
"Sha Farhan kerja diperusahaan mana, aku lihat dia gak pernah temuin elu" Denis yang hanya berbasa-basi sebenarnya malas membahas tentang Farhan.
Tasha hanya menaikan bahu nya acuh. Tasha sudah malas untuk membahas Farhan yang sudah membuatnya terlalu sakit itu.
"Kamu tidak tau dia bekerja dimana, kekasih macam apa kamu Sha"
Wajah Tasha langsung memerah mendengar ucapan Denis. Selera makan nya pun mendadak tidak berselera.
"Denis sebenarnya aku mau curhat, tapi aku takut nangis" Tasha yang berada didepan Denis yang masih memakan makan siang nya pun meletakkan sendok nya diatas piring.
Denis tidak menggubris Tasha yang sedang menatapnya, Denis berpikir jika Tasha akan bercerita tentang hubungannya dengan Farhan.
"Kenapa lagi kamu dengan Farhan. Ahh sudah la Sha, jika kau ingin menceritakan dan curhat tentang hubungan mu dengan kekasihmu itu, aku malas Sha" Denis terus menikmati makan siangnya.
Mata Tasha sudah berkaca-kaca, bahkan dia tidak menyentuh hidangan yang ada diatas meja yang mereka pesan.
Denis melirik Tasha, dia menatap Tasha dengan tatapan bertanya. Denis mulai tidak tega atas ucapan nya barusan, walaupun sebenarnya hatinya selalu sakit ketika mendengar curhatan Tasha yang selalu membahas nama lelaki lain.
"Kamu ada masalah Sha ? Kalau kamu cerita aku ada kok" Denis semakin menatap Tasha serius untuk menyakinkan nya agar Tasha mau berbagi kesedihan nya.
Butiran bening sudah mengalir dikedua pipi nya. Tasha menangis tanpa bersuara. Dia mengisyaratkan betapa sakitnya yang dia rasakan.
"Aku takut tidak kuat tapi memang ini kenyataan nya Denis" wajah yang sudah memerah karena tangisannya menjatuhkan wajah nya di pinggiran meja.
"Iya kamu ada apa, kamu tidak ingat Sha, dulu aku adalah tempat dimana kamu ingin berbagi. Maaf kan atas perkataan ku tadi jika kamu tersinggung. Aku tidak bermaksud menambah kesedihanmu" diambil Denis tangan Tasha yang sedang terlipat menindih wajahnya.
Tasha seakan nyaman dan mulai menenangkan tangisannya. Tasha mulai menceritakan kesedihan nya kepada temannya ini sambil mengeluarkan butiran bening nya, sesekali dia terisak sakit di bagian d**a nya yang terus menceritakan ditinggal nikah oleh Farhan. Denis bisa membayangkan perasaan yang dialami Tasha, sama perasaan yang dia alami saat Tasha pertama kali mengenalkan Farhan kepada nya. Rasa hancur yang sudah pasti dirasakan ketika rasa tidak tersampaikan dan harus merelakan seseorang yang kita sayangi untuk memilih jalan hidup baru nya.
__ADS_1
*
Setelah pertemuannya dengan Denis membuka pikiran nya. Tasha yang sebelum nya beberapa bulan ini masih dibayang-banyangi oleh Farhan , seakan hilang dari bayangan nya.
Tasha membenarkan ucapan Denis kepada nya. Yang membukakan pikiran dan terus berusaha memberikan Tasha kembali semangat.
"Apa kamu masih mau mencintai seseorang yang telah berkhianat dengan mu Sha. Apa kamu mau menangisi seseorang yang telah memilih orang lain. Dan apa kamu terus-terus berada dibayang-bayang masa lalu mu. Ayo la Sha, aku tau kamu tidak sebodoh untuk terlalu mencintai seseorang. Dia memilih orang lain untuk berada disampingnya, itu memberikan kode keras agar kamu menjauhi nya Sha" ucapan Denis yang selalu terngiang dipikiran Tasha, seakan-akan membenarkan sebuah kehidupan.
"Ya, aku bahkan memang terlalu bodoh mencintai seseorang yang menyuruh ku harus berputar arah"
"Ayooo Sha bangkit, dia memang tidak pantas dengan mu. Ayoo perbaiki semua nya, mungkin ada alasan dia meninggalkan mu dan memilih orang lain. Kamu harus perbaiki semua kesalahan mu Sha. Kamu harus tunjukan kalau kamu akan jauh lebih bahagia tanpa ada dia disamping mu" Tasha bergumam sendiri di kamar miliknya, seakan dia memberi semangat kehidupnya sendiri.
Hari mulai berganti waktu terus bergerak, Tasha yang sudah jauh membaik, tidak pernah mengenang dan tidak melihat lagi banyangan masa lalu nya kembali.
Tidak ada lagi stalking akun, menyimpan atau melihat foto nya bersama Farhan. Semua sudah dihapus nya, sama dengan hati nya yang sudah tertutup dan tidak ada lagi celah untuk Farhan.
*
Ditempat makan seakan hening, hanya ada suara sendok yang bersahut-sahutan berbunyi.
"Tasha Dewi, besok kalian ada waktu tidak temanin mama ke yayasan" Lita yang membuka suara untuk mengajak anak-anak nya ke yayasan yang biasa dikunjungi Lita.
Keluarga Erik adalah salah satu donatur diyayasan yang biasa dikunjungi Lita. Yayasan itu adalah yayasan bagi anak yang tidak beruntung dan anak-anak yang ditinggalkan orang tua mereka.
"Ma besok adek dan mama nya Riko ada acara mau me-" Dewi memutuskan kalimatnya dan menatap sang mama. Lita yang melihat pun seakan paham.
"Kalau adek gak bisa ya gak apa-apa. Mama paham kok"
__ADS_1
Dewi menggeleng pada sang mama, agar tidak melanjutkan pembicaraan mereka. Tasha belum tau jika Dewi akan melangsung pertunangan nya dengan Riko beberapa minggu lagi.
Tasha berkerut dahi, dan menatap satu sama lain.
"Kakak bisa kok ma. Jam berapa? Kalau bisa sorean ya ma. Karna kakak besok gak bisa pulang cepat dari kantor"
"Kalau Tasha gak bisa juga jangan dipaksa Sha. Mama nanti bisa diantar supir saja"
"Pak supir bukan nya mau papa ajak ke Bandung ma, iya kan pa?"
"Iya ya, mama lupa kak. Ya udah mama tunggu kakak aja ya"
Sesudah makan malam mereka selesai, Tasha dan Dewi menyuci piring-piring makanan kotor. Lita sudah mengajarkan pada kedua putri nya dari kecil mengerjakan pekerjaan rumah walaupun hanya sekedar menyuci piring makanan mereka dan membersihkan kamar mereka sendiri.
"Kak tunggu, aku mau kekamar kakak" Dewi menyuci tangan nya dan langsung mengejar sang kakak yang sudah mendahului.
"Kak, aku malam ini tidur dikamar kakak ya ?"
"Aihhh kamu itu ileran tau" Tasha tersenyum menatap Dewi seakan mengejek atas ucapan nya pada sang adik.
Cklekkk pintu kamar Tasha sudah terbuka. Dewi langsung merebahkan separuh badannya keranjang sang kakak.
"Kak, aku lihat-lihat kamar kakak ini perlu di renovasi. Kita bisa buat foto figur wajah kita di tembok dinding kamar kakak, pasti eksotis kak"
"Apa, coba ulang dek, wajah mu mau kakak letakkan dikamar kakak, bisa-bisa kakak eneg melihat mu setiap hari"
"Sudah ahh, pergi sana kekamar mu dek, kakak mau istirahat, lihat ni kaki mu dek, udah naik ketempat tidur kakak, kamu belum cuci kaki" kibas Tasha tempat tidurnya.
__ADS_1
"Aku bisa bawak bantal aku kekamar kakak. Kakak tenang aja, atau aku akan bawa juga sekalian sama bedcover" Dewi seakan menantang sang kakak, walau bagaimana pun dia akan tidur dikamar Tasha.
"Kamu ya, selalu saja ada alasan" ucap Tasha berlalu ke kamar mandi.