Jodoh Ku Tertunda

Jodoh Ku Tertunda
28. Melepas Lelah


__ADS_3

Arga yang masih berada didalam ruangan kantor kebesarannya sudah bertekuk didepan layar benda lipat miliknya. Setelah setengah hari Arga menuruti keinginan Tasha dan saling melontarkan perdebatan dengannya, akhirnya Arga meninggalkan Tasha yang masih berada didalam appartemen miliknya.


"Siang pak, diluar ada tamu yang ingin bertemu dengan bapak" panggilan suara telepon dari seorang seketaris Arga yang bekerja dikantor perusahaan miliknya.


"Siapa?"


"Bapak Erik dari perusahaan Pratama Incrop pak" Arga terkesiap mengapa ayah mertuanya datang keperusahaan miliknya.


"Baik saya yang akan menemuinya"


Arga yang telah keluar dan menemui ayah mertuanya kini mempersilahkan dan membawa Erik untuk masuk kedalam ruangan miliknya.


"Apa kabar pa?" Arga yang telah menyalami dan memeluk sang ayah untuk memberikan hormat yang telah menjadi ayah mertuanya sekarang ini.


"Baik, kabar kamu dan Tasha bagaimana Arga?"


"Baik pa, sekarang kami tinggal di appartemen milik saya dan jika papa dan mama ada waktu dan merindukan Tasha papa mama bisa menginap diappartemen" ucap Arga yang telah mempersilahkan Erik untuk duduk disofa yang berada diruangannya itu.


"Hemm, papa tadi ada meeting dengan pak Yoko kebetulan lewat kantor kamu, jadi papa singgah sebentar untuk menemui mu"


Setelah lamanya Erik dan Arga berbincang tentang bisnis dan tak lupa juga menanyakan kabar Tasha padanya, Erik berpamitan untuk pamit pada mantunya itu. Erik yang tidak mau terlalu jauh mencampuri urusan sang anak dan mantunya tentang rumah tangga yang sedang mereka jalani sekarang, biar lah mereka yang akan mengatur bagaimana arah keluarga yang akan mereka bangun. Dia hanya bisa mendoakan kebahagian keluarga kedua putrinya itu dengan pasangan mereka masing-masing, walaupun Dewi dan Tasha yang berbeda dalam hubungan status pernikahan mereka. Namun Erik percaya jika perjodohan Tasha dan Arga tidak akan seburuk yang dialami oleh sebagian besar orang tentang perjodohan yang gagal.


"Baik Arga, papa pulang dulu. Papa tidak banyak meminta, hanya jaga Tasha sebagaimana papa menjaganya sedari dia masih kecil. Tolong bahagiakan dia lebih dari apa yang bisa papa berikan padanya. Dan kamu harus ingat pesan papa sebelum kalian ijab kabul, jika perjodohan ini gagal kembali kan Tasha dengan baik-baik pada papa apabila rumah tangga kalian sudah tidak bisa lagi diselamatkan. Karna papa memberikannya pada mu dengan cara yang baik juga" tepuk Erik pada punggung menantunya itu.


*


Arga yang baru saja pulang dari lemburnya kini telah sampai ke appartementnya karena pekerjaannya hari ini yang banyak terganggu sehingga harus pulang malam hari.

__ADS_1


Pintu yang sudah terbuka memperlihatkan sebuah appartemen yang sudah tamaran tidak ada penghuni diruangan itu. Arga yang kini merasa haus berjalan melangkah kearah dapur dan melonggarkan dasi yang ada dikerah baju kemejanya sambil menuju kelemari pendingin disana.


"Om" suara jeritan Tasha mengudara diruangan yang masih tamaran itu.


Arga kerkejut dan kagetnya ketika mendengar suara Tasha yang tidak ada jasadnya itu.


"Bocah tengil dimana kamu?" pekik Arga yang terus meraba keberadaan Tasha.


"Saya dibawah. Baju saya om injak" Tasha yang berjongkok karena sedang mencari cincin pernikahan mereka yang tidak sengaja terjatuh dari jari Tasha ketika Tasha sedang mencuci gelas yang dipakainya untuk minum.


Tangan Arga yang langsung meraba didinding dimana tombol lampu yang akan menerangkan ruangan dapur itu.


"Bocah kenapa kamu bersembunyi disitu. Ini bukan sebuah pertunjukan film horor atau pun pertunjukan sirkus" Arga menatap Tasha yang masih menundukkan wajahnya sambil meraba-raba lantai dapur itu.


"Om tolong carikkan cincin pernikahan kita. Tadi terlepas dari jari saya dan terjatuh tidak tau kemana"


"Sama seperti kisah pernikahan kita yang hanya sebuah kertas dan status. Jadi tidak perlu dicari" Arga yang sudah meletakkan botol minumannya diatas meja dan melangkahkan kaki nya untuk meninggalkan Tasha.


"Om saya tau saya tidak bisa menjaganya, tapi apa tanggapan orang tua kita jika melihat saya tidak memakai cincin itu. Saya lebih mementingkan perasaan orang tua kita dari perasaan saya sendiri. Tolong kerjasama nya om untuk orang-orang yang sama-sama kita perjuangkan kebahagiannya om" Arga yang sudah berlalu jauh diambang pintu kamarnya, tetapi masih mendengar permintaan pertolongan Tasha padanya.


Tasha yang hanya sendirian mencari benda kecil itu masih tetap mencari benda itu disekitaran dapur. Kini dia yang telah merasa lelah memilih menyandarkan tubuhnya pada dinding bar dapur yang berada disana.


Tasha sudah menekukkan kedua kakinya dan menenggelamkan wajahnya kedalam tekukan kaki itu mulai menitikkan air matanya. Deraian dan tangisan air mata telah mengudara kecil diruangan dapur itu. Tasha yang telah merasakan kelelahan tertidur dan dengan posisi yang masih sama.


*


Suara geseran bangku yang berada didekat bar dapur yang mengudara tidak terlalu keras tapi mampu membangunkan Tasha. Tasha mengedarkan pandangannya melihat Arga yang berada disana dengan sebuah senter ditangannya.

__ADS_1


"Om kenapa om ada disini" tatapnya Arga yang sedang berjongkok dibawah kursi yang telah digesernya itu.


"Kamu yang mengapa tidak tidur saja dikamar mu?"


"Saya hanya ketiduran om. Bukan sengaja tidur disini"


"Tidur la dikamar mu, biar saya yang akan melanjutkan mencari benda itu" perintahnya pada Tasha yang terus menatap setiap sudut lantai dapur appartementnya itu.


"Om ini kesalahan saya, saya belum bisa tidur nyenyak jika cincin itu belum ketemu" Tasha dengan mata panda dan mata yang telah membengkak bangun dari duduknya dan kembali ikut mencarinya.


"Kamu kearah sana dan saya akan mencarinya kearah sini" perintah Arga yang memberikan arah tugas masing-masing pencarian benda kecil itu.


Arga yang sebenarnya sudah lelah atas pekerjaannya dan harus ikut membantu Tasha yang rasanya dia tidak tega melihat Tasha mencari cincin itu sendiri dan waktu juga sudah semakin larut malam.


"Awww sakit om" Tasha dan Arga melagakan kepala mereka satu sama lain ketika merangkak ke arah luar bar kitchen itu.


"Kamu yang tidak lihat saya dan mendekati saya. Tugas pencarian mu kan disebelah kiri dan saya sebelah kanan. Kenapa kamu mengambil alih perbatasan tugas kita yang telah disepakati"


"Udah deh om, jangan pakai-pakai perbatasan pencarian lagi. Kepala ku sudah pusing" Tasha menyandarkan kembali tubuhnya didinding bar dapur.


Arga yang sudah terlalu lelah dan capek setelah pulang dari kantor belum sempat beristirahat, kini dia juga menyandarkan tubuhnya disebelah Tasha yang sudah mulai memejamkan matanya.


Belum sempat Arga memicingkan matanya, dia melihat sesuatu benda bulat berada di atas kursi yang berada diantara bar kitchen, sebuah cincin bewarna silver dengan permata kilapnya.


Arga merangkak bangkit dan mengambil benda bulat itu yang menjadi kegaduhan dan kembali mendekati Tasha yang sudah tertidur meluruskan kakinya.


"Kamu menambah-nambah pekerjaan saya. Kenapa juga cincin yang harus dijari kini malah berpindah tangan ke kursi. Kalau tidak mau memakainya, buang aja sekalian" Arga kembali duduk disamping Tasha dan mengambil tangan Tasha untuk memasangkan kembali benda bulat itu kejari manis Tasha.

__ADS_1


Arga yang sudah lelah kerena aktifitasnya, tidak sanggup lagi untuk kembali kekamar dan ikut tidur disamping Tasha.


__ADS_2