
Raize duduk di ruang utama mansion milik Roxy tinggal. Duduk dengan wajah yang sedikit tegang. Di depannya, duduklah kakek Yaris yang terlihat agak geram. Pria tua itu menatap Raize dengan cukup tajam.
"Kenapa kamu lakukan itu?" Tanya kakek Yaris setelah teerdengar suara helaan nafasnya.
"Lakukan apa kek?"
"Jangan berpura-pura bodoh! Aku tau semua itu ulahmu! Kenapa kau sengaja membuat kakek pergi meninggalkan acara resepsi Roxy?" Sentak kakek Yaris yang mulai kehilangan kesabaran nya. Menunjuk-nunjuk ke arah Raize dengan tongkatnya.
"Tenang, tenang, kakek. Kakek sudah tua, tidak baik marah-marah seperti itu. Ingat darah tinggi."
"Kurang ajar! Kau lah penyebabnya masih bisa berkata seperti itu?" Kakek Yaris makin kesal di buatnya. Wajah Raize sedikitpun tidak memancarkan rasa bersalah.
"Katakan! Apa tujuan mu melakukan semua itu!" Sentak kakek Yaris, semakin meninggi suaranya.
Raize tersenyum lebar tanpa dosa.
"Aku hanya menguji kakek."
"Apa?" Mata kakek Yaris melebar mendengarnya.
"Aku hanya ingin tau, mana yang lebih penting, Roxy atau Yaris grup..."
"Bangsat kamu Raize!" Kakek Yaris makin kesal dengan jawaban enteng Raize.
Pria tua itu berdiri sembari mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. Bersiap untuk memukul Raize dengan benda panjang itu. Namun, Raize sudah berlari dengan cepat di belakang sofa.
"Kemari kau, kutu busuk!"
"Tidak mau! Nanti kakek memukulku."
"Kurang ajar! Akan ku cincang kau malam ini!" Kakek melangkah cepat. Mendekati Raize yang terus menghindar mengelilingi sofa. Siapa juga yang mau kena pukul tongkat sang kakek.
"Grrrrr....." Gigi kakek Yaris bergemelutuk, terus menggeram oleh sikap Raize yang licin seperti belut. Dokter muda itu sangat pandai menghindar.
Para pelayan memang tak terlihat karena melihat wajah geram kakek Yaris memilih menjauh dari pada terlibat. Mereka sudah sangat hapal jika pasti akan terjadi keributan. Salah-salah mereka bisa di minta menangkap Raize. Dan dengan sangat menyebalkan dokter muda itu akan menghukum dengan sesuatu yang sangat tidak masuk akal. Karena itu, mereka memilih menjauh dari rumah utama.
Kakek Yaris yang sudah tua, mulai ngos-ngosan.
"Kakek, sudahlah. Kakek sudah tua. Alangkah baiknya jika kakek duduk diam dengan manis di sana. Huuumm?" Raize membujuk sembari menunjuk sofa dengan tangannya. Agar sang kakek berhenti mengejar dan mengacungkan tongkat ke arahnya.
"Apa kau bilang?" Kakek Yaris makin geram di buatnya. Jika belum mendapatkan satu saja pukulan di tubuh Raize, kakek Yaris tak akan puas. Harus ada satu luka untuk menuntaskan kekesalannya.
"Kemari kau kutu busuk!"
"Tidak mau kakek, aku masih waras, jika ke sana aku pasti kena pukul."
__ADS_1
"Kau memang pantas mendapatkan nya."
Dari pintu Roxy baru saja masuk bersama Ayla dan Uwais. Kebetulan Raize memunggungi mereka jadi, ia tak melihat. Kakek Yaris tersenyum menang dan licik.
"Roxy tangkap kutu busuk ini untukku."
Raize terkejut mendengarnya, segera menoleh. Namun, secepat itu Roxy menyergap Raize dari belakang sebelum Raize menyadari dan melangkah kabur.
"Sialan! Lepaskan aku!" Raize mengumpat-umpat mencoba meloloskan diri. Sementara Roxy yang memang senang melihat Raize panik ia menjadi sekutu sang kakek terus tertawa lebar meski ia sendiri tak tau permasalahannya apa.
Kakek Yaris mendekat, Raize pun semakin histeris. Hingga tongkat sang kakek melayang di tubuhnya. Paha, pipi, dan terakhir kakek menarik telinga Raize.
"Aaagggg!!! Kakek! Ini keterlaluan!" Pekik Raize memprotes pasrah.
Roxy tertawa sangat lebar menikmati siksaan yang di terima sepupunya. Lalu melepaskan kuncian nya. Sedangkan Ayla dan Uwais hanya terbengong melihat kelakuan keluarga baru mereka yang sedikit absurd.
Kakek Yaris baru tersadar dengan kehadiran Roxy. (Padahal sudah meminta bantuan dia tadi kan? Dasar kakek!)
Memandang Ayla dan Uwais dengan malu telah mempertontonkan hal yang hanya terkhusus untuk keluarga itu.
Kakek Yaris berdehem sembari mengepalkan tangan di depan mulutnya.
"Kalian sudah kembali! Kakek menantikan cukup lama." Ucap kakek Yaris merentangkan tangannya dengan wajah yang sangat ceria, berbeda dengan beberapa menit yang lalu. Kakek berjalan ke arah Ayla dan Uwais.
Uwais yang sempat melihat adegan kakek Yaris yang memukul Raize mendongak menatap bundanya. Tentu saja bocah itu merasa sedikit aneh dan takut pada kakek, meski tak pernah memukulnya, tapi pemandangan tadi cukup membuat Uwais sedikit kaget. Ayla tersenyum kecil pada bocah kecil itu.
Uwais mengangguk samar membiarkan sang kakek buyut memeluknya lalu mencium tangan keriput namun masih tetap kuat itu.
"Kakek tau kalian akan kembali hari ini, jadi kakek sengaja datang menunggu." Ujar kakek Yaris senang memeluk gemas Uwais.
Ayla pun tak lupa menyalami dan mencium tangan kakek Yaris takzim.
Sementara dua saudara bersaudara itu hanya berdiri bersisihan melihat ke arah yang sama. Kakek dan Uwais dalam pelukannya.
"Bagaimana rasanya?" Tanya Raize setengah meledek.
"Apa?"
"Kau tau lah maksudku. Apa benda mu bekerja?"
"Tentu saja." Roxy menjawab acuh.
"Bagaimana rasanya?" Raize bisik di depan telinga Roxy.
"Tentu saja, berkali lipat lebih menyenangkan daripada mereka yang biasa menemanimu setiap malam..." Jawab Roxy menyeringai.
__ADS_1
"Benarkah?? Aku jadi ingin mencobanya..."
Seketika kaki Raize merasakan sakit yang luar biasa oleh tendangan Roxy.
"Akkkhh ...."
Raize memegangi dan menggosok-nggosok kakinya yang sakit.
"Aku hanya bercanda brengsek!" Protes Raize menatap Roxy kesal.
"Lain kali pilih candaan yang tepat." Jawab Roxy dingin.
Sesaat duanya berada dalam keheningan. Hanya memandang Uwais dan kakek Yaris yang heboh entah oleh apa. Ayla pun sudah memilih duduk tak jauh dari anaknya.
"Jadi, kau sudah sembuh, haahh?"
"Aku tidak tau. Aku hanya bereaksi padanya."
"Benarkah? Itu kutukan yang mengerikan."
"Raize! Kau ini dokter, tak bisakah kau hanya bermain dengan satu wanita?"
"Ha-ha-ha, kau tau aku ini dokter. Tentu saja aku tau apa yang aku lakukan agar tetap aman." Jawab Raize mengejek.
Roxy menggeleng malas dengan sikap Raize. Pada dasarnya mereka memang berbeda. Jika Raize masih bisa menerima minuman beralkohol ataupun bermain dengan banyak wanita. Tidak dengan Roxy.
Suami Ayla itu sejak masih muda tak suka merokok ataupun minum-minum keras, apalagi sampai bermain wanita. Meski semua yang di milikinya sangat mendukung. Baginya, bermain dengan wanita sama saja melecehkan ibunya sendiri. Dan mabuk, Roxy pun tau minuman beralkohol sangatlah tidak sehat bagi tubuhnya, begitupun dengan rokok. Hingga ia menghindari ketiga hal itu meski sering berkumpul dengan teman ataupun keluarga. Apalagi, ia memiliki masalah eraksi.
"Kapan kalian akan berbulan madu?" Tanya kakek begitu Roxy ikut bergabung dan duduk di sisi istrinya.
"Kakek mau menjaga Uwais untuk kami?"
"Tentu saja. Kami sudah punya rencana sendiri. Benarkan, Uwais?"
Uwais mengangguk senang. Kakek Yaris banyak menjanjikan dan mengimingi bocah empat tahunan itu. Kakek Yaris memang pandai mengambil hati Uwais. Karena pria tua itupun sudah terlanjur tertawan oleh pesona bocah kecil dalam pangkuannya.
"Kakek sudah menjadwalkan keberangkatan nya besok. Jadi, kami akan pergi besok."
"Besok? Apa kalian tidak lelah?" Tanya Raize, karena keluarga kecil itu baru saja datang malam ini. Besoknya sudah mau pergi lagi.
"Tidak. Kamu punya obatnya." Jawab Roxy memandang Ayla lekat, senyum di wajahnya pun tak pernah lepas.
"Apa? Memangnya apa obatnya?"
"Itu rahasia pria beristri."
__ADS_1
Raize mencebik. "Aku sudah merasakannya. Bukannya menjadi obat malah tambah lelah."
"Beda! Karena kami sudah menikah. Menikahlah, kau akan tau..."