
Tubuh Ayla tak bisa ia gerakan. Kaku, ia bahkan tak bisa mempercayai matanya sendiri. Tak pernah ia bayangkan akan melihat Alfa secepat ini di tempat yang tidak dia sangka. Rumah kakek Yaris.
Ayla membuka mulutnya mencoba bersuara, namun tercekat, seolah lidahnya kelu. Hingga ia hanya mematung saja.
"Uwais!"
Suara lain di belakang tubuhnya terdengar memanggil sang putra. Bocah di luar sana menoleh ke arahnya. Wajah sumringah Uwais terbit, lalu bergegas turun dari mobil mini.
"Daddy!" Sebut Uwais berlarian mendekat.
"Unda!"
Dengan cepat Roxy menggendong anak sambungnya mengangkat tinggi-tinggi dan berputar. Cepat Ayla tersadar, ternyata Roxy juga menyusul kesana.
Bocah berusia empat tahunan itu tertawa kegirangan.
"Daddy! Daddy! Turunkan aku...." Pekik Uwais di iringi tawa girangnya.
"Kamu nakal nggak seharian ini?"
"Enggak!"
"Oh ya?" Roxy menggemasi Uwais, mengayunkan tubuh mungil itu kesana kemari. Tentu saja tawa bocah itu mengiringi.
Roxy berbalik dan melangkah menjauh, sembari tangannya menggandeng Ayla. Sedangkan matanya melirik tidak senang ke arah luar.
Sementara itu, di balik tembok yang tersembunyi, Alfa bersandar. Menyentuh dadanya yang terasa sangat perih. Begitu mendengar suara Roxy, ia langsung melipir dan bersembunyi. Jangan sampai orang yang dia anggap sebagai pebinor dulu, sekaligus orang yang sudah memasukkan dirinya ke penjara menyadari keberadaan nya. Alfa tak ingin pekerjaan yang dia dapatkan susah payah hilang. Meski ia sendiri tak pernah menyangka, jika ia bekerja untuk keluarga Roxy. Lagi.
Di sisi lain hatinya yang terluka karena ia memang masih mencintai Ayla. Alfa bersyukur, melihat Orang-orang yang dulu sudah ia sia-siakan kini berbahagia dengan pria yang menyayangi.
Di kejauhan, dari pintu kaca, Alfa melihat keluarga kecil itu sedang bercengkrama di ruang santai. Ia tersenyum kecut. Hatinya terasa begitu nyeri melihat pemandangan itu.
Beberapa saat yang lalu ia begitu bahagia bisa bersama dengan Uwais. Bocah polos itu tidak membencinya meski ia pernah menyia-nyiakan. Dan kini, bocah itu sudah lupa dengan dirinya. Ditengah-tengah keluarga baru. Alfa terus menatap pada keluarga kecil yang sangat menyakitkan mata dan hatinya.
__ADS_1
Uwais yang berlarian lalu bersembunyi di belakang ibunya. Sementara Roxy seperti sedang mengejar bocah itu. Alfa tersenyum kecut lagi. Membayangkan dirinyalah yang berada di sana. Aahh, betapa membahagiakannya. Kini hanya sesal yang datang melanda.
Di tengah keributan di ruang santai, kakek Yaris masuk. Uwais yang menyadari kehadiran sang kakek berlarian mendekat.
"Kakek!" Serunya mencari perlindungan dari kejaran Roxy karena ibunya sedikitpun tak membantu.
"Ohohoho.... Cucuku..." Kakek Yaris ikut berseru, Uwais menubruknya dan langsung berada dalam gendongan kakek tua itu.
"Uwais! Turun! Jangan seperti itu pada kakek." Ayla menahan nada ucapannya namun terdengar sedikit meninggi.
"Kenapa, cucu menantu? Apa kamu sangat khawatir aku akan menjatuhkan cicitku karena tubuh renta ini?"
"Kakek..." Ayla mendekat dan mencium tangan kakek Yaris setelah pria tua itu menurunkan Uwais.
"Sudah lama aku tak melihatmu, kamu makin berisi saja. Apa cicitku yang lain sudah kelihatan hilalnya?" Kakek Yaris menggoda.
Ayla tersipu malu,
"Kami baru beberapa hari kembali dari bulan madu. Bagaimana mungkin secepat itu..." Roxy yang menimpali ledekan Kakeknya.
"Kakek! Jangan di depan mereka!" Protes Roxy yang di sambut tawa oleh sang kakek dan Ayla.
"Kakek, ini oleh-oleh untuk kakek." Ucap Ayla mengambil paperbag dan menyerahkan nya pada kakek Yaris.
"Terima kasih." Kata kakek Yaris sembari menerima nya."sebenarnya, bukan oleh-oleh ini yang aku nanti."
"Kakek, aku mau bicara." Ujar Roxy dengan nada yang lebih serius.
"Bicara, ya bicara saja. Kenapa harus begitu serius."
"Ke ruang kerja kakek saja." Roxy berjalan mendahului, lalu berbalik mendekat ke arah istrinya. Memberi Ayla kecupan panjang lalu berbisik lirih."Tolong buatkan aku makan malam." Lalu berbalik lagi melanjutkan langkahnya.
"Dasar bocah itu. Baru saja aku mau bermain dengan cucuku..." Kakek Yaris menggerutu berjalan mengikuti langkah Roxy.
__ADS_1
Di ruang kerja kakek Yaris.
"Kenapa dia ada di sini?" Tanya Roxy mulai menyuarakan kekesalannya melihat Alfa di taman samping tadi. Karena itu ia segera memanggil Uwais dan sengaja mempertontonkan keakraban nya.
"Dia siapa?"
"Kakek tau kan? Mantan suami istriku."
Kakek Yaris tersenyum tipis melihat Roxy menatap nya tajam.
"Kenapa? Kamu keberatan?"
"Apa rencana kakek?"
Kakek Yaris tersenyum tipis lagi, "aku tak punya rencana apapun nak. Hanya membalas budi."
"Membalas budi?" Dahi roxy mengerut.
"Heemm, pria itu sudah membantuku menangkap pencopet, kebetulan dia sedang mencari pekerjaan. Sudah hampir satu bulan lamanya dia menganggur setelah keluar dari lapas." Terang kakek Yaris.
"Aahh, kakek tau banyak ternyata..."
"Dia sendiri yang bercerita."
"hahahaha...." Roxy tertawa seolah tak percaya dengan penuturan sang kakek. Roxy sangat mengenal kakek Yaris."Dia mencoba menarik simpati mu. Aku sangat tidak suka dengan pria itu."
"Lalu kau mau apa? Menyingkirkan dia?"
"Aku tidak suka dia berkeliaran di sekitar Ayla juga Uwais."
"Kenapa kamu jadi begitu picik? Apa yang kamu takutkan? Justru menarik jika dia ada di sini. Lagi pula, jika istrimu setia, dia tak akan berpaling pada mantan suaminya."
Roxy tertawa lagi,
__ADS_1
"Aku akan menyingkirkan apapun yang membuka peluang dia tidak setia. Termasuk mantan suaminya."