dan memeluknya.
"Ayah, aku kangen. Kenapa nggak pernah menemui is?" Tanya Uwais manja sekaligus merajuk."Unda bilang ayah kerja, nggak boleh ganggu."
"Maafkan ayah, Uwais." Alfa memeluk erat anak yang di rinduinya. Mengusap lembut kepala bocah empat tahunan itu. Air matanya lolos lagi, dengan cepat Alfa mengusap dengan punggung tangannya.
"Ayah, sedang apa di sini?" Tanya Uwais begitu pelukan mereka terlepas.
"Ayah jemput kamu, nak."
"Ooh ya?" Mata Uwais berbinar senang, tentu itu semakin mengiris hati Alfa yang sadar selama ini telah abai pada malaikat kecil itu.
Namun, raut wajah Uwais berubah."aku sudah ada supir yang jemput, ayah." Katanya sedih.
Alfa tersenyum meski netranya masih terasa sangat panas dan perih."iya, itu ayah, Uwais. Ayha yang jemput kamu. Tuan Yaris yang minta."
Wajah polos itu tiba-tiba berubah gembira lagi.
"Benarkah?"
Alfa mengangguk menahan haru sekaligus perih di hatinya. Memberi senyuman teriklasnya pada sang buah hati. Setidaknya, Alfa harus merasa bersyukur, Uwais tak kurang kasih sayang.
"Ya sudah ayah, ayo kita pulang. Kakek Yaris baik deh kirimkan ayah buah jemput is."
Seketika, ada rasa takut terbersit di hati Alfa. Takut jika tuannya tau jika dia adalah ayah Uwais lalu memecatnya. Ia kehilangan pekerjaan sekaligus kesempatan untuk kembali dekat pada anaknya.
"Uwais?" Panggil Alfa begitu mereka dalam perjalanan kembali ke mansion kakek Yaris.
"Iya ayah?" Uwais yang sedari tadi berceloteh riang tentang kehidupan nya menoleh menatap sang ayah.
__ADS_1
"Bolehkan ayah meminta satu hal padamu?"
"Apa yah?"
"Maukah kamu menjadikan ayah sebagai ayah rahasiamu?"
"Ayah rahasia?" Tanya Uwais polos.
"Heemmm... Jadi, hanya is dan ayah yang tau. Yang lain tak boleh tau."
"Kakek Yaris tak boleh tau?"
"Heemm..."
"Unda juga?"
"Heemm..."
"Daddy juga?"
Seketika, rasa sesak dan perih terasa menghantam dada Alfa."Heemm."
"Yaaahh, padahal aku mau bilang sama unda. Pasti unda senang, Daddy juga."
"Jangan katakan pada mereka. Dan jangan panggil ayah, Ayah. Oke?" Walau terasa sangat berat dan hati yang semakin tak karuan, Alfa terpaksa meminta hal itu. Agar Tuan Yaris tidak memecatnya dan melarangnya untuk bertemu dan lebih dekat dengan Uwais. Meski hanya sebagai sopir, Alfa rela.
Wajah Uwais berubah sendu. "Kenapa?"
Mata Alfa serasa panas, pandangan mulai kabur oleh genangan di pelupuk matanya. Rasa bagai tertindih benda berat di dadanya semakin menyesakkan, hingga membuat tenggorokannya sakit dan tercekat.
Uwais terdiam dan termenung. Terlihat jelas bocah itu sangat bersedih dan kecewa.
"Janji?"
Tak ada sahutan apapun dari Uwais, Alfa sadar jika anaknya itu pasti sangat kecewa.
"Uwais, masih ingin bertemu dengan ayah, kan?"
Uwais mengangguk lemah.
"Kalau begitu, ayo kita main ayah rahasia. Jangan biarkan, kakek, Daddy, dan juga unda tau. Huumm?" Ucap Alfa lirih menahan sakit di dada dan air matanya."Jika mereka tau, mungkin nanti, kita tak akan bisa bertemu lagi."
"Kenapa?"
"Kamu tau kan? Ayah dulu pernah berbuat jahat pada unda? Juga pernah membuang mainan Uwais? Unda, dan Daddy masih marah pada ayah... Janji? Main ayah rahasia dengan ayah?"
.
.
.
.
__ADS_1
Hari ini, Ayla duduk menunggu di Kopi Manis, menanti sang adik datang. Ia memainkan hpnya sembari menunggu, seorang pelayan datang membawa satu es kapucino lalu meletakan di depan Ayla. Tak lama Cayla muncul.
"Mbak!"
Ayla mendongak melihat Cayla mendekat lalu duduk di depannya. Meraih es kapucino dan menyeruputnya dari sedotan.
"MMM..... Seger...."
Ayla menggeleng dan tersenyum melihat kelakuan adiknya. Lalu menyodorkan paperbag pada adiknya.
"Ini oleh-oleh buat ku, mbak?"
Ayla mengangguk. Sedangkan Cayla membuka paperbag itu untuk melihat isinya.
"Wah, bagus banget mbak bajunya..." Ucap Cayla setelah membentangkan baju pemberian kakaknya. "Yang ini coklat ya mbak?" Tanya Cayla mengambil satu toples berbentuk love dari dasar paperbag dan menunjukan pada kakak nya.
"Heemm...."
"Oke deh. Makasih ya mbak." Kata Cayla lagi memasukkan semua oleh-oleh dari Ayla ke dalam paperbag lagi. Lalu memindahkan nya ke kursi sebelah.
"Mbak Ayla makin gemuk aja deh. Tuh, pipinya makin cabi abis bulan madu. Apa keponakanku sudah mulai tumbuh di perut embak?"
Ayla mengulas senyum malu.
"baru juga balik, masak udah hamil." Jawab Ayla mengerucutkan bibirnya.
"Mana tau mbak, tok cer! Langsung jadi. Ha-ha-ha..."
Setelah sempat bercakap-cakap sebentar dengan Cayla, Ayla langsung menuju rumah kakek Yaris untuk menjemput Uwais. Skalian memberi oleh-oleh milik kakek tua itu.
Ayla melangkah memasuki pintu utama siang menjelang sore itu. Seorang kepala pelayan menyambutnya begitu masuk.
"Di mana kakek dan Uwais?"
"Tuan besar sedang pergi nyonya."
"Oohh, kalau Uwais."
"Tuan muda ada di taman samping."jawab kepala pelayan."nyonya ingin minum sesuatu?"
"Tidak usah, aku baru saja minum kopi."
"Baik."
"Aku, langsung temui Uwais saja."
"Baik, perlu saya antar?"
"Tidak usah, terima kasih."
Kepala pelayan pergi, sedangkan Ayla melangkah menuju taman samping. Tentu saja setelah meletakkan bawaaannya di ruang santai.
Sayup, Ayla mendengar suara yang cukup ia kenal. Jantung Ayla mengentak keras. Ia sangat hapal suara itu diselingi oleh suara tawa Uwais. Tubuh Ayla pun tiba-tiba serasa tegang dan lemas. Sebelum ia sempat melangkahkan kakinya keluar, dari balik pintu kaca, Ayla bisa melihat Uwais yang sedang menaiki mobil mini. Tak jauh darinya, Alfa berdiri memegang remot kontrol.
__ADS_1
"Mas Alfa..."