
Dewi yang sudah membawa perlengkapan nya dari kamarnya melangkah kembali ke kamar sang kakak siap untuk tidur.
"Kak, aku sudah membawa perlengkapan ku, jadi gak ada alasan kakak lagi untuk tidak menerima ku tidur disini. Yang pentingnya aku gak mau tau, kakak harus mengalah sama adik nya. Okey" Dewi tersenyum menatap wajah sang kakak yang sudah merengut.
"Terserah mu, kakak mau istirahat, kakak capek" Tasha yang sudah menaiki ranjangnya disebelah sang adik dan membaringkan tubuhnya.
"Kak, jangan tidur dulu kenapa sih kak" Dewi yang sudah berbaring pun bangkit dan mengguit lengan sang kakak.
"Hemm ada apa lagi sih dek" Tasha memiringkan badannya membelakangi sang adik.
"Bentar lagi kakak pasti kangen momen-momen tidur dengan ku" Dewi mulai menurunkan nada nya dan menatap langit-langit kamar sang kakak.
"Gak akan dek. Kakak suka kesendirian, kamu lupa itu. Kamu kenal sama kakak mu ini udah 23 tahun seumur dengan umur mu"
"Aku tidak percaya itu. Tapi kenangan kita gak akan pernah terlupakan kak" peluk Dewi pada Tasha yang berada dibelakang nya. "Kak, ada yang mau aku omongin sama kak"
"Hemm tumben sekali kamu dek mau ngobrol harus nanya dulu"
"Kakak mah gak asik, ngobrol nya sama ku tapi aku nya cuma dikasi punggung" Dewi yang kesal memajukan bibir nya.
"Iya dek, apa sih formal banget deh" Tasha memutar tubuh nya terlentang menghadap kelangit-langit kamar nya.
"Kak, aku mau dilamar"
Rasa sesak teramat mendengar perkataan sang adik membuat Tasha diam. Darah didalam tubuhnya serasa tidak mengalir.
"Hemmm kedengaran nya itu niat yang baik. Lanjutkan" Tasha mencoba meyeimbangi keadaan agar tidak menjadi pusat perhatian orang disekitarnya.
__ADS_1
Tasha menarik nafasnya berat. Hingga pada akhirnya Tasha harus mengikhlaskan bahwa dia harus dilangkahi sang adik untuk lebih dulu menikah.
"Kakak tidak menghalangi niat baik kamu dan Riko, menikahlah"
"Tapi kak, bagaimana dengan kakak mana mungkin aku bisa melangkahi kakak"
"Dek, kakak tidak apa. Kamu tidak percaya itu" lirik Tasha pada Dewi untuk menyakinkan nya bahwa dia mengizinkan sang adik untuk menikah dan melangkahinya.
Manik mata Dewi mulai berkaca-kaca, rasa belum ikhlas nya yang harus meninggalkan sang kakak sendirian.
"Aku bingung kak. Aku seperti diambang kegundahan" Dewi yang tidak kuat menahan perasaannya menatap wajah sang kakak yang seakan tegar memeluk dan menangis di lengan sang kakak.
"Heiii kenapa menangis" usap Tasha lembut rambut sang adik.
"Hidup itu memang harus punya jalan tujuan. Kita tidak bisa hanya menginginkan hidup kita seperti ini aja dek. Kita sudah dewasa, kita membutuhkan teman berbagi, teman menangis, teman bahagia, dan teman tua kita yaitu dengan pasangan hidup kita. Pilihan kamu dan Riko adalah pilihan yang tepat. Langsungkan lah pernikahan mu. Karna pada dasar nya kita memang harus punya jalan akhir dek" mata Tasha sudah memejam dan tersenyum.
**
Ini adalah hari yang ditunggu oleh Dewi dan Riko. Hari ini adalah hari dimana mereka akan mengucapkan janji suci mereka.
Sebelum berlangsungnya ijab kabul, proses pelangkahan pun dimulai. Tasha yang akan dilangkahi oleh sang adik pun berada diprosesi yang mengharukan itu.
Selain pelangkahan dari pihak mempelai laki-laki kepada kakak mempelai perempuan, Dewi pun juga mempunyai pelangkahannya sendiri untuk sang kakak.
Seperti yang pernah dijanjikan nya kepada sang kakak pada saat Tasha masih depresi, Dewi pernah berjanji untuk memberikan sebuah kalung permata buat Tasha hasil kerja keras nya sendiri.
Seluruh keluarga telah hadir diacara prosesi ini. Dewi memasangkan sendiri kalung itu keleher sang kakak membuat para tamu haru biru melihat proses ini.
__ADS_1
"Kak, maaf kan adik mu selama ini, banyak tidak menurut dengan mu, mungkin aku adik yang banyak menyusahkan mu. Kak, percaya lah aku sangat menyayangi kakak" Setelah Dewi bersalaman kepada sang kakak, Dewi langsung memeluk Tasha yang begitu tegarnya di prosesi ini. Berbeda dengan Dewi yang sudah mengeluarkan butiran bening di punggung Tasha.
"Kakak bahagia kamu bahagia dek. Pesan kakak jadi istri yang menurut kepada suami mu, jadilah istri yang diridhoi oleh Allah ya dek. Setelah ini tanggung jawab papa, mama dan kakak telah selesai dengan mu" Tasha yang terus mengelus punggung sang adik pun mengulas senyuman nya. Dia merasakan kebahagian bisa melihat prosesi sakral sang adik.
Tasha yang begitu kuat dan mencoba untuk kuat tidak sekalipun dalam prosesi pelangkahan ini menunjukan raut wajah sedih nya atau pun menangis. Dia tetap memasang wajah senyumnya dihadapan semua para tamu dan keluarga yang hadir.
'Setelah acara ijab kabul ini, kakak tidak bisa lagi main kekamar mu dek dengan leluasa, tidak ada lagi teman jalan kakak, tidak ada lagi teman curhat kakak. Kakak juga sayang kamu' bathin Tasha yang sudah sesak akan melepaskan adik kesayangannya.
Hanya dia lah yang tau bagaimana perasaan nya pada saat ini, bahkan untuk diungkapkan pun itu tidak akan pernah tersampaikan. Rasanya ini adalah lebih sakit dari apa yang dilakukan Farhan kepada nya.
Prosesi pelangkahan dan ijab kabul pun telah selesai dilaksanakan dengan sangat hikmat. Malam hari nya adalah malam prosesi resepsi yang diadakan di sebuah gedung hotel berbintang tujuh. Disebuah ballroom sudah selesai ditata sedemikian megah dan mewahnya.
Para rekan bisnis, klien, kerabat, sahabat dan juga keluarga dari Erik maupun Lita hadir dalam acara resepsi sang putri, begitu juga dengan para teman-teman Tasha yang juga diundang hanya beberapa saja.
Sang papa dan mama sibuk menyambut para tamu mereka yang datang silih berganti. Saling beramah tamah, mengobrol bahkan tak jarang mereka membahas masalah bisnis-bisnis mereka.
Situasi ini adalah situasi yang membosankan bagi Tasha. Karena para teman-teman yang diundangnya sudah berpamitan untuk pulang.
Tasha pergi meninggalkan acara resepsi menuju ke kamar hotel yang telah disediakan para kedua mempelai untuk kedua keluarga.
Setelah Tasha yang sudah sampai didalam kamar hotel itu melangkah gontai seperti tidak ada tenaga untuk berjalan. Dipengangi nya pinggiran ranjang sebagai penyanggah tubuhnya.
"Ya Tuhan, kenapa sesakit ini hati ku. Aku harus mengadu kesiapa, aku tidak ada teman curhat kini selain-Mu" Tasha yang sudah terjatuh kelantai disamping ranjang pun menangis sejadi-jadi nya tanpa suara sambil memeluk diri nya sendiri.
"Aku bisa tersenyum dihadapan banyak orang, aku bisa tersenyum kepada keluargaku. Tapi aku tidak bisa tersenyum kepada diri ku sendiri Ya Tuhan. Aku lemah saat sendiri seperti ini"
Hiksss
__ADS_1