Jodoh Ku Tertunda

Jodoh Ku Tertunda
32. Pelukan


__ADS_3

Arga dan Tasha telah tiba di rumah milik kediaman Erik dan juga Lita yang menjadi tujuan Tasha yang sudah dirindukannya itu. Sejak Tasha menjadi istri dari Arga dan telah dibawa keappartementnya, kini Tasha tidak pernah lagi berkunjung kekediaman sang orang tua. Malam ini mereka menginap dirumah sang mama karena Lita sangat rindu dengan sang putri.


Setelah Tasha dan Dewi menikah, dirumah kediaman Lita dan Erik menambah keheningan yang semakin berkurangnya penghuninya. Begitu juga jika sang suami sedang bekerja pergi keluar kota ataupun luar Negeri, Lita yang hanya bertemankan dengan para pekerja yang berada dirumahnya menambahkan kesepian dirumah besar yang ditempati mereka. Kejenuhan yang kini menyerangnya membuat Lita yang kini mulai aktif kembali di sebuah yayasan yang sang suami adalah salah satu donator terbesarnya yang dikelolanya.


Selepas kedatangan Tasha yang telah sampai kerumah sang orang tuanya, kini hanya terdiam dan malas untuk berbicara karena perasaan nya yang sedang berantakan.


"Arga bagaimana dengan keadaan mama kamu, apakah dia baik-baik saja. Setelah acara pernikahan kalian mama belum pernah bertemu dengannya" ucap Lita menanyakan kabar besannya yang mereka sedang berada di meja makan untuk makan malam bersama.


"Baik ma, mama sehat dan saya lihat beberapa hari kemarin mama makin sehat" ucap Arga yang melihat kearah mertuanya.


"Setiap orang tua akan semakin sehat jika melihat anaknya bahagia Arga. Obat dari semua penyakit adalah anak-anaknya" sambung Lita yang juga merasakan kebahagian rumah tangga yang sedang dijalani Tasha dan Arga sang menantunya itu.


Tasha yang sudah selesai dari makan malamnya kini dia siap untuk meninggalkan orang tuanya dan juga Arga untuk kembali kekamar miliknya menjadi salah satu tempat yang dirindukannya selama ini.


"Pa ma Tasha dulu ya ma, Tasha sudah mengantuk dan lelah. Maaf Tasha izin dulu kekamar ma pa" Tasha mendorong kursinya dan siap bangkit dari duduknya.


Lita dan Erik hanya melihat Tasha yang telah berlalu pergi meninggalkan mereka. Tidak ada kecurigaan pada Mereka tentang Tasha yang hanya berpikiran Tasha memang merasakan sebuah kelelahannya.


Didalam kamarnya Tasha menuju kearah jendela dan membuka lebar tirai jendela didalam kamarnya itu, yang masih berdiri menatap kearah kolam renang yang ada dilantai bawah rumah milik orang tuanya.


Mata Tasha masih menerawang, pikirannya kembali kemasa lalunya setelah dia melihat Farhan tadi, Tasha mulai kembali mengingat masa-masa sakit yang pernah dialaminya sebelum dia bisa bangkit seperti sekarang. Lagi dan lagi tanpa disadarinya air mata yang sudah tak disadarkannya lagi, sudah keluar dari pelupuk mata indahnya.

__ADS_1


"Aku sudah mengubur mu dalam-dalam, tetapi kenapa mata ini melihat mu lagi" Tasha yang sudah tidak kuat lagi menopang tubuhnya jatuh kearah sudut sofa yang dekat dengan jendela kamarnya.


"1 tahun sudah berlalu, Awalnya aku pikir aku akan baik saja jika suatu saat bertemu denganmu, tapi nyatanya prasangkaku salah, hati ku masih sakit ketika melihatmu b*******k" pekikan suaranya yang berada didalam kamar yang hanya sendiri itu dengan menekukkan kedua kaki nya dan melihatkan kedua tangannya, kini dia tidak peduli dengan suara tangisannya.


*


Setelah makan malam mereka, Arga dan Erik bercerita dengan lamanya dan berpindah keruangan keluarga dirumahnya itu. Lita tidak ikut bergabung dengan suami dan menantunya karena pembahasan yang mereka bahas tidak ia mengerti.


Telah lamanya mereka bercerita yang seperti anak dan ayah itu, tidak lagi menganggap mertua dan menantu, kopi hangat dan cake yang disediakan Lita sebelum dia masuk kekamar juga telah habis.


"Papa sudah tua, papa tidak bisa lagi seperti dulu bisa begadang dan akan tidur hingga larut malam bahkan sampai subuh" ucap Erik pada Arga dalam akhir perbincangan mereka.


"Papa bukan sudah tua, hanya saja papa butuh energi untuk besok harus bekerja kembali" Erik yang sudah bangkit mengusap punggung Arga menantunya dan meninggalkannya.


Cklekk


Sebelumnya Tasha yang sudah mendengar derap langkah yang ingin masuk kedalam kamar nya segera pergi ke sofa didekatnya dan menarik selimut yang telah dia sediakan didekatnya sebelumnya. Tasha yang kini sudah menutup tubuh dan juga wajahnya disebalik selimutnya dan membelakangi arah pintu yang akan Arga masuki.


Handel pintu yang telah diputar kini memperlihatkan kamar yang sudah diganti menjadi lampu tidur dan melihat Tasha yang dipikirnya telah tidur diatas sofa itu dengan menutupi seluruh tubuhnya.


"Bocah, pindah la di atas ranjang mu, saya yang akan tidur disofa ini"

__ADS_1


Arga yang mendekat dan mengguncang tubuh Tasha untuk membangunkannya tapi tidak ada respon dari Tasha. Tasha bukan lah tidur hanya saja berpura-pura tidur dan tidak menjawab perintah dari Arga.


Tubuh yang telah dibalik dan membuka selimut yang menutupi tubuh Tasha kini memperlihatkan mata yang telah membengkak dan wajah yang begitu sembabnya.


"Ada apa dengan mu Natasha?" Arga yang kini telah membungkukkan tubuhnya melihat wajah Tasha yang sudah melemah walaupun lampu kamar itu sudah diganti menjadi lampu tidur.


Tidak tau apa yang ada didalam pikiran Tasha, setelah Arga yang mendekat padanya dan telah melihat kondisinya yang sekarang, Tasha menarik tubuh Arga dan memeluk perut Arga yang masih berada disampingnya.


Tanpa bersuara Tasha sudah membasahi baju yang telah dipakai Arga dengan suara rintihan yang begitu halus, membuat Arga terdiam mendapatkan pelukan Tasha itu.


"Saya ada salah dengan mu?" Arga masih bertanya-tanya apa yang sebelumnya telah diperbuatnya pada Tasha hingga seperti ini.


"Om boleh peluk aku?" permintaan Tasha yang dirasa Arga tidak masuk akal dengan kondisi Tasha yang sedari tadi pulang dari kantor kini seperti sedang tidak baik-baik.


Arga kini sudah tidak tega mendengar suara rintihan Tasha kini menduduki ujung sofa itu dan memeluk Tasha yang kini berada didalam pelukkannya.


"Jika kamu ingin bercerita saya akan mendengarkannya" bisik Arga ditelinga Tasha dengan jarak yang kini untuk pertama kalinya sangat dekat setelah pernikahan mereka.


"Aku kembali melihat dia om" Arga berkerut dahi mendengar perkataan Tasha yang dengan suara seraknya.


"Apakah dia yang pernah membuatmu terluka?" Tebak Arga dan kini melihat wajah Tasha yang menunduk setelah dia melepaskan pelukan Tasha padanya.

__ADS_1


"Om, dia sekarang sudah bahagia. Semakin dia bahagia, semakin hati ku sakit om. Dia seharusnya mendapatkan lebih sakit dari apa yang saya rasakan om"


"Kamu mau apa? Kamu mau melihat kesengsaraannya. Saya akan berikan pada mu"


__ADS_2