Jodoh Ku Tertunda

Jodoh Ku Tertunda
21. Perjalanan Kehidupan


__ADS_3

Waktu diperjalanan sudah setengah jam berlalu, Tasha dan Arga masih berada didalam armada besi yang membawa mereka, Arga yang telah membaringkan tubuhkan ditempat tidur armada itu dan Tasha yang masih belum bisa tidur di sofa yang berada disana. Dia masih saja mengawasi Arga yang takut jika sewaktu-waktu Arga akan membawanya ke atas ranjang untuk tidur berada disampingnya.


"Sampai kapan kamu terus disitu, dan tidak memejamkan mata mu. Perjalan kita ini akan sangat lama" ucap Arga pada Tasha yang terus membukakan mata nya untuk tetap terjaga.


"Kehormatan saya lebih berharga daripada tidur disebelah anda Tuan Arga"


Arga yang sudah tidak tega melihat Tasha sudah 2 malam ini bersama dia hanya tidur disofa dan harus mengalah dengannya. Dia mulai bangkit dari tidurnya dan melangkah kepintu ruangan khusus di cabin pesawat itu.


"Tidur la, saya tidak akan mengganggu tidur mu" Arga yang sudah diambang pintu dan pergi meninggalkan Tasha sendiri.


Perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya helikopter yang membawa mereka telah mendarat dengan selamat. Ini adalah kali pertamanya Tasha menginjakkan kakinya ke pulau indah yang berada disalah satu pulau yang ada di Nusa Tenggara Timur itu.


Arga dan Tasha keluar dari pintu bandara yang ada dipulau itu akan menuju mobil yang selanjutnya akan membawa mereka menuju resort tempat yang telah disediakan oleh sang ibu.


"Kamu lihat disana seseorang yang menunggu kita, itu adalah salah satu para kepercayaan mama yang berada disini. Jadi bersikaplah seolah kita adalah pasangan yang berbahagia" bisiknya pada Tasha dan merangkul Tasha yang berada disampingnya.


Tasha mengedarkan matanya melihat kearah dimana yang Arga sebutkan seorang lelaki memakai jas hitam dan juga kaca mata hitamnya.


"Ihh lepas om. Jangan ambil kesempatan" tatapan tajam mata Tasha yang sudah menatap kearah wajah Arga dan tangannya sudah menepiskan tangan Arga dari punggung nya dan berlalu meninggalkan Arga dengan berjalan lebih cepat.


"Terserah, lakukan lah semau mu" Arga yang menatap punggung Tasha didepannya tersenyum tipis.


Tasha mulai takut jika itu benar adalah orang-orang dari sang ibu yang akan memata-matai honeymoon mereka. Tasha membalikkan badannya menatap Arga yang sudah mendekat. Arga seakan tidak melihat Tasha yang menunggunya dan mendahuluinya.

__ADS_1


"S****n ni om-om, sudah ditunggu malah cuek seperti tidak melihat. Apa jangan-jangan kacamata hitam yang dipakainya membuat dia buta apa" Tasha yang terpaku terus menggumam melihat Arga yang sudah jauh didepannya.


*


Setelah mereka sampai direstort tempat penginapan mereka, Tasha yang sedang duduk menunggu Arga yang sedang melakukan check in dipenginapan yang telah dipersiapkan sang ibu untuk mereka merasa tersanjung, begitu spesialnya fasilitas-fasilitas yang diberikan ibu mertua nya pada mereka.


Tasha yang tidak menyadari jika Arga sudah mendekat padanya masih sibuk dengan instastory yang diuploadnya "Jika mau disini dan tidak mau ikut dengan saya, saya bisa melaporkan pada manager hotel ini jika kamu mau melamar untuk bekerja di hotel mereka"


"Resek om-om tua satu ini. Ya Tuhan Kenapa saya harus dipersatukan dengan manusia jadi-jadian yang berwujud manusia. Sabar-sabar" sambil mengusap d**a nya Tasha bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mengikuti Arga.


Tasha yang sudah tertinggal jauh tidak melihat keberadaan Arga dimana. Dia kehilangan jejak Arga karena begitu banyaknya pengunjung yang akan menginap dipenginapan yang sama dengan mereka.


Arga telah sampai tepat dimana kamar yang akan mereka tempati beberapa hari kedepan tapi tidak dengan Tasha. Pandangannya mengedarkan kebelakang sudah tidak melihat keberadaan Tasha.


Arga yang mulai mengedarkan pandangannya diantara banyaknya para pengunjung untuk mencari keberadaan Tasha yang menurutnya sangatlah merepotkan.


"Ya. Terus ikuti dia dan jaga dia. Jangan sampai terluka. Jika itu terjadi padanya, bukan kamu saja yang akan saya pecat. Tapi saya juga akan dipecat jadi anak dari ibu Herni. Mengerti" panggilan terputus. Joe yang sedari tadi telah mengawasi Arga bos nya dan juga Tasha sejak berada dibandara melihat Tasha yang sedang kebingungan mencari keberadaan Arga.


"S****n, aku tidak menyimpan nomor om-om tua itu lagi" Tasha yang telah mencari-cari nomor Arga di benda pipihnya yang dia mengingat Arga pernah mengirimkan nya sebuah pesan waktu mereka berada direstauran setelah melakukan prawedding waktu itu namun Tasha telah menghapusnya.


Setelah kekesalannya karena tertinggal oleh Arga, Tasha telah memiliki sebuah ide untuk memesan kamar lain tapi masih berada diresort yang sama dengan Arga, agar dia tidak satu kamar dengan Arga karena mereka tidak bersama dengan orang tua mereka yang harus berpura-pura romantis. "Apa romantis tidak akan" gumamnya sendiri yang telah membayangkan mereka berdua melakukan hal-hal romantis dipikirannya dihadapan sang orang tua.


"Kenapa aku merasa gelisah jika harus ditinggal dia. Ini adalah kesempatan terbaik untuk kabur dari om-om tua yang super duper dingin, beku, nyebelin, tidak mau me-" Tasha memberhentikan kalimatnya karena laki-laki yang sedang dikatainnya sudah berada tepat didepan nya.

__ADS_1


Arga yang masih berdiri dihadapan Tasha mulai merendahkan tubuhnya mendekat pada Tasha.


"Jika kamu melakukan itu, saya akan bayarkan biaya penginapan mu. Dan saya akan meninggalkan mu sendiri disini dan akan menghubungi mama jika ini adalah permintaan dari mantu kesayangan nya" bisiknya pelan pada Tasha.


Tasha bergedik ngeri Arga yang sudah sedekat ini berbicara dengannya.


"Kamu lihat orang-orang yang berada disini, kamu hanya melihat mereka seperti orang biasa pada umumnya. Tapi kamu tidak menyadari banyak mata yang memperhatikan kita disini" tatapan tajam Arga membuat Tasha melangkah mundur.


Mata Tasha sudah berkaca-kaca. Dia bukan takut untuk ditinggalkan, tapi dia merasa hidupnya seperti dipermainkan.


Tasha yang takut akan mengeluarkan butiran beningnya dihadapan Arga segera melangkahkan kakinya masuk kedalam penginapan disana. Dia yang sudah merasa terlalu lama berjalan mulai membalikkan tubuhnya dan menatap Arga yang terus mengikutinya.


"Jika nona tidak tau tempatnya, jangan sok-sok an mau didepan" cibir Arga pada Tasha. Dia terus memajukan bibirnya mendapatkan cibiran dari Arga.


Didalam kamar penginapan mereka, Tasha mengedarkan pandangannya tidak henti melihat sekeliling ruangan itu. Dua buah angsa yang dirangkai dengan mawar-mawar merah yang sudah tersusun rapi tepat diatas ranjang milik mereka dan juga ucapan happy honeymoon Arga dan Tasha semakin menambah keindahan ruangan itu.


Manik nya berhenti di kedua tempat yang berada diruangan itu. Dia masih memikirkan akan tidur dimana dia malam ini.


"Ranjang atau sofa" tunjuknya pada kedua tempat itu untuk merebahkan tubuhnya yang sudah terasa lelah.


Setelah tadi sampai dikamar milik mereka, Arga yang sudah terlebih dahulu masuk kedalam kamar mandi karena sudah terlalu gerah seharian diluar untuk menyegarkan tubuhnya.


Tasha membaringkan tubuhnya pada sofa single yang menghadap kearah televisi tepat berada dibawah ranjang king size yang berada diruangan itu juga. Dia merasa takut jika memilih ranjang yang dipikir-pikir sangatlah muat untuk dua orang.

__ADS_1


Tasha masih terpaku disofa yang telah menjadi tumpuan tubuhnya, manik matanya melihat kearah langit-langit ruangan itu. "Andai pernikahan ini pernikahan yang normal, tidak ada perjodohan, saling mencintai dan menyayangi, saling menjaga, ini akan menjadi suatu pernikahan yang bahagia. Tapi sayangnya bukan aku salah satu tokoh itu" air mata Tasha sudah tidak dapat lagi membendung perasaan yang dialaminya selama ini. Seperti perjalanan hidup yang tidak diinginkan, namun harus dihadapi yang datang bertubi-tubi dalam hidupnya sekarang.


__ADS_2