Jodoh Ku Tertunda

Jodoh Ku Tertunda
11. Belum Tenang


__ADS_3

"Tasha kenal kan ini para rekan bisnis papa semua" Erik memperkenalkan rekan bisnisnya pada Tasha satu persatu.


"Ini pak Diki yang memiliki perusahaan bisnis dibidang properti, ini pak Tito yang mempunyai hotel dan appartement ternama yang berada dibeberapa kota-kota besar, dan ini pak Arga yang memiliki bisnis real estate."


Satu persatu Erik memperkenalkan para rekan kerjanya pada Tasha.


Tasha memberi sambutan menyalami satu persatu rekan bisnis sang papa dan memberikan senyuman terbaiknya pada rekan-rekan papanya.


Sebelum Tasha turun dari kamar hotel nya, Tasha sudah memperbaiki riasan makeup diwajahnya kembali yang sudah berantakan karena tangisannya.


Tasha yang berada diantara rekan sang papa pun jengah atas pembahasan mereka. Dia sama sekali tidak mengerti tentang bisnis apa yang sedang mereka bahas. Mata Tasha terus mencari-cari keberadaan sang mama.


"Pa, kakak jumpai mama dulu ya pa" bisiknya kepada sang papa. Erik yang melihat kegelisahan sang putri pun memberi anggukan.


"Maaf sebelumnya om-om, saya harus menjumpai mama saya dulu, permisi" Tasha tersenyum dan mulai bernafas lega setelah pergi.


'Huhhh akhirnya, kenapa sih papa harus menyuruhku turun dan beramah-tamah sama para bapak-bapak itu, lagian gak ada juga yang bisa aku masukin pembicaraan mereka' Tasha yang bergumam sendiri pun berjalan mendekati sang mama.


'Yahh disana para bapak-bapak, disini para ibu-ibu. Lama baget sih acara ini berakhir' Tasha berputar arah tidak jadi menemui sang mama.


***


Setelah beberapa hari setelah pernikahan Dewi, dirumah kediaman Erik itu pun tampak sangat sepi. Tasha yang semenjak sang adik yang sudah dibawa oleh Riko, Tasha lebih sering menghabiskan waktu nya diluar rumah.


"Pa, mama mana" langkah Tasha mendekat kepada sang papa yang berada diruangan tamu dirumah itu.


"Mama lagi siap-siap"


Tasha berkerut dahi menatap penampilan sang papa. "Mau pergi kemana pa?"

__ADS_1


"Tumben banget peduli sekarang sama papa mama. Akhir-akhir ini kakak kenapa jarang ada dirumah" Erik sangat mengkhawatirkan sang putri yang tinggal satu-satunya menjadi tanggung jawabnya.


"Kepo deh papa" Tasha tersenyum menggoda sang ayah.


"Lah kok kepo, papa harus tau kegiatan kamu Sha"


"Hemmm iya, Tasha gak kemana-mana kok pa. Hanya jalan, belanja, makan, nongkrong. Hanya itu" Tasha menjawab dengan polos nya.


"Biasa-biasa nya kamu jarang sekali mau keluar rumah kak" lirik sang papa pada Tasha.


"Pa, ayo berangkat, nanti kita terlambat, kasian mereka terlalu lama menunggu" langkah kaki sang mama mendekat keruangan dimana sang anak dan sang papa sedang mengobrol.


"Kakak mau ikut" ajak sang papa pada Tasha.


"Gak ahhhh, mana sempat pa, mana lagi aku cari bajunya, makeup nya, cari sepatu, tas. Emang nya mau kemana sih ?" selidik Tasha pada orang tua nya.


"Ya udah, papa mama pergi dulu ya. Kamu tetap dirumah jangan keluar malam ini. Paham" tegas Erik kepada Tasha.


Tasha yang sudah ditinggal sang mama dan papa, kembali kelantai dua dimana tempat kamarnya berada.


Masih diambang pintu, mata nya tertuju kepintu disebelah nya berada persis disebelah kamar Tasha yaitu kamar sang adik yang tertutup itu.


Nafasnya berat, matanya kembali berkaca-kaca, ini adalah alasan kenapa Tasha selalu tidak betah berada dirumah. Dia selalu mengingat kenangan nya dengan sang adik.


Langkah nya menuju kekamar Dewi dan membuka handel pintu kamar itu.


Ceklekk


Ruangan kamar yang sudah rapi tidak ada penghuninya. Mata Tasha mengedarkan kesudut kamar itu.

__ADS_1


"Dek, kakak rindu" air mata Tasha pun jatuh. Diusapi nya tempat yang berada diruangan itu. "Kakak dulu pernah tidur disini, disamping kamu"


Dilihat nya foto-foto figur di atas nakas, foto mereka saat masih kecil. "Dek, nasib mu nasib beruntung dek, jangan seperti nasib kakak ya dek"


"Dek, sebenarnya lebih sakit dilangkahi menikah oleh adik sendiri dari pada ditinggal menikah oleh kekasih dek. Kamu beruntung tidak mengalami nya" tangisan Tasha semakin pecah sambil memeluk foto yang sudah diambilnya diatas nakas meja Dewi.


"Kamu rindu kakak gak ya dek?"


Tasha mengusap pipi nya yang sudah basah dengan kasarnya. "Udah ah Tasha, jangan nangis aja. Kapan kamu senyumnya. Kamu sendiri yang bilang, setiap orang itu punya kehidupan masing-masing. Pasti akan mencari jalannya. Yah Dewi sudah menemukan jalan nya dengan pasangannya. Kamu tidak boleh menangis aja. Kehidupan itu semakin bergerak berjalan, bukan mundur" Tasha terus begumam sendiri.


Tasha yang sudah kembali kekamarnya mulai merebahkan tubuhnya ke atas ranjang.


Didalam kamar yang sudah tamaram, Tasha masih berada didalam pikiran nya. Ini sudah menunjukan pukul 2 pagi, tapi mata nya tidak bisa untuk dipejamkan.


Tasha yang haus pun turun kelantai dasar untuk kedapur dan melihat sang papa masih menonton TV disana.


"Pa, kenapa belum tidur ?" tanya Tasha yang tadi nya ingin ke dapur untuk minum.


"Kamu kenapa belum tidur Sha? sini duduk Sha" kebas Erik sofa yang berada disebelah kanan nya untuk duduk sang putri.


Tasha pun melangkahkan kaki nya mendekat pada sang papa lalu duduk disebelah sofa yang diduduki sang papa.


"Pa, papa itu sudah tua, kenapa sudah jauh malam gini belum juga tidur. Udah ahh pa, ini tidak baik untuk kesehatan papa. Papa lihat jam di dinding itu, sudah menunjukkan pukul 2 pagi pa. Ayo la tidur" tunjuk tasha pada jam yang berada diatas TV diruangan itu.


"Papa masih banyak pikiran Sha. Papa masih belum tenang"


"Papa ada masalah. Apa masalah papa. Ayo cerita pa, kakak memang tidak bisa bantu banyak seperti apa yang bisa papa dan mama lakukan pada kami" Tasha memeluk sang ayah untuk memberikan semangat kepadanya.


"Papa belum tenang karna masih ada tanggung jawab papa terhadap mu Sha" seketika Tasha merenggangkan pelukan nya pada sang papa.

__ADS_1


"Maksud papa apa ?" mata nya sudah berkaca-kaca "Maksud papa, papa sudah tidak mau lagi menjadikan aku sebagai tanggungan papa. Papa sudah bosan dengan kakak yang berada dirumah ini dan mengurusi kakak"


"Bukan begitu sayang, kita tidak tau kehidupan kita kedepan nya akan seperti apa. Apakah umur papa dan mama akan panjang dan dapat melihat mu bersanding dengan orang yang tepat. Papa selalu takut tentang hal itu. Papa takut jika suatu saat papa lebih dulu meninggalkan kalian dan belum sempat menitipkan mu kepada orang yang tepat Sha. Papa tidak bisa menjadi wali nikah mu nanti Sha. Karna kamu lah tinggal anak papa satu-satunya yang belum papa tunaikan kewajiban papa sebagai seorang ayah" mata yang biasanya selalu tegas kini seakan redup, manik sang papa sudah berkaca-kaca. Raut wajahnya sama ketika sang papa menikah kan Dewi dan Riko pada waktu itu. Air mata sang papa tumpah begitu saja ketika acara ijab kabul Dewi telah selesai pada saat saksi mengatakan sah.


__ADS_2