Jodoh Ku Tertunda

Jodoh Ku Tertunda
77. Sedang Simulasi


__ADS_3

"Ya baik Riko, kakak akan segera kesana" ucap Tasha dibalik benda pipihnya.


Jam menunjukkan pukul 4 pagi, Tasha yang masih dalam kondisi tertidur bersama dengan Arga sang suaminya didalam kamar mereka, tiba-tiba saja Riko sang adik iparnya menghubungi jika Dewi sedang dibawa ke rumah sakit karena mengalami kontraksi didalam kandungannya.


Tasha yang mendapat kabar itu langsung bangun dari tidurnya. "Mas, bangun mas" Tasha mengguncang tubuh kekar sang suami yang telanjang d**a itu.


"Hemm" Arga yang masih mengantuk tetap melanjutkan tidurnya walaupun Tasha telah berusaha membangunkannya.


"Ihh om tua ini, makanya jangan selalu bergadang dan menindih tubuhku sampai lupa untuk tidur. Kalau sudah tidur susah untuk dibangunkan" gerutu Tasha sambil meletakkan kembali benda pipihnya keatas nakas.


Tasha turun dari ranjang yang menjadi tempat tidur mereka dan berlari menuju kekamar mandi yang berada dikamar itu untuk membersihkan tubuhnya sebelum dia akan pergi menjenguk sang adik yang sedang berjuang untuk melahirkan buah cintanya dengan suaminya yaitu Riko.


Walaupun jam masih terlalu pagi, namun Tasha tetap mandi selepas pergelutan mereka malam tadi. Dengan sebuah bathrobe yang dikenakan nya dan rambut basah dililit dengan handuk kecilnya kini Tasha melangkahkan kaki melihat Arga masih tetap terlelap diranjang king size itu.


"Mas" Tasha kembali mengguncang tubuh Arga.


"Hemm kenapa sayang?" Arga mulai terbangun kini mulai membukakan matanya.


"Mas, Dewi sudah mau lahiran, ayo bangun" tarik Tasha lengan sang suami walaupun tenaganya kalah dengan Arga.


"Ya udah, kamu bersiap-siap, mas bersih-bersih dulu" perintah Arga yang bergerak bangkit dari tidurnya.


Persiapan yang tidak lama yang mereka lakukan, kini Tasha dan Arga dipagi-pagi yang masih subuh itu telah berada didalam mobilnya dan Arga yang sedang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang dibilang laju karena jalanan dipagi hari yang masih senggang.


Tidak ada komunikasi yang terjalin oleh keduanya, Tasha yang terlihat diam setelah mendengar kabar bahwa sang adik akan melahirkan terlihat dia yang menegang dari raut wajahnya.


Bisa Tasha rasakan apa yang dirasakan oleh sang adik, disaat-saat ingin melahirkan dan butuh semangat oleh orang tua, tetapi mama dan papa nya yang masih belum bisa berada disampingnya ketika hari yang ditunggu-tunggu itu tiba.


"Sayang" ucap Arga yang melirik kearah Tasha.

__ADS_1


"Hemm" hanya dengan deheman Tasha, Arga mengerti jika sang istri sedang tidak ingin berbicara.


Dalam perjalan yang tidak memakan waktu lama, Tasha dan Arga telah sampai disebuah rumah sakit Ibu dan Anak yang berada di Kota itu. Tasha berlari kecil meninggal Arga terlebih dahulu yang berada dibelakangnya.


"Om" ucap Tasha yang sudah menyalami ayah Riko yang ternyata sudah lebih dulu datang darinya.


"Tante mana om?" Tasha mengedarkan pandangannya mencari keberadaan ibu dari adik iparnya itu.


"Tante ada didalam Tasha" ucap Lelaki paruh baya itu pada Tasha.


Waktu terus bergerak, Tasha yang dibuat gelisah karena sudah dua jam an bahkan mungkin sudah lebih dia berada diluar ruangan itu namun sang adik juga belum diketahui kabarnya apakah sudah melahirkan dalam proses persalinannya atau belum.


Arga yang melihat wajah kegusaran Tasha kini mengambil tangan wanita itu dan mencoba untuk menenangkannya.


"Sayang, sesulit itu ya melahirkan?" ucap Tasha pada Arga dan menatap wajah sang suami.


Arga terus mengelus punggung sang istri untuk menghilangkan rasa kecemasan Tasha.


Dua jam sudah berlalu, setelah Dewi melahirkan bayi pertamanya berjenis kelamin perempuan. Kini seluruh keluarga Dewi dan Riko berada diruangan bersama dengan bayi mungil yang baru saja lahir itu.


Tasha yang pertama kali memasuki ruangan sang adik, dia langsung menemui Dewi yang masih lemah setelah selesai dari melahirkan buah hatinya.


"Dek selamat atas kelahiran putri pertamanya" kecup Tasha pada adik kesayangannya dan hanya satu-satunya.


Dewi yang masih dalam pembaringan itu menatap Tasha sang kakak yang selalu ada bersamanya walaupun mereka telah jarang bertemu setelah memiliki keluarga masing-masing.


"Terimakasih kak" usap Dewi lengan sang kakak.


"Tidak menyangka sekarang sudah ada yang panggil kamu dengan sebutan mama dek. Kakak ingat waktu-waktu kita masih kecil begitu cepat waktu berjalan. Sekarang kamu telah menjadi seorang ibu, bukan lagi adik kecil kakak yang selalu mengikuti kakak pergi, dan selalu menangisi setiap mainan kak. Status kamu sudah lebih unggul dari kakak dek. Semoga keluarga kalian semakin bahagia setelah adanya bayi mungil kalian dek" ucap Tasha dan memeluk sang adik dalam pembaringannya itu.

__ADS_1


"Aamiin... Aku terharu kak. Oh iya kak siapa nama anak Dewi mau kakak kasi nama" ujar Dewi pada sang kakak yang ingin kakak nya itu memberikan nama juga pada putri pertamanya.


"Dek, bukan kakak tidak ingin mengkasi nama untuk anak kalian, tapi kamu, Riko, kedua kakek dan kedua neneknya itu lah yang lebih berhak atas pemberian nama itu dek" ucap Tasha pada Dewi.


Setelah Tasha menemui adiknya yang baru saja melahirkan itu, kini dia mendekat dan ingin melihat sang ponakan. Sedangkan Riko yang kembali sibuk dengan Dewi pasca sang istri melahirkan sedangkan Ibu dari Riko yang mengurus sang cucu yang baru lahir itu.


Ratna Ibu Riko yang masih menggendong cucunya dari putranya dan Dewi mengharu biru, walaupun ini bukanlah cucu pertamanya, namun gadis mungil yang baru saja lahir itu adalah merupakan cucu pertama dari pernikahan Riko dan Dewi.


"Tante selamat ya telah lahir cucu kedua Tante dan Om" ucap Tasha yang mendekat pada ibu Riko.


"Terimakasih ya Tasha" sambung Ibu Riko yang juga sangat dekat dengan keluarga Dewi.


"Tante maafkan kedua orang tua Tasha yang tidak dapat hadir untuk menemani Dewi dalam persalinannya" tutur Tasha pada keluarga Riko, karena seharusnya orang tuanya juga berada ditempat yang sama untuk bersama-sama menyambut kelahiran cucu mereka itu.


"Tante dan om paham sayang, ini bukanlah keinginan kita. Orang tua mu juga menjalankan tugas mereka, karena yang sudah direncanakan jauh-jauh hari dan tidak menyangka jadwal yang ditentukan dengan orang sana sama dengan jadwal persalinan Dewi" ucap Ibu Riko sangat dapat memahami kondisi besannya itu.


"Kamu mau gendong nak" ucap Ratna ibu Riko padanya.


Tasha yang telah mengambil bayi mungil itu dari gendongan Ratna, kini dia tersenyum dan dipelupuk matanya telah bekaca-kaca, dia tidak menyangka jika sekarang dia telah memiliki seorang keponakan yang terlahir dari rahim sang adik yang belum memiliki nama itu.


Arga yang melihat Tasha menggendong keponakannya itu, kini dia bangkit dan mengayunkan langkahnya mendekat pada Tasha yang sebelumnya dia duduk disofa ruangan itu bersama dengan ayah dari Riko.


"Mas mau gendong?" tatap Dewi pada Arga yang sudah berada disebelahnya.


Arga memang belum pernah menggendong seorang bayi, masih canggung tidak paham bagaimana caranya, dengan sabar Tasha meletakkan bayi itu kedalam gendongan sang suami. Ini adalah pertama kalinya Arga menggendong seorang bayi, seperti anak kandungnya sendiri, Arga menciumi wajah gadis mungil yang dalam dekapannya itu.


"Kita seperti sedang melakukan simulasi untuk menjadi seorang ayah dan ibu ketika nanti kita memiliki anak ya sayang" tutur Arga pada istrinya yang sedang menatapnya.


Manik Tasha menatap Arga yang terlihat bahagia, dia tidak tau apakah Arga sekarang teramat sangat merindukan seorang anak dalam kehidupan mereka yang sampai sekarang dia juga belum memiliki tanda-tanda kehamilan.

__ADS_1


'Mas maafkan aku yang belum bisa memberikanmu keturunan' batin Tasha dengan wajah yang telah memerah.


__ADS_2