
Tasha yang sedang berada disofa appartement kini telah tertidur karena menunggu kepulangan Arga yang sudah larut malam.
Televisi yang menemaninya untuk mengusir rasa kantuknya ternyata tetap saja Tasha tertidur disofa dengan benda pipihnya digenggamannya.
Derap langkah kaki Arga yang telah masuk kedalam appartement nya dengan cahaya lampu yang masih terang, kini melihat Tasha yang telah tertidur dengan televisi yang masih menyala.
Arga yang kini mendekat kearah Tasha serasa dia juga tidak tega melihat wanitanya yang tidak pernah lagi ditegurnya selama kejadian yang membuat hubungan mereka kembali merenggang.
"Apa kamu belum selesai dengan masa lalu mu Natasha. Apa kamu memang masih mencintainya" gumam Arga yang telah mendekat kearah Tasha yang kini sangat dirindukannya itu.
Tasha yang merasakan helaan nafas seseorang yang berada didepannya kini membukakan matanya dan menatap wajah Arga tepat didepannya. Air mata Tasha jatuh tumpah kembali setelah lelaki yang dicintainya kini masih mau menatap wajahnya walaupun dia sedang tertidur.
"Mas, saya minta ma-" kalimat Tasha terhenti ketika Arga kini tidak lagi mengindahkan nya dan pergi berlalu meninggalkan Tasha.
Tasha yang mendapatkan perlakuan Arga kini padanya hanya bisa meratapi hidupnya dan melihat punggung Arga yang kini telah menjauh.
"Tidak masalah Tasha, bukan kali ini saja kamu diperlakukan tidak baik dengan seseorang. Kamu sudah terbiasa bukan?" Tasha yang terus menyemangati dirinya kini berjalan mengikuti Arga yang masuk kedalam kamar mereka.
Tasha yang sedang menunggu Arga keluar dari kamar mandi didalam ruangan itu, seperti biasanya dia menyediakan pakaian Arga untuk dikenakan suaminya itu. Namun lagi dan lagi setelah Arga keluar dari kamar mandi, Arga tidak pernah memakai pakaian yang selalu Tasha sediakan untuknya.
Helaan nafas panjang Tasha melihat sikap Arga yang sudah mulai jengah kini sebenarnya dia sudah tidak tahan dengan keadaan ini.
"Om, kenapa om tidak percaya dengan saya" Tasha yang sudah memberanikan diri kembali membuka percakapan diantara mereka.
__ADS_1
Arga yang telah mendengar pertanyaan Tasha yang berada dibelakangnya kini memutarkan tubuhnya dan menghadap kearah Tasha.
"Kamu tidak tau bagaimana perasaan saya ketika istri saya, istri sah saya sendiri tepat didepan mata saya, dicumbu oleh seorang lelaki dewasa yang tidak lain adalah mantan kekasih istri saya, dan sangat menikmati dan menatapi tajam tubuh istri saya. Dan kamu tau disaat-" Arga tidak lagi meneruskan kalimatnya, rasa sakitnya kini kembali lagi ketika mengingat kejadian itu yang ingin dilupakannya namun selalu saja menghantui pikirannya.
"Sekali lagi saya tanya pada kamu, pertanyaan ini tidak akan saya ulang-ulang lagi. Apa benar perkataan lelaki b*******k itu jika kalian memang masih memiliki rasa cinta yang belum selesai" tatapan tajam Arga dengan rahang yang telah menengang kini menatap manik Tasha yang sudah sangat emosi itu.
"Om mempercayai perkataan nya dari pada saya. Saya istri om, bagaimana om bisa percaya dengan nya" Tasha yang sedang menahan air matanya menatap tajam juga kebola mata Arga yang sedang beradu itu.
"Saya tidak tau, jika itu memang benar adanya, pergilah Natasha jika saya memang tidak ada ruang dihati kamu" suara tegas Arga yang telah mengudara diruangan itu dan pergi berlalu meninggalkan Tasha dengan butiran bening disudut matanya walaupun hatinya berkeping-keping hancur mengucapkan itu pada sang istri.
"Bagaimana saya bisa meninggalkan om, jika memang om lah tempat saya bersandar dan hanya om lah lelaki yang saat ini tempat saya berlindung" air mata yang tadinya ditahannya ketika dihadapan Arga kini telah tumpah saat Arga telah pergi meninggalkannya.
"Hidupku telah hancurrrrr" jeritan suara Tasha memecah diruangan yang hanya dia sendirian didalam kamar itu.
*
Masih sama seperti kemarin, Arga yang sebelum Tasha bangun, dia sudah pergi lebih dulu tanpa memberi tahu pada Tasha.
"Sudah biasa" gumam Tasha dengan mata yang sudah berair namun tidak keluar dari pelupuk matanya.
Mata yang telah melihat kehadiran Joe yang berada dilobby appartement yang ada disana, kini memberhentikan ayunan langkahnya setelah berada didepan assisten suaminya itu.
"Mencari bos anda Tuan? Dia telah pergi" ucap Tasha pada Joe yang ingin kembali melanjutkan langkah kakinya menuju kearah mobil miliknya.
__ADS_1
"Saya ditugaskan oleh Tuan Arga untuk mengantar anda Nyonya ke kantor" ucap Joe yang sebelumnya telah memberi hormat pada Tasha yang sebagai istri atasannya itu.
Tasha menarik nafas nya berat, rasa sakit yang semakin hari semakin dirasakan nya hidup satu atap dengan seseorang sudah tidak ada lagi disampingnya ketika dia sedang menangis dan membutuhkan punggung untuk mengadu.
"Sampaikan pada bos anda, saya bukan anak kecil yang harus disupirkan pergi oleh orang lain" Tasha yang sudah mendahului Joe, berucap tanpa melihat kearah Joe yang masih berada dibelakangnya itu.
"Tapi ini perintah dari Tuan Arga, Nyonya. Saya akan mengantarkan Anda dengan selamat sampai ketujuan kekantor Anda, Nyonya"
"Pergilah saya memiliki mobil sendiri dan saya juga bisa menyetir sendiri. Sampaikan pada bos Anda terimakasih atas perhatian yang telah dia berikan pada saya melalui Anda"
Air mata Tasha yang tadinya dapat ditahannya, kini harus keluar tanpa adanya aba-aba, dia tidak menyangka jika Arga menyuruh orang lain untuk mengantarkannya dengan perintahnya.
"Saya hanya menjalankan perintah dari Tuan Arga Nyonya, saya harap Nyonya mau ikut dengan saya dan mengantarkan Nyonya sampai ketempat yang telah diperintahkan Tuan Arga pada saya" ucapan Joe yang terdengar sendu membuat Tasha yang tidak lagi tega menolak Joe atas perintah Arga itu.
Tasha yang sudah menutup matanya dan menarik nafasnya terasa sakit yang kini dialaminya, namun harus dijalaninya.
Pintu mobil dibangku penumpang yang telah dibukakan oleh Joe untuk tempat yang akan diduduki Tasha kini. Dengan helaan nafas yang menyakitkan rasanya, dan kubangan air mata yang telah mengalir kini diusap dengan kasar begitu saja oleh Tasha dan masuk kedalam mobil yang telah terbuka itu.
Tasha yang sudah disupirkan oleh Joe yang berada dibangku belakang Joe, kini menatap kearah samping jendela dekat dengan tempat duduknya yang memperlihatkan gedung-gedung tinggi dan para orang-orang yang akan melakukan aktifitas mereka masing-masing.
Wajah yang sudah dipolesnya sebelum dia keluar dari apparetement itu, kini sudah menampakkan wajah yang memerah karena air mata yang dicoba untuk ditahannya.
"Nyonya sudah sarapan" ucap Joe yang membuka kehening didalam mobil itu yang ada hanya mereka berdua.
__ADS_1
Tasha bukan tidak mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Joe padanya, hanya saja dia malas untuk menjawab pertanyaan dari assisten suaminya itu.
'Tidak ada alasan saya untuk tetap hidup lagi didunia ini' batin Tasha sambil memainkan bibirnya dan masih dengan tatapan menerawangnya.