
"Oohh, begitu? Baiklah kalau begitu. Lagi pula aku juga ingin tau bagaimana reaksi kakek Yaris jika tau!"
Seketika Raize berhenti. Menoleh pada Cayla dengan kesal.
"Apa kau sedang mengancamku?"
"Kita di posisi yang sama, dokter." Cayla melipat tangannya di dada, merasa yakin Raize akan mengikuti anjurannya."Aku harus mengikuti acara ini sampai selesai. Karena sudah melewatkan acara akad. Setidaknya aku harus muncul di acara resepsi nya. Sekarang, pikirkan cara untuk membawa kakek Yaris pergi. Atau, ayo kita hadapi mereka bersama. Jika kebohongan terbongkar kau tau konsekwensinya kan, dokter Raize?"
Senyum licik terukir di wajah Cayla. Ia sangat yakin, Raize akan membawa Sang kakek keluar dari gedung resepsi.
"Oke, kali ini aku ikuti kamu, bocah." Ucap Raize akhirnya."aku akan mengatur agar kakek pergi tanpa di curigai. Selama itu kamu jangan muncul."
"Lima belas menit, emak bisa mencincang ku jika lebih dari waktu itu tak muncul."
Raize kembali duduk di sisi kakek Yaris. Tak lama setelahnya, hp sang kakek berdering.
"Hallo?"
Hening sesaat, lalu terdengar suara helaan nafas panjang. "Baiklah, aku ke sana."
"Raize, bisakah kamu ke..."
"Tidak bisa kek, aku tak tau menahu tentang hal seperti itu." Potong Raize menolak.
"Kita tak mungkin meninggalkan resepsi Roxy."
"Kakek saja yang pergi, aku yang akan stand by di sini. Bagaimana?" Tawar Raize tanpa mengalihkan pandangan pada Panggung pelaminan yang sudah mulai duduk sang mempelai.
Kakek Yaris menghela nafasnya. Jika bukan hal yang mendesak, mana mau dia pergi dari acara penting seperti ini. Lalu, ia berjalan ke panggung untuk berpamitan dengan Roxy dan juga Ayla.
"Kakek mau pergi?" Tanya Roxy terperangah sedikit kecewa. Tak melepaskan jabatan tangan sang kakek.
"Iya, maaf ya. Ada hal mendesak di kantor." Ucap kakek Yaris menepuk lengan cucunya.
"Tapi Veloz tidak menghubungiku sama sekali jika ada hal mendesak." Roxy menyampaikan keberatannya dan merasakan adanya sedikit keanehan.
"Sudahlah, mungkin karena kamu mempelainya, dia tak ingin kamu khawatir." Kakek Yaris mencoba memberi pengertian."kamu kan sudah memberinya kuasa sementara. Percayakan semua padanya."
"Baiklah kek. Aku akan menyusul begitu acara ini selesai."
"Tidak perlu, kamu masih harus berbulan madu." Ucap kakek Yaris memeluk dan menepuk punggung cucunya. Lalu berganti menyalami Ayla.
"Tolong, awasi cucuku agar tak terlalu memikirkan masalah pekerjaan. Dia harus benar-benar membuatkan ku cicit segera."
Ayla tersenyum kecil, "baik kek."
__ADS_1
Kakek Yaris berjongkok, menatap sang cicit sambung. "Kamu jangan nakal ya? Kalau sudah kembali ke rumah, telpon kakek. Kakek kangen main sama kamu."
"Yes, kek." Sahut Uwais menempelkan tangan di dahinya.
"Ya sudah, kakek pergi dulu ya."
Setelah berpamitan dengan bapak dan emak Rohman. Kakek Yaris bergegas keluar dari tempat resepsi Roxy dan Ayla.
Setelahnya, memastikan kakek Yaris pergi. Barulah, Cayla duduk di barisan paling depan. Melambaikan tangan pada sang kakak yang kebetulan saat itu melihat padanya. Sementara Emak mendelik pada Cayla karena sedari tadi baru muncul sekarang.
"Kakek pergi kenapa kamu tidak ikut menyingkir?" Tanya Cayla menjadi Raize yang sedang mengambil bakso.
"Kami hanya menjaga perasaan sepupu jika sampai semua pergi. Apa kamu tidak berpikir sampai ke sana? Bukankah yang penting kakek Yaris pergi agar kamu bisa hadir di sini?" Jawab Raize tanpa menoleh. Mereka harus terlihat seperti dua orang yang tidak saling kenal meski berdiri bersisihan.
"Ya, ya, ya, baiklah." Cayla menanggapi sembari menjejalkan pentol bakso ke mulutnya."Aku sungguh tak habis pikir, bagaimana bisa kalian kerabat kakak ipar."
"Tidak usah memikirkan hal yang tidak penting. Yang penting sekarang kita aman."
Cayla menghela nafas panjang."Mereka akan tau cepat atau lambat."
"Kalau begitu, jangan sampai tau. Kita hanya perlu berpura-pura selama enam bulan. Setelah itu, kita berjalan di jalan masing-masing." Jawab Raize enteng, kemudian melangkah menjauh.
Cayla masih merasa terbebani."Semoga saja tidak ada kejutan lagi dimasa yang akan datang. Maafkan Kay, Mak, pak, mbak Ayla."
Di kamar pengantin di gedung yang sama dengan tempat Ayla dan Roxy menyelenggarakan resepsi.
Ayla mencoba membuka gaun pengantinnya. Agak susah karena memang retlesting nya berada di bagian punggung. Meski mencoba meraih berulang kali, ia masih saja kesulitan.
Tangan Roxy menyentuh punggung Ayla. Janda Alfa itu terlonjak kaget, menoleh kala jemari Roxy menarik risletingnya tanpa kesulitan.
"Terima kasih." Ucap Ayla tersipu malu. Ini pertama kalinya, ia di bantu menanggalkan pakaiannya.
Rasa malu itu semakin bertambah saat Roxy memindai tubuhnya yang hanya memakai dalam saja.
"Jangan menelanjangiku seperti itu." Protes Ayla.
"Uuummm... Mau mandi dulu?" Tawar Roxy meraih tubuh Ayla mendekat.
"Yaa, tubuhku serasa lengket sekali."
"Ah, pantas saja kita jadi menempel seperti ini." Roxy semakin mengeratkan pelukan tangannya.
"Roxy...."
"Daddy! Panggil Daddy saja."
__ADS_1
"Daddy Roxy..."
"Baiklah, ayo mandi!" Roxy menganggkat tubuh Ayla ala bridal. Membawanya ke kamar mandi.
"Bantu aku melepas ini." Kata Roxy menundukkan kepala. Tatapan matanya tertuju pada bajunya.
Ayla tersenyum kecil lalu mulai membuka kancing kemeja Roxy. Suaminya itu merengkuh tubuh Ayla. Memeluknya semakin dekat, tangan Roxy mengusap punggung dan menahan.
Menyergap Ayla dengan kehangatan tubuhnya. Tau-tau kedua bibir itu sudah saling bertaut.
"UMM... Biar ku gosok punggungmu." Tawar Ayla, melepas pangutan.
"Itu nanti saja."
Roxy menarik tangan Ayla, membawanya masuk ke bawah guyuran air shower. Kedua bibir itu kembali bertaut. Roxy mengangkat paha Ayla. Kedua tangan Ayla memeluk leher sang suami. Wanita itu pun sedikit melompat ke tubuh Roxy yang dengan cepat mengendong tubuh mungil Ayla bak koala.
Dada Ayla sudah naik turun oleh nafas yang memburu udara dengan cepat. Nafas hangat Roxy pun terus terhembus sama cepatnya. Mata Roxy makin sayu, begitupun dengan netra Ayla yang sudah berkabut.
"Kakek Yaris sudah menyiapkan hadiah bulan madu untuk kita."
"Benarkah?"
"Heemm." Roxy menautkan lagi bibirnya.
"Kau mau tau kemana kita akan berbulan madu?"
"Kemana?"
"Austria."
"Aahh, disana masih musim dingin."
"Benar, tempat yang sangat cocok untuk berbagi kehangatan." Roxy menarik sudut bibirnya ke atas. "Kakek sangat pengertian."
"Bagaimana dengan Uwais?" Tanya Ayla yang semakin menikmati sentuhan-sentuhan bibir Roxy di lehernya.
"Tenang saja, kakek sudah mengaturnya."
"Benarkah?" Mata Ayla serasa semakin berat dan menutup, sentuhan bibir Roxy di lehernya semakin membuat Ayla mengeratkan capikan kakinya. Juga kedua tangan yang masing-masing memeluk bahu Roxy dan satu lagi di menyelusup kan jari jemarinya diantara rambut coklat itu.
"Heemm...."
"Sudah, turunkan aku. Aku pasti berat." Meski berkata begitu, Ayla tak mengurangi tekanan pada bahu dan kepala Roxy yang masih asyik menikmati leher dan dada atas istrinya.
"Tidak, biar seperti ini lebih lama."
__ADS_1
"Aku tidak nyaman dengan sesuatu yang keras di bawah sana."
Roxy terkikik, "kamu mau mencobanya?"