Jodoh Ku Tertunda

Jodoh Ku Tertunda
83. Tidak Percaya


__ADS_3

Tidak terdengar lagi suara berisiknya ketika karyawan ditempat itu sedang bekerja, kini manik coklat Tasha membulat. Dia tidak tau entah sudah jam berapa dia tertidur diruangan itu sehingga tidak menyadari lagi bahwa jam bekerja telah usai.


Tasha yang sudah mengusap wajahnya kasar dan ini tidak lah sedang bermimpi, benar dengan jelas saat ini yang ada dihadapannya adalah sang suami telah berada diruangannya.


"Mas?" Ucap Tasha sambil meraba wajah Arga.


"Sudah tidurnya sayang, dirumah kita lanjut ya" ujar Arga yang juga telah membereskan meja kerja sang istri dan bersamaan dengan barang-barang Tasha yang dimasukkan nya juga kedalam tas kecil yang dikenakan Tasha.


"Mas menjemput ku sampai sini?" Dengan nada yang masih terdengar serak, Tasha mulai bangkit dari tempatnya.


Arga menghembuskan nafasnya berat, suami mana yang tidak merasa gelisah ketika sedang menunggu sang istri pulang dari bekerja didepan lobby dengan jam kerja telah selesai, namun sang istri belum juga kunjung terlihat dimatanya.


Arga dan Tasha berjalan keluar beriringan dengan tangan Tasha yang telah menyalipkan dilengan sang suami dan tanpa rasa malunya Arga juga membawakan tas sang istri ditangan sebelah nya yang lain. Tidak jarang orang-orang yang masih berada diluar lobby itu melihatnya dengan tatapan bangga karena Tasha karyawan biasa yang juga bekerja dikantor mereka itu, mendapatkan pasangan yang pengertian seperti Arga, tidak hanya dari segi wajah dan penampilan Arga saja, namun juga bagaimana Arga memperlakukan Tasha dengan baiknya.


"Mas, kita nanti singgah keapotik ya" perintah Tasha pada suaminya yang sedang melajukan mobil yang dikemudi nya keluar dari perusahaan Tasha.


"Mau belik apa sayang?" Tanya Arga yang memang selalu menanyakan apa-apa saja yang akan dilakukan sang istri.


Tasha terdiam sejenak, dia juga belum mempersiapkan jawaban pada sang suami bahwa sebenarnya dia ingin membeli alat tes kehamilan. Dia tidak ingin belum memberitahukan rencananya pada Arga karena jika kenyataannya nanti tidak diharapkan, dia tidak sanggup melihat Arga yang akan kecewa.


"Hemm mau beli obat mas, sepertinya aku kurang vitamin sehingga akhir-akhir ini lemas" ucap Tasha asal pada Arga.


"Kenapa tidak langsung ke dokter saja kita sayang?" Sambung Arga yang masih memfokuskan pandangannya kearah jalan yang dikemudinya.


"Gak usah deh mas, apotik aja ya" perintah Tasha

__ADS_1


Selama sejauh ini, Arga memang tidak pernah membantah ataupun melarang Tasha untuk hal apapun jika itu belum membahayakan sang istri.


Tidak jauh dari kantor Tasha itu, kini mobil yang Arga kemudikan tidak lama berhenti dihalaman parkir apotik yang telah disarankan oleh istrinya dan Arga yang tadinya juga ingin keluar masuk untuk membelikan vitamin yang dibutuhkan Tasha, namun dihalangi oleh sang istri.


Setelah selang beberapa menit, Tasha yang telah keluar dari apotik itu menenteng sebuah plastik yang benar saja terlihat jenis-jenis obat-obatan yang dibeli nya.


Tespek yang juga dibeli nya itu, sebelumnya telah disimpannya didalam tas miliknya dan hanya tinggal beberapa obat yang ada didalam plastik yang dibawanya saat ini.


*


Suara deringan alarm yang telah disetting Tasha sudah berdering didalam kamar yang mereka tempati.


Tasha yang sengaja mengatur alarm yang masih terlalu pagi takut jika Arga terlebih dahulu bangun darinya.


Sebuah kamar yang berantakan masih seperti biasa yang dilakukan mereka, setiap malam berdua selalu saja melakukan pertempuran panas diantara Arga dan Tasha.


Beberapa jam telah berlalu dan matahari juga telah bersinar, Tasha masih disibukkan dengan aktifitas paginya seperti biasa yang sudah lama tidak dilakukannya beberapa hari belakangan ini yaitu membuatkan sarapan untuk sang suami sebelum rutinitasnya kekantor bersama dengan asisten rumah tangga nya yang juga baru datang kerumah mereka.


Didalam sana Arga juga baru terbangun dari tidurnya mencari sang istri yang sudah tidak ada lagi ditempat tidur mereka, dan dia juga telah menduga jika sang istri pasti sedang berada didapur rumah itu.


"Selamat pagi sayang" ucap Tasha melihat suaminya itu baru saja keluar dari kamar mandi.


"Pagi sayang" kecup Arga lembut bibir istrinya yang telah mendekat padanya.


"Hemm mari kita sarapan sayang" ajak Tasha suaminya itu yang masih memeluk tubuhnya.

__ADS_1


"Hari ini mas rasanya malas untuk pergi kekantor sayang. Dan mas harap kamu juga demikian" ucap Arga menatap istrinya sambil menciumi setiap wajah Tasha.


Tasha yang juga telah melingkarkan kedua tangannya dileher sang suami menikmati setiap ciuman yang Arga lakukan setiap pagi seperti sudah menjadi sebuah rutinitas menyambut pagi hari mereka.


"Oh iya mas, tadi ada paket datang. Katanya dari kantor" ucap Tasha memgambil paket berukuran kecil itu pada sang suami.


"Paket? Tumben sekali pihak kantor mengirimkan kerumah sayang" ucap Arga sambil mengambil dan mengamati paket itu yang telah diberikan Tasha padanya.


"Hemm aku juga tidak tau mas" ujar Tasha mengendikkan bahunya masih bersandar did**a sang suami.


Kini Arga membawa istrinya itu keranjang mereka lagi dengan terduduk menyandarkan kepalanya di headboard ranjang itu sedangkan Tasha berbaring menjadikan paha sang suami sebagai tempat untuk bantalannya.


Arga yang masih menatapi lama kotak kecil itu dengan tangan sebelahnya mengusap-ngusap rambut sang istri.


"Sayang ini benda apa? Ini maksudnya apa?" ucap Arga membolakan matanya setelah dia membuka kotak kecil itu dan dia juga tau benda itu adalah sebuah tespek pengecek kehamilan wanita walaupun dia tidak pernah memegangnya secara langsung.


"Garis ini menandakan apa sayang" ulang Arga yang kini menatap tajam pada wajah cantik istrinya yang masih tidur dipahanya.


Tasha yang berangsur bangun dari pembaringannya itu membalas tatapan Arga sambil tersenyum dan mengambil tangan suaminya itu kearah perutnya.


"Hemm. Papa sekarang aku sudah berada didalam perut mama. Aku tau jika papa tidak sabar untuk bertemu dengan aku begitu juga dengan mama" ucap Tasha dan membawa tangan suaminya itu keperutnya yang masih rata.


Arga spechless mendengar penuturan istrinya itu, bahkan keharuannya yang tiba-tiba saja dia menjatuhkan butiran bening dikedua sudut matanya tidak percaya jika sekarang sang istri sedang mengandung benih cinta mereka berdua dan dia juga masih belum percaya atas doa-doanya selama ini yang dipanjatkannya pada sang pencipta dikabulkan diwaktu-waktu tidak terduga.


Arga langsung memeluk tubuh Tasha dengan sangat erat sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


"Ini tidak sedang bermimpi kan sayang" ucap Arga kembali menatap Tasha.


"Sayang, terimakasih. Terimakasih telah mengandung buah hati kita sayang" kecup Arga setiap tubuh istrinya itu dan berakhir pada tempat dimana seorang janin yang sedang tumbuh ditubuh istrinya itu.


__ADS_2