
"Kamu baik Sha" lepas Denis pelukan Tasha "ohh iya, bagaimana kabar Farhan, kapan kalian akan melanjutkan hubungan kalian lebih serius" lihat Denis Tasha penuh serius.
Tasha hanya menatap mata Denis. Matanya yang mulai berkaca-kaca mencoba untuk menepiskan gejolak yang dirasakannya.
"Kamu kerja di perusahaan Arios crop ya Denis?" Tasha mencoba mengalihkan pertanyaan dari Denis karena dia masih belum mau membahas tentang Farhan.
Hemmm "Apa kamu kerja disitu juga" Denis tiba-tiba tersenyum "Apakah kita satu kantor dan aku tidak mengetahuinya" selidik Denis kepada Tasha.
"Tidak, hanya tadi aku melihat mu ketika kau mau keluar dari lobby"
"Kawasan disitu kebanyakan tempat perusahaan. Apakah kamu kerja disalah satu perusahaan yang berada disana"
Tasha melirik jam diponsel nya "Sudah malam, nanti kita sambung lagi ya Denis, bye" ucap Tasha yang akan menaiki mobilnya.
"Tunggu Sha, aku boleh simpan nomor mu" Denis yang mendekat dan memegang pintu mobil Tasha yang akan tertutup itu.
"Ya boleh" ambil Tasha kartu nama nya yang berada di dashboard mobilnya dan mengulurkan kartu itu pada Denis.
"Ini kartu nama aku, simpan baik-baik ya" sambil tersenyum tasha meninggalkan Denis dan melajukan mobilnya kearah kediamannya.
Dikediaman Tasha lampu sudah tamaram begitupun menuju ke garasi mobil. Tasha yang memang penakut, buru-buru masuk ke dalam rumah melewati pintu samping menuju ke dapur.
Tasha kaget melihat orang tuanya yang berada diruang tengah yang masih duduk di atas sofa sambil menyalakan Televisi disana. Ternyata kedua orang tua nya belum juga tidur.
"Hemm ma pa kenapa belum tidur" lihat tasha jam dinding diruangan itu. "Orang tua yang sudah lanjut usia tidak baik tidur terlalu malam" senyum Tasha langsung mengambil remote ditangan sang mama dan mematikannya televisi yang ada dihadapan mereka.
"Sudah ayo kita tidur mama ku sayang papa ku sayang" kecup Tasha pipi kedua orang tuanya sambil meletakkan remote tadi keatas meja.
"Sha,tidak baik pulang sampai larut malam kayak gini, boleh bekerja tapi lihat waktu juga nak" nasehat Lita kepada putrinya.
"Iya mama ku" Tasha yang ingin melangkah kekamar nya mengurungkan niatnya dan kembali untuk duduk disebelah sang mama. "Kan aku lembur nya tidak setiap hari juga ma, setelah beberapa bulan kemarinkan baru ini ma lembur nya"
Tasha mencoba merayu sang mama agar tidak marah dan melarangnya untuk bekerja diperusahaan orang lain dan menyuruhnya untuk bekerja di perusahaan milik sang papa.
__ADS_1
"Ma, lihat tu papa udah lelah, pasti papa sudah mengantuk ma. Ayo pa tidur ajak mama" senyum Tasha pada sang papa mengisyaratkan pada sang papa untuk mengajak sang mama ikut masuk kekamar.
Erik adalah ayah yang tidak mau mengatur semua kemauan kedua sang putri jika itu masih dijalur yang wajar rasanya. Apalagi Erik sangat trauma atas apa yang menimpa Tasha beberapa waktu lalu, maka itu Erik tidak mau mengekang sang putri untuk menjadi apa yang dia inginkan.
Didalam kamar Tasha yang sudah sangat lama ditempatinya ini, dia baru saja selesai mandi dan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Melepaskan kepenatan yang dihadapinya hari ini. Dia mulai merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya.
Suara deringan mengudara dikamar miliknya. Tasha yang sudah mulai masuk kedalam mimpinya terbangun mendengar suara handphone nya berbunyi yang masih berada didalam tas yang dipakainya tadi waktu bekerja.
Tangannya mulai mencari-cari benda itu didalam tas, mata yang masih terpejam mengangkat panggilan itu.
"Sha, sudah sampai" mata Tasha langsung terbuka mendengar suara yang berada dibenda pipih yang ada ditangannya.
"Ya, Denis ini sudah malam, kau mengganggu tidur ku"
Tasha kembali tidur diposisi terbaiknya, sambil memegang ponselnya.
"Sha aku mau videocall, angkat ya" panggil Denis yang sudah tak mendengar suara Tasha disana.
Tasha sudah berdengkur halus, dengan cepatnya Tasha sudah masuk kealam mimpinya.
"Sha selamat tidur, semoga mimpiku dan mimpimu bertemu" Denis mematikan panggilan mereka.
Setelah menghubungi Tasha tadi, Denis masih belum bisa tidur. Diruangan kamar nya, dia yang sedang berbaring dan memegang hanphone ditangan nya melihat isi galeri dibenda itu.
"Sha, aku pikir aku tidak bisa bertemu kamu lagi" Denis melihat foto-foto kebersamaan mereka yang masih dia simpan 6 tahun lalu.
"Sha kau adalah wanita yang sampai sekarang tidak bisa aku gapai. Bahkan sampai 3 tahun ini kita tidak pernah bertemu, belum ada wanita yang bisa mengambil posisi kamu dihati ku Sha"
**
"Hallo Sha-"
"Sebentar, aku akan turun" Tasha yang terburu-buru menuju kubikel besi yang berada tepat dilantai ruangan nya itu untuk mengantarkannya turun.
__ADS_1
Diluar parkiran Tasha menuju mobil yang sudah menunggunya. Seseorang yang sudah keluar dari mobil pun, berjalan kepintu mobil disebelah kemudi nya.
"Persilahkan masuk Nyonya Tasha"
Pukulan melayang ke lengan Denis. "Kau ya, selalu saja memperlakukan ku seperti bocah" cibir Tasha atas perlakuan Denis.
"Bukan seperti bocah hanya saja aku sudah bosan menunggu mu"
Perlu digaris bawahi sebenarnya kata menunggu yang Denis ucapkan adalah sebuah kata menunggu yang sudah bertahun-tahun dirasakan nya. Tapi Tasha tidak mengetahui atas perasaan Denis. Tasha hanya menganggap ini adalah persahabatan.
"Kau tidak tau pengorbanan ku yang turun dari lantai 15 untuk menemui mu s****n" Tasha tersenyum dan masuk kedalam mobil Denis yang sudah dibukakan pintunya, Denis dan Tasha memang seperti itu saat bertemu. Tidak pernah akur, tapi saling menjaga.
"Perasaan tempat makan yang mau kita tuju ini dekat deh Denis. Kenapa harus pakai mobil sih"
"Apa kau bilang Sha, dekat ? Kau saja yang berjalan kaki. 25 menit baru sampai di cafe nya, pesan makanan 3 menit, nunggu makanan 15 menit, makan nya 10 menit, pulang nya lagi ke kantor 25 menit"
"Deket loh Denis, 5 menit juga sampai" Tasha yang tidak mau kalah berdebat dengan Denis terus memberikan alasan.
"Aku gak salah denger Sha, 5 menit. Kamu lihatnya dari mana ? Dari lantai 15 kantor mu" Denis terus tersenyum dan memberikan cibiran.
"Terserah mu deh" Tasha yang sudah kalah dan tidak menerima kekalahan nya semakin tidak terima.
"Hey anak gadis, kamu itu udah jelek, jangan tambah jelek karena pasang muka yang cemberut mu seperti itu" goda Denis agar membuat Tasha semakin marah.
"What? Coba ulangi, jelek. Hey man, coba ingat-ingat banyak cowok dikelas kita dulu yang mengejar ku. Karna apa ? Ya karna aku cantik bukan" Tasha terus memuji diri nya.
Denis tidak munafik, Tasha memang memiliki wajah yang cantik walaupun hanya dengan makeup tipis. Hidung kecil dan sedikit berbatang, bibir tipis bewarna merah muda, dan memiliki rambut yang sedikit bergelombang semakin menunjang penampilannya. 'Sebenarnya aku cemburu jika kamu didekati oleh lelaki lain Sha' bathin nya.
"Kau salah anak gadis, mereka bukan mencoba mendekati mu, mereka hanya iseng kepada mu. Mana mungkin mereka mau dengan gadis yang selalu tidur dikampus" suara tawa Denis pecah didalam mobil itu.
Satu pukulan melayang lagi ke lengan kiri nya yang sedang mengemudi.
"Shaaaa, sakit ahhh" usap Denis lengannya.
__ADS_1
"Kau kenapa tidak bisa melupakan kejadian yang memalukan itu Denis" cubit Tasha lagi lengan kiri teman nya itu.
"Natasha sakit" Denis merintih kesakitan. Tasha terus menggerutu didalam mobil itu.