Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu
bab 86


__ADS_3

Sebenarnya, kita tak harus sekamar Bisa kan?" Tanya Kayla begitu Raize bersiap tidur di sofa kamarnya.


"Kenapa?"


"Aku tidak nyaman tidur di kamar yang sama dengan seorang pria."


Raize terdiam, ada getaran tak menyenangkan yang menusuk-nusuk hatinya. Kenapa ada wanita yang merasa tak nyaman berada dalam satu kamar dengannya. Selama ini, merekalah yang merangkak naik ke atas ranjangnya. Kayla benar-benar berbeda.


"Selama kakek menginap di sini, kita tidak bisa pisah kamar. Dia akan curiga nanti." Ucap Raize beralasan. Karena ia sendiri ingin lebih lama dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama gadis yang kini berbaring di atas ranjangnya.


"Apa kamu tak bisa membujuknya?"


Raize terdiam lagi, kenapa Kayla harus terus memintanya untuk melakukan hal yang tidak ia mau.


"Baiklah. Sekarang tidur lah."


Kayla mencoba memejamkan mata walau masih tak bisa tidur. Bukan hanya perkara tidur dalam satu kamar dengan Raize, namun, ia juga mengkhawatirkan perasaannya sendiri. Kayla sangat sadar, hal yang paling tidak Konsisten pada wanita adalah perasaan. Ia takut jika terlalu sering berinteraksi dengan Raize, justru dirinya lah yang menjatuhkan hati pada pria tampan itu.


Kayla tak mau terjerat oleh seorang pemain, yang pasti hanya akan membuat perasaan dan hati Kayla menderita. Sebisa mungkin ia harus menekan perasaan dan kemungkinan rasa itu tumbuh.


Malam itu, Raize membuka matanya. Ia berjalan di sisi ranjang. Memandang wajah ayu alami Kayla. Gadis itu telah menyihirnya dalam sekejap mata. Awalnya tak berasa, kini jadi cinta. Entah sejak kapan rasa itu melonjak naik, mungkin sejak Kayla melindunginya. Atau mungkin karena melihat luka lebam di tubuh gadis itu? Atau mungkin karena berada dalam satu kamar yang sama. Entahlah, Raize tak tau. Saat ini ia hanya ingin lebih sering dan lebih lama menikmati wajah tidur istri bohongan nya.


###


Pagi itu, Ayla merasa pusing, seluruh kamarnya mendadak berputar mengelilingi. Membuat rasa mual di perut Ayla. Wanita yang pernah menjanda itu memaksa tubuhnya untuk bangkit dari ranjang. Menyeret dengan sisa kekuatan nya ke kamar mandi. Isi perutnya sudah bergejolak ingin di muntahkan.


Bruk!


Ayla terjatuh di kamar mandi, beruntung ia masih sempat menahan dengan tangannya. Hingga ia tidak terjerembab terlalu keras.


"Aaahh..."


Kepala Ayla makin terasa berputar. "Dad!"


Rocky muncul dengan tergesa dari pintu kamar mandi. Wajahnya tampak sangat cemas, melihat Ayla yang terduduk di lantai bergegas ia menuntun dan membantu Ayla bangun.


"Apa yang terjadi?"


"Kepalaku pusing, aku mau muntah."


"Aku tuntun ke kloset."

__ADS_1


Setelah memuntahkan semua isi perutnya, Ayla kembali ke kamar dengan di bantu oleh Rocky.


"Kita ke dokter saja." Ajak Rocky setelah Ayla merebah di ranjang.


"Aku hanya masuk angin."


"Iya, kamu masuk angin. Tetap saja, kita kedokter."


"Kamu kerja saja. Aku bisa kesana sendiri."


"Tidak apa. Aku antar. Aku suamimu, tak akan ku biarkan kamu kesana sendiri." Ucap Rocky mulai mempersiapkan diri. Karena ia masih memakai pakaian tidur.


Setelah mengganti bajunya dengan kemeja dan celana panjang. Rocky menggendong Ayla ke mobil nya meminta Supri untuk segera ke rumah sakit. Begitu tiba di umah sakit, Ayla periksa oleh Dokter.


"Hmmm... Sejak kapan mual nya?"


"Baru pagi ini, dok." Jawab Ayla jujur, "pusing juga baru pagi ini. Saya pikir mungkin saya darah rendah."


"Iya, tensi ibu memang rendah." Ucap dokter itu."kapan terakhir kali ibu menstruasi?"


Ayla terperangah, menatap sang dokter. "Apa mungkin saya..."


Dokter itu tersenyum, "jadi ibu belum memeriksa nya sendiri?"


"Ada apa ini?" Rocky yang mulai kehilangan kesabarannya.


"Sepertinya, ibu Ayla sedang hamil, kita bisa melakukan pemeriksaan lebih lanjut." Ungkap dokter itu.


"Hamil?"


"Benar, kita lakukan sesuai prosedur pemeriksaan dulu agar lebih yakin."


Ada rasa bahagia yang tak terkira muncul di hati pria bule itu. Senyum Rocky terus mengembang tanpa bisa dia tarik turun ke bawah.


Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan kehamilan, akhirnya hasil menyatakaan bahwa Ayla tengah berbadan dua. Yuforia kebahagiaan terpancar di wajah Rocky hadiah terindah telah ia terima setelah Ayla.


"Jadi, istri saya beneran hamil, dok?"


"Iya, sesuai dengan hasil pemeriksaan yang anda terima, tuan." Jawab sang dokter kandungan.


"Lalu, apakah kami tetap bisa melakukan nya?" Rocky bertanya dengan sangat hati-hati. Mendengar pertanyaan Rocky, Ayla merasa malu. Wajah nya bahkan sampai memerah karenanya.

__ADS_1


"Untuk hubungan suami-istri, untuk sementara di tahan dulu, paling tidak setelah tiga bulan. Saat itu kandungan sudah lebih kuat."


"Aahh, begitu ya?" Ada gurat kecewa di wajah Rocky, namun itu hanya sebentar. Karena segera berganti dengan senyum kebahagiaan atas kehamilan Ayla. Hal yang memang dinantikan semua orang.


###


"Aku yakin Uwais pasti senang mendengar ini." Ucap Rocky penuh kebahagiaan, dari rumah sakit hingga dalam perjalanan pulang pun ia tak sedikit pun berhenti tersenyum. Tubuhnya terus memeluk sang istri dan menghujani Ayla dengan kecupan kecil di wajah.


"Tuan, apa mbak Ayla hamil?" tanya Supri yang kini duduk di belakang kemudi. ia tetap fokus melihat di depan.


"Iya." Angguk Rocky bersemangat.


"Waahh, selamat ya mbak, tuan mister." Ucap Supri ikut senang.


"Terima kasih, pak." Ucap Ayla tulus.


"Iya mbak, saya juga turut senang, mas Uwais jadi punya teman bermain nanti di rumah."


Ayla tersenyum, ia sama bahagianya saat ini. Menyenderkan kepalanya di dada sang suami.


Sesampai nya di rumah, kabar bahagia itu pun di sampaikan pada Uwais, seluruh penghuni dan pelayan. Rumah itu kini menjadi lebih hangat dan ramai. Rocky juga mewanti-wanti agar semua kebutuhan gizi Ayla dan jabang bayinya terpenuhi.


"Daddy, kenapa kamu sangat berlebihan?" Ayla memprotes saat mereka berada di peraduan malam itu.


"Berlebihan bagaimana?" Rocy balik bertanya, ia mendekap erat tubuh istrinya. Dan mencium punca kepala Ayla.


"Aku ingin memberikan yang terbaik untuk anak kita. Jadi, kamu menurut saja. Huumm?"


"Baiklah."


"Jika kamu menginginkan sesuatu, katakan saja. Aku akan berusaha menjadi suami yang siap siaga."


Ayla tak mengatakan apapun lagi, ia hanya mengangguk patuh. Membalas pelukan dari sang suami, dan ia merasakan yang mengganjal di bawah sana.


"Sayang, apa kamu..."


"Apa?"


"Sepertinya, kamu berdiri."


"Berdiri apa? Aku sedang merebah di samping mu."

__ADS_1


"Aku bisa membantumu, bagaimana kalau..."


"Sssttt!!! Benda ini memang selalu begini jika ada di dekatmu. Abaikan saja." Ucap Rocky mulai memejamkan mata. Ia harus lebih kuat menahan diri demi si jabang bayi di dalam perut Ayla. "Tak masalah, hanya tiga bulan. Kamu pasti bisa Rocky." Gumam Rocky dalam hati menyemangati dirinya sendiri.


__ADS_2