Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu
bab 43


__ADS_3

"Tadi... Rasanya, tuan Roxy sudah tidak memakai gibs. Apa gibs nya sudah di lepas?" Gumam Ayla pada dirinya sendiri sembari membereskan kamar Roxy. Tentu saja setelah Roxy pergi entah kemana.


Ayla menggelengkan kepalanya, ketika bayangan Roxy yang bertelanjang dada itu kembali melintas di kepalanya. Saat tangan Ayla menyentuh tubuh menggoda itu tanpa terhalang sehelai benang pun.


"Sadarlah, Ayla! Kenapa pikiranmu jadi kotor begini." Runtuk Ayla pada dirinya sendiri. Ayla melanjutkan pekerjaan.


Tubuh Ayla merasa sangat pegal. Setalah pekerjaannya selesai dan meletakkan perangkat kebersihan nya di gudang penyimpanan. Salah satu pelayan memanggilnya.


"Ayla!"


"Iya?"


"Tolong antarkan ini ke halaman belakang untuk tuan Roxy, aku kebelet pipis nih." Pinta pelayan itu sembari menyerahkan nampan berisi dua minuman sejuk berwarna pelangi, satu burger dan satu kebab Turki.


"Eehh, ini..."


"Tolong ya Ayla." Seru pelayan itu berlari cepat ke area mes pekerja.


Ayla melihat nampan itu. Lalu berjalan ke arah belakang, setelah ini Ayla bermaksud mencari Uwais yang berkeliaran di mansion luas itu.


Tepat di halaman belakang, Ayla mengedarkan pandangan matanya. Mencari orang yang mungkin membutuhkan minuman itu. Di tepian kolam renang, Uwais duduk menjuntaikan kaki masuk ke dalam air kolam.


"Aahh, di sini rupanya Uwais." Gumam Ayla melangkah mendekati anaknya.


Tepat saat itu, Roxy keluar dari dalam kolam renang. Dengan tubuh yang basah oleh air yang terjatuh karena belahan tubuh yang tiba-tiba muncul dari dalam sana.


Tubuh indah yang hanya memakai celana pendek di atas lutut itu menggoda mata Ayla untuk memandang. Lalu dengan cepat mengalihkan wajahnya kesamping.


"Ya ampun, aku udah gila! Sejak resmi bercerai dari mas Alfa, aku jadi seperti janda gatel yang haus sentuhan." Bisik Ayla meruntuki dirinya sendiri.


Hari ini Roxy memang libur kerja. Pria itu menangkap basah lagi Ayla yang menatapnya dan memalingkan wajah yang bersemu merah itu.


"Hei! Kemari!"


"Unda!" Panggil Uwais yang kini berpindah di atas sebuah bebek mengapung.


Ayla jadi merasa salah tingkah, ia berjalan tanpa mau melihat ke arah Roxy. Meletakkan nampan di samping kursi santai tak jauh dari kolam renang.


Ayla berbalik, betapa terkejutnya ia melihat Roxy sudah berada di depannya. Tubuh yang basah, dan tersenyum lebar padanya. Dengan cepat Ayla mengalihkan pandangan mata dan wajahnya kesamping.


Roxy tersenyum, "Kau suka dengan tubuh ini?"


Wajah Ayla menghangat, "A-apaan sih?" Sembari memalingkan wajahnya, karena Roxy menggeser tubuhnya ke sisi Ayla berpaling.

__ADS_1


"Hei! Lihatlah!"


Wajah Ayla semakin memerah, membuat Roxy semakin gencar menggoda Ayla. Kemana wajah Ayla berpaling kesanalah Roxy menggeser tubuhnya. Tentu saja tawa senang Roxy tak lepas.


"Tuan Roxy hentikan!"


"Aku akan berhenti kalau kau memanggilku Daddy."


"Tuan Roxy, berhenti lah bersikap kekanak-kanakan."


"Tidak mau! Aku suka kekanak-kanakan."


Roxy terus saja menggoda Ayla dengan terus memamerkan tubuh atletisnya. tak lupa dengan kekehan yang keluar dari mulutnya.


Tiba-tiba Roxy menyergap tubuh Ayla saat wanita itu hendak kabur. Membawa wanita itu kedalam kehangatan tubuhnya yang basah.


Ayla terdiam, kaku dalam ketersipuan dan rasa kesalnya di goda seperti itu. Ayla memberanikan diri mengangkat wajahnya menatap wajah tinggi Roxy yang menunduk menatapnya. Dapat Ayla rasakan benda keras di tubuh Roxy.


"Aku hanya bereaksi padamu." Ungkap Roxy menatap manik mata Ayla dalam-dalam.


***


Ingatan Ayla terbawa pada hari sebelumnya, saat sang kakek majikannya itu berbicara empat mata padanya.


Flashback dikit


Ayla pun memberanikan diri menatap wajah keriput yang menatapnya tajam namun tak mendominasi dirinya. Justru terkesan seperti tatapan seorang ayah padanya anaknya.


"Aku tau, Roxy pasti sudah berbuat berlebihan padamu. Jika dia bersikap kurang ajar pukul saja dia. Aku ijinkan, tapi, aku tak pernah mengijinkan siapapun melukai hatinya. Kamu mengerti Ayla?"


"Saya, tidak memenuhi syarat apapun untuk menyakitinya, tuan besar."


"Kakek." Sela kakek Yaris tegas.


"Kakek..."


"Apa kamu juga memiliki perasaan itu padanya?"


Ayla menunduk dalam. Kembali mereka di selimuti oleh keheningan. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut Ayla lagi. Itu sudah cukup sebagai jawaban bagi kakek Yaris.


"Kalau begitu, selamat berjuang, Ayla. Cucuku itu sangat gigih. Semoga dia tidak membuatmu muak. Jika muak, kamu harus menjauh sampai dia tak bisa menemukan mu. Aku memperingatkan mu." Ucap kakek Yaris lagi, dengan senyum yang Ayla tak bisa artikan. Apakah itu senyum ejekan atau penyemangat.


****

__ADS_1


Jantung Ayla berdegup lebih kencang, ia sendiri bahkan tak bisa memahami diri nya sendiri. Perasaan apa yang terus merasuki dirinya. Satu sisi ia tak ingin menjalin hubungan, saat rasa trauma akan penghianatan yang masih membayangi pelupuk matanya. Tapi, dilain sisi, hatinya justru terbuka lebar ketika Roxy mengetuk.


Menjalani hubungan dengan perbedaan Strata sosial yang sangat jelas diantara mereka bukanlah hal yang mudah. Ada banyak pertentangan dari kedua belah pihak keluarga.


Dalam dekapan Roxy yang hangat dan nyaman, ditengah keheningan keduanya. Mata Ayla melihat benda berkilau di leher Roxy. Benda yang membuat Ayla menyadari perbedaan mereka yang paling mendasar.


Dengan cepat Ayla mendorong tubuh Roxy. Yang sempat membuatnya kaku beberapa saat. Meloloskan diri dari dekapan Roxy yang sempat membuainya tidak semudah itu. Pria bule itu masih saja mengunci tubuh Ayla dalam kehangatan tubuhnya.


"Ja-jangan seperti ini, tuan Roxy."


Roxy tersenyum lebar.


"Daddy....." Tegas Roxy membetulkan panggilan yang harus Ayla ucapkan. "Kalau kamu memanggilku Daddy, aku lepaskan. Bagaimana?"


Ayla tak mampu berkata, menatap manik mata Roxy yang tak henti memamerkan wajah tampannya.


"Daddy.."


"Apa?"


"Le-lepaskan aku, Daddy..."lirih Ayla


"Apa? Aku tak dengar?"


"Lepaskan aku, Daddy Roxy."


Roxy tersenyum menang. Melepaskan kuncian tubuhnya.


"O, iya. Besok aku akan ke pulau B. Kalian ikut ya?"


Roxy dengan santainya mengambil es pelangi. "Uwais! Kemarilah!"


"Daddy nggak bisa turun..." Seru Uwais mencorong kan tangan di depan mulutnya.


"Okey, Daddy datang."


"Apa ke pulau B? Di mana, dad?" Tanya Uwais mengulang sembari mengunyah burgernya di pangkuan sang bunda.


"Kamu mau ikut?"


"Boleh?" Uwais berganti memandang bundanya dengan mendongak.


"Boleh ya unda?" Rengek Uwais dengan mata bulat memelas.

__ADS_1


Ayla memandang wajah anaknya lalu berganti memandang Roxy.


"Ikut, ya?"


__ADS_2