Jodoh Ku Tertunda

Jodoh Ku Tertunda
29. Tidak Menyangka


__ADS_3

Suara aktifitas derap langkah diluar appartement sudah terdengar, cuaca yang begitu dingin karena hari diluar hujan menambah ketenangan dan kenyaman dalam tidur Tasha dan juga Arga yang masih berada tidur dibawah bar dapur. Tasha dari malam yang sudah menyandarkan kepalanya pada Arga merasakan kenyamanan dalam tidurnya walaupun hanya beralaskan lantai disana. Kini Tasha mulai menggerakkan tubuhnya dan memicingkan untuk membuka matanya.


Dengan nafas yang masih merasakan sesak dari bangun tidurnya yang belum normal, Tasha membolakan matanya menatap Arga yang juga ikut tertidur di bar dapur yang berada disampingnya dengan melipatkan kedua tangan nya keperutnya.


"Om apa yang terjadi, kenapa kita bisa tidur disini?" Tasha yang sudah menjarakkan tubuhnya dengan Arga dan memeluk dirinya sendiri kini menatap wajah Arga dengan sangat lama. Tasha yang masih bingung dan lupa akan cincinnya sampai mengapa dia bisa tertidur dibar dapur bersama dengan Arga. Dengan cepat Tasha langsung bangun dan meninggalkan Arga sendiri menuju kekamarnya.


Langkah Tasha terhenti ketika diambang pintu kamarnya, dia mengingat tentang cincin yang belum ketemu sampai dia tertidur dibar kitchen itu.


"Cincin ku. Ya Tuhan, aku belum menemukannya" dengan cepat Tasha membalikkan kembali tubuhnya dan melangkahkan krmbali kakinya ke arah menuju kedapur yang menjadi tempat hilangnya cincinnya itu. Belum sampai ketempat tujuannya itu, tiba-tiba langkahnya terhenti seperti ada sesuatu yang melingkar dijari manisnya.


Maniknya membesar ketika melihat benda yang dicariknya semalaman telah melingkar lagi di jari manisnya. "Om?" Mata Tasha mengarah pada Arga yang masih tertidur disana dengan manik yang sudah berkaca-kaca.


"Terimakasih, ternyata om telah menemukan cincinku" air mata yang sudah tidak tertahan lagi, kini jatuh dikedua pipinya.


Tasha yang kini menatap kembali kearah Arga yang masih berada dibar dapur itu tidak tega yang harus tertidur diluar karena membantunya mencari benda bulat kecil yang membuatnya harus merasakan kelelahannya.


Tasha kini kembali kedapur itu untuk membangunkan Arga yang masih tertidur disana. Kini langkahnya terhenti tepat dihadapan Arga yang masih dengan posisi kaki yang diluruskan dan kedua tangannya masih dilipatkan nya diperutnya.


"Om bangun" guncang Tasha tubuh Arga yang menyandar di dinding bar itu.


Arga merasakan tubuhnya diguncang dengan nada suara Tasha yang membangunkannya kini mengucek matanya dan menatap Tasha kini sudah berada dihadapannya sambil berjongkok.


"Om bangunlah, ini sudah siang. Kita harus kekantor" tarik Tasha lengan Arga yang hanya mengikuti Tasha dan belum memiliki tenaga.


*

__ADS_1


Hari ini adalah hari pertama Tasha kembali untuk bekerja setelah sekian lama dia meninggalkan pekerjaannya untuk berbulan madu yang telah direncanakan orang tua Arga.


Arga yang telah terlebih dahulu keluar dari kamarnya menatap kamar pintu Tasha yang masih tertutup rapat. Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Ini adalah waktu terlambat bagi Arga walaupun dia adalah seorang yang memiliki perusahaan itu.


Tok tok tok


Suara pintu sudah terdengar kedalam ruangan kamar yang ditempati Tasha itu. Tasha yang masih didepan nakas rias nya tidak mengindahkan ketukan pintu Arga dan melanjutkan riasan nya kembali.


"Bocah tengil, kamu jadi kekantor tidak? Saya buru-buru. Jika lama, saya tinggal kamu" dengan nada besar dan tegasnya Arga menjerit diluar pintu kamar Tasha.


"Om sebentar" teriakan Tasha yang masih didalam kamarnya kini buru-buru mengambil tasnya dan berlari keluar dari kamar miliknya.


Dengan pakaian kantor memakai kemeja dengan rok span dibawah lutut Tasha berlari kecil mengejar Arga yang telah hampir sampai dipintu appartementnya.


Tasha terus mengejar Arga sambil memperbaiki sepatu yang dipakainya kini melihat ke arah punggung Arga yang telah meninggalkannya.


Arga yang sama dengan sikap dinginnya tidak mengindahkan Tasha dan tetap terus berjalan menuju kubikel besi appartement yang akan mengantarkan mereka ke lantai dasar dimana mobilnya teparkir.


**


Arga berjalan beriringan dengan Joe asistennya dan juga seseorang dari divisi yang berkerja diperusahan miliknya yang bernama Mario menuju ke meeting room disebuah gedung yang berada dilantai 18 perusahaannya.


Arga yang akan melanjutkan kerjasama dengan sebuah perusahaan yang bergerak dibidang industri yang seharusnya sedang berjalan itu dan harus sedikit terkendala karena liburannya.


Ditempat lain dari perusahaan yang sedang bekerjasama dengan perusahaan milik Arga sudah menunggu di ruangan yang akan dijadikan tempat meeting.

__ADS_1


Arga melangkahkan kaki nya menuju kubikel besi yang akan menghantarkan mereka ke lantai yang akan mereka tuju.


Dengan berkas-berkas penting yang akan menjadi materi mereka yang telah dibawa oleh asistennya itu, mereka telah sampai dipintu masuk ruang meeting itu.


Cklekk


Suara langkah derap sepatu yang sudah mengudara membuka pintu masuk ruangan meeting itu.


Tasha yang menatap kearah pintu masuk itu begitu shocknya ternyata perusahaannya bekerjasama dengan perusahaan milik Arga yang sekarang adalah suaminya.


Bukan hanya Tasha yang begitu terkejutnya, Linda seorang rekan kerjanya yang terlibat dalam kerjasama ini juga begitu shocknya melihat seseorang dengan pakaian kemeja rapi yang membuat matanya menatap pada Arga dan juga Tasha.


Linda mengenal Arga pada saat acara pernikahan Tasha dan Arga pada waktu itu. Dia juga tidak menyangka ternyata kerjasama yang sedang berjalan ini adalah kerjasama antara perusahaan yang Tasha tangani dengan perusahaan milik Arga suami Tasha.


Tasha yang sudah tidak bisa berkonsentrasi lagi setelah kedatangan Arga membuatnya keringat dingin. Linda yang telah menyenggol kakinya kini Tasha seolah tau apa yang sedang dipikiran Linda sama dengan apa yang sedang dipikirkan nya.


"Apa-apaan ini, sesempit itu kah dunia ini. Dimana-mana aku harus bertemu dengannya" gumamnya sendiri yang sedang duduk diruangan.


Arga yang sudah masuk dengan berwibawanya yang didampingi Joe dan juga Mario. Arga yang duduk didepan ruangan itu yang akan sebagai pemateri dalam meeting yang akan membawa jalannya pertemuan itu tepat disebelah Joe dan Mario.


Mario adalah seorang divisi yang ditunjuk Arga yang sebelumnya telah bertemu dengan Tasha dan juga rekannya Linda. Pada waktu itu hanya Mario lah yang menjadi utusan dari perusahaan Melvi Winston Real Estate yang menjadi perwakilannya.


Awalnya Erik dan juga Herni berencana untuk mendekatkan Arga dan Tasha dalam suatu bisnis. Hingga Erik yang sangat mengenal Marta atasan Tasha itu, sengaja memerintahkan Marta rekan bisnisnya itu untuk mengutus Tasha yang akan menjalankan kerjasama dengan perusahaan Arga yaitu Melvin Winston Estate.


Ditempat lain Arga yang sudah mengetahui rencana Erik dan sang mama hanya bersikap seolah tidak mengetahuinya. Arga sudah tau jika dia akan dijodohkan dengan Tasha anak dari pengusaha di perusahaan Pratama Incrop dan memiliki seorang anak yang bekerja di perusahaan Pelita Indah. Maka dari itu waktu pertama kali kesepakatan kerjasama itu berlangsung, dia hanya mengutus bawahannya yang menemui Tasha.

__ADS_1


__ADS_2