
Cahaya rembulan masih bersinar dan cuaca malam masih menggelap. Seliran angin-angin menjelang subuh juga menembus ketulang-tulang. Apalagi kasur yang dipakai Arga dan Tasha menempel langsung kelantai tanpa penghalang.
Tasha yang masih tertidur dengan posisi yang sama sebelum dia tidur, begitu juga dengan Arga yang masih memposisikan tangannya melingkar di perut Tasha agar istrinya tidak jauh langsung keatas lantai.
Waktu semakin bergerak suara diluar kosan Tasha yang tadinya tidak begitu ramai kini telah berubah semakin ramai. Para pekerja yang akan mencari nafkah itu, telah berangkat silih berganti.
Arga yang bangun lebih dulu dari Tasha kini menatap wanitanya yang sudah sangat lama tidak dilihatnya dalam keadaan tidur seperti sekarang ini.
Wajah yang sendu dengan rambut yang dibiarkannya tergurai indah menambahkan mahkota yang selalu ingin diciumnya diwaktu-waktu bangun tidur seperti ini.
'Saya tidak menyangka akan dipertemukan dengan mu lagi. Terimakasih telah mempercayakan kembali kepada saya untuk berada disamping mu dan bersama-sama melengkapi hari-hari kita kedepannya Natasha' dengan tatapan yang kini mengarahkan maniknya kewajah Tasha dengan penuh syukurnya.
*
Arga dan Tasha yang telah berada didalam mobil dan disupirkan oleh seorang supir yang sama ketika membawanya untuk berjuang menemui sang istri. Arga dan Tasha yang duduk dibangku belakang penumpang tanpa malunya mereka menunjukkan kemesraan dihadapan seorang lelaki itu yang tidak berani melirik walaupun itu hanya dari kaca spion penumpang nya.
"Mas aku boleh minta satu permintaan lagi?" dengan nada ragu-ragu Tasha menatap kearah Arga yang tepat disampingnya dan memainkan jemarinya diwajah Arga.
"Hemm boleh, permintaan apa itu sayang?" Sambil menangkap wajah Tasha, Arga menenggelamkan wajahnya keleher sang istri.
"Auuu sayang, geliii" jeritan Tasha mengudara dimobil itu dengan nada yang seperti menikmati dan menagih.
Tasha yang langsung menutup mulutnya karena jeritannya yang membuat supir itu berpura-pura tidak mendengarnya, dan Arga yang hanya tersenyum melihat wajah Tasha yang sudah memerah karena ulahnya.
__ADS_1
"Tidak masalah sayang, menjeritlah sesuka mu, karena orang-orang yang bersama kita tidak akan berani melihatnya walaupun itu tepat didepan mata mereka" bisik Arga yang sengaja membuat Tasha semakin malu.
Raut wajah yang masih memerah kini Tasha memalingkan wajahnya kearah jendela mobil yang berada disebelahnya. 'Memalukkan, kenapa sih Sha suara mu seperti perempuan penggoda' batin Tasha yang menetralkan kembali wajah merahnya seperti memakai blush on.
"Mau minta apa sayang?" wajah yang kini telah menyandarkan dibahu sang istri dengan kedua tangan yang telah melingkar diperut istrinya itu.
Tasha menarik nafas panjangnya, dia kembali mengingat tentang permintaannya pada sang suami untuk menemui Denis yang diketahuinya jika Denis bekerja disebuah pabrik tidak jauh dari pekerjaannya sebelumnya.
"Aku mau menemui seseorang disini sebelum kepulang kita, boleh mas?" Ucap Tasha telah mengalihkan kembali wajahnya dengan nada yang memelas takut jika Arga tidak mengizinkan nya jika dia akan bertemu dengan seorang laki-laki dan membuatnya cemburu kembali.
"Siapa dia?" tatap Arga yang sudah mendungakan wajahnya kearah Tasha.
"Sahabat ku mas, sekarang dia menetap disini, tapi-" Tasha memotong kalimatnya, dia takut jika Arga akan marah dan akan membuat hubungan mereka kembali merenggang karena sahabat yang akan ditemuinya adalah seorang lelaki.
"Hemm tapi apa sayang" sambung Arga yang telah menunggu Tasha tetapi tidak melanjutkan kalimatnya.
"Ini adalah sahabat semasa kuliah saya mas. Dia adalah seorang lelaki, saya mohon mas tidak cemburu padanya, kami hanya sebatas berteman, memang dia menaruh hatinya pada saya mungkin sampai hari ini. Tapi mas percayalah, dia tidak seburuk lelaki dimasa lalu saya yang menghancurkan rumah tangga kita. Saya juga percaya dan yakin, dia juga akan bahagia melihat saya dengan mas sekarang. Tapi jika mas tidak mengizinkan untuk saya menemuinya tidak masalah mas" Tasha yang telah menimbang-nimbang untuk mengutarakan ini pada Arga, takut kesalah paham kembali terjadi diantara mereka.
Arga yang hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun yang keluar dari bibirnya kini memerintahkan supir yang membawa mereka untuk menuju ketempat yang telah diminta sang istri.
Tidak lama dari perjalan mereka langsung menuju ke pabrik itu yang hanya memakan waktu 10 menit jika menggunakan mobil.
Tasha yang akhirnya tersenyum akhirnya bisa menemui Denis kembali sebelum kepulangannya yang tidak tau apakah akan bertemu lagi dengan sahabat yang dari semasa kuliah selalu menjaga dan melindunginya itu.
__ADS_1
Langkah kaki Tasha keluar dari mobil itu dan mendekat kearah lobby pintu masuk dipabrik itu.
Tanpa disadari oleh Tasha, Arga yang juga ikut turun kini berada dibelakang Tasha mengikutinya dari arah belakang.
Tasha yang masih ragu-ragu untuk masuk dan tidak adanya nomor Denis lagi untuk dihubunginya, membuatnya bingung harus kesiapa dia akan menanyakan keberadaan Denis.
"Denis" dengan sekali jeritan Tasha, sukses membuat Denis menoleh kearahnya.
Wajah yang terlihat tidak lagi seceria biasanya, Denis mulai ragu-ragu untuk mendekat kearah Tasha, dia juga tau bahwa lelaki yang berada dibelakang Tasha itu adalah suaminya.
Tasha langsung berhambur mendekat kearah Denis, dia masih sama seperti waktu mereka kuliah. Dia tetap menyayangi sahabatnya itu walaupun tidak lebih dari sebatas sahabat. Tasha yang selalu berlindung dengan Denis jika dia memiliki masalah. Denis sangat berjasa dihidupnya. Pada waktu itu, Tasha yang merasa tidak memiliki sesosok kakak yang dapat melindunginya dan menjaganya, setelah bertemu dengan Denis, dia selalu mengadukan hal-hal kehidupannya bersama dengan Denis.
"Denis, maafkan aku" dengan suara yang terdengar lirih, Tasha memeluk Denis walaupun tidak ada balasan pelukan dari Denis. Pandangannya masih berada diwajah Arga yang memantau mereka dari kejauhan.
"Kenapa minta maaf Sha?" Ucap Denis mulai mengelus rambut Tasha yang masih dalam pelukkannya.
"Maaf kan aku yang menutupi identitasku kemarin dan maafkan ku juga atas perasaanmu pada ku Den"
Tasha tidak lagi dapat membendung rasa sakit yang bertahun-tahun dirasakan oleh sahabatnya itu. Bertahun-tahun Denis yang hanya bersikap seperti layaknya sahabat tidak pernah menampakkan jika dia memiliki perasaan yang lebih padanya. Mungkin Tasha juga tidak melihat perhatian demi perhatian yang Denis berikan padanya karena pada waktu itu Tasha telah bersama dengan Farhan.
Raut wajah Denis yang telah berubah dengan perasaan yang tidak menyangka jika Tasha mendengar ucapannya waktu itu ketika Tasha telah pergi meninggalkannya membuat gejolak did**anya.
"Maafkan aku tentang perasaanku yang tidak bisa ku tolak Sha. Aku terlalu menyayangi waktu itu hingga sekarang, tapi aku tau memang aku tidak akan pernah bisa bersama mu dan bahkan itu hanya mimpi untuk dapat memiliki mu. Aku bahagia melihat mu bahagia Sha. Aku yakin kau pasti jauh bahagia dengan suami mu yang sangat mencintaimu dari pada jika kau dulu mengetahui isi hati ku dan aku bisa memiliki mu, namun sangat berbeda. Aku tidak bisa memberikan apapun yang sekarang suamimu bisa memberikan mu semuanya. Jalan hidup memang harus seperti itu Sha, kau dulu ditinggal menikah dengan Farhan, dan kau menikah dengan orang yang tidak kau kenal, tapi nyatanya takdir tidak akan berkhianat Sha. Kamu mendapatkan jauh dari apa yang kamu harapkan pada saat itu. Setelah aku melihat perjuangan perjalanan kehidupanmu dengan kesabaran mu yang telah membalikkan semua sedihmu kini menjadi bahagia. Dan aku juga percaya dengan sebuah Takdir Sha, aku juga akan dapat kebahagian lain walaupun tidak bersama dengan mu. Aku harap jangan ada lagi air mata kesedihan yang mengalir dikedua matamu Sha, aku sangat benci jika dulu melihatmu menangis karena orang bodoh itu Sha. Semoga kalian bisa berbahagia sampai maut memisahkan kalian sahabat terbaikku" pesan Denis dengan butiran bening yang siap meluncur disudut matanya.
__ADS_1