
Dibalik pintu yang masih terbuka, Denis yang sedari tadi mengikuti Tasha sejak ditempat kerjanya tanpa dicurigai oleh para pengawal Arga, kini melihat semuanya. Jika wanita yang ditemui beberapa minggu lalu dan mengaku tidak mengenali nya.
"Ternyata kamu benar Natasha Shofia" Gumam Denis menatap Tasha yang masih dalam pelukkan Arga.
Tidak menunggu berlama-lama lagi setelah Denis yang hanya sebentar berada dikosan Tasha dan mengetahui jika itu adalah orang yang benar dicintainya. Hati sudah patah, kini bertambah patah jika memang benar Tasha tidak akan menjadi miliknya untuk selamanya.
Masih didalam pelukan yang semakin mengerat, Tasha yang telah menangis dan tidak berhenti dari isakan tangis yang telah membasahi pakaian yang dikenakan Arga.
"Sudah nangisnya sayang?" Cium Arga kening Tasha dengan mengelus punggung sang istri.
Tasha mulai mengangkat wajahnya menatap kearah Arga. "Kenapa om lama sekali menjemput ku?" dengan nada yang memelas Tasha memajukan bibirnya.
Dahi yang telah berkerut dengan mata yang menyipit kini Arga menatap tajam kearah Tasha.
'Menjemput? Bukannya kamu yang meninggalkan aku Natasha. Bagaimana aku bisa dengan cepat menjemputmu, kalau aku belum mengetahui keberadaan mu' bathin Arga yang tidak ingin mempermasalahkan perkataan istrinya. Dia tau itu adalah sebuah kerinduan sang istri yang baru bertemu.
"Maaf kan mas sayang, mas janji tidak akan mengulangi sikap-sikap mas yang membuat mu kecewa. Mas tidak ingin mengulang kejadian sebelumnya sayang, mas sakit jika tidak melihatmu" sebuah janji tulus yang dituturkan Arga pada Tasha dengan manik mata yang telah sendu.
Diusap Arga air mata Tasha yang masih tersisa dipipi mulus sang istri dengan sentuhan-sentuhan lembutnya, pipi yang begitu lembut sudah hampir satu bulan lamanya tidak pernah lagi disentuhnya itu.
'Om tau aku disini juga sakit menahan rindu dengan om, aku merindukan posisi kita yang seperti ini' batin Tasha yang tidak menyangka jika dia masih diijinkan untuk berjodoh dengan Arga.
__ADS_1
"Sayang, mas bantu mengemasi barang-barang kamu ya. Kita akan pindah kehotel malam ini sebelum besok penerbangan kita" ucap Arga dengan nada yang memelan.
Dengan bola mata yang masih saling bertemu, rasa hati Tasha belum ingin berpisah dengan tempat ini yang sudah beberapa minggu menjadi tempatnya berteduh.
"Mas bolehkah kita menginap satu malam disini. Selepas ini aku tidak akan lagi tidur dikasur kecil ku ini lagi" bujuk Tasha dengan nada yang sudah terdengar sendu.
Arga menarik nafas panjang, maniknya kini mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan kosan Tasha yang begitu sempit dan kecil untuk dihuninya. Arga yang tidak pernah tidur disebuah kasur yang langsung kelantai dan hanya muat untuk ditiduri satu orang saja.
"Sayang, kamu yakin kita akan tidur disini? Kasur ini saja tidak muat untuk kita berdua" ucap Arga yang seperti tidak bisa untuk tidur ditempat yang telah Tasha tempati selama ini.
"Mas tidak menginginkan permintaan ku" bujuk Tasha yang telah melingkarkan kedua tangannya keperut Arga.
"Bukan begitu sayang, mas tidak ada berucap jika mas tidak ingin kita tidur disini. Tapi baik lah untuk malam ini kita akan tidur disini" kecup Arga bibir Tasha sudah lama dirindukannya itu yang telah menjadi candu baginya.
"Mas jangan lama-lama. Pintu masih terbuka lebar" tunjuk Tasha kearah pintu tidak jarang orang-orang yang berjalan didepan kosan Tasha melihat kearah mereka.
"Siapa yang akan perduli dengan itu sayang. Kamu istri mas, wajar saja jika mas melakukan hal-hal yang seperti itu pada mu sayang" tatap Arga wajah Tasha yang hanya berjarakkan beberapa senti saja.
"Bukan begitu mas, para tetangga dan orang-orang dilingkungan ini taunya jika saya masih gadis dan belum menikah" ucap Tasha memperdalam tatapannya pada sang suami.
Arga kembali lagi melirik kearah luar pintu itu, benar saja orang-orang disana yang sedang berjalan berlalu lalang itu menatap mereka dengan tatapan sinis, karena dikota ini masih dibilang dengan kota yang belum terbisa para penduduknya menunjukkan kemesraan didepan umum walaupun itu berstatuskan suami istri.
__ADS_1
"Jadi kamu tidak mengakui mas ditempat tinggal mu sekarang sayang?" Tanya Arga dan kembali menatap sang istri yang masih dalam posisi yang sama.
"Mas namanya juga saya kabur dan menutupi semua identitas saya. Jika disini saya mengatakan bahwa istri dari Tuan Arga Reywinston yang tidak diakui keberadaannya sebagai seorang istri karena dipercayai berselingkuh dengan mantan kekasihnya dimasa lalu dan apabila ada orang yang mengenal mas, itu namanya sama saja saya bohong bukan kabur tapi pindah" ucap Tasha masih memeluk tubuh Arga.
"Siapa suruh untuk kabur sayang? Jika itu terjadi untuk kedua kalinya ataupun seterusnya, akan mas pastikan orang-orang yang terlibat didalamnya akan tidak mas beri ampun. Mereka tidak tau resiko dari membantu mu itu membuat mas hampir depresi" tegas Arga.
"Hemm. Baiklah, alasannya hanya satu untuk kita bisa bersama hingga menua yaitu saya tidak suka mas diamkan. Mau apapun itu permasalahan yang sedang terjadi diantara kita, kita bisa bicarakan dengan baik-baik dan mencari jalan keluar dari gelutan masalah kita" penekan Tasha yang dialaminya beberapa waktu lalu yang harus mengikhlaskan perasaannya untuk meninggalkan Arga.
*
Malam semakin beranjak, Arga dan Tasha telah meniduri kasur yang jika ditempati oleh dua orang pasti tidak lah muat.
"Sayang, tempat ini sempit sekali. Maafkan mas atas sikap mas yang telah menghantarkan mu sampai hidup seperti ini sayang" bisik Arga yang telah memeluk Tasha dengan kepala Tasha yang berada diatas d**anya.
"Sudah berlalu mas. Jangan ingatkan masa-masa kita terpisah" dengan jemari-jemari lentik Tasha yang telah bermain did**a Arga.
"Sampai sekarang mas belum bisa memaafkan diri mas sendiri. Mas tidak bisa lagi membayangkan betapa menderitanya kamu sendiri disini sayang" ucap Arga dengan mata yang sudah berkaca-kaca telah menjadi suami yang gagal menjaga perasaan sang istri.
"Mas harus percaya, Tuhan memberikan kita sebuah kesulitan tidak akan melebihi batas kemampuan kita mas. Mungkin dengan cara seperti kemarin, Tuhan memberikan kita sebuah peringatan agar kita bisa sama-sama saling menghargai apa yang telah bersama dengan kita saat ini"
Tasha dan Arga terdiam sesaat, mereka berada dimasing-masing pikiran mereka, ternyata mereka tidak bisa hidup berjauhan walaupun itu hanya sebentar. Ternyata perjodohan keterpaksaan yang dilakukan kedua orang tua mereka melalui banyaknya proses yang tercipta kini menghantarkan pada tulang rusuk yang terpisah.
__ADS_1