
Didalam sebuah ruangan kantor, Tasha melamun. Tidak ada pekerjaan nya satu pun yang dikerjakannya. Tasha selalu saja memikirkan perkataan sang papa yang sudah beberapa hari ini menghantuinya.
Erik meminta Tasha untuk dinikahkan dengan seorang rekan kerjanya yang merupakan anak sahabatnya dulu.
Tasha tidak tau harus berbuat apa, mau tidak mau dia menyetujui permintaan sang papa. Mengingat kegusaran raut wajah sang papa pada malam itu membuatnya tidak tega untuk menolak. Papa dan mama nya sudah banyak berkorban untuk nya, sebelumnya Erik dan Lita tidak pernah meminta Tasha untuk mengikuti keinginan mereka. Bahkan mereka lah yang selalu menuruti dan merestui apa yang inginkan sang putri.
"Ah sudahlah aku tidak tau akan jadi apa akhirnya, ikuti saja arusnya seperti air mengalir" Tasha menggumam sendiri diruangan nya.
Dipintu kaca Linda mengintip Tasha yang hanya menatap layar komputer yang ada dihadapannya tapi tidak ada kegiatan apapun yang dikerjakannya.
"Sha, kamu dipanggil buk Marta keruangannya" ucap Linda yang masih diambang pintu dengan membawa berkas-berkas ditangannya.
"Ada apa Lin buk Marta panggil aku ya?" Tasha tidak menunggu jawaban dari rekan kerjanya, dia bangkit dari tempat duduk kerjanya langsung menuju keruangan Marta atasannya itu.
Sesampainya Tasha didalam ruangan kerja milik Marta, Tasha dipersilahkan duduk.
"Baik Tasha langsung saja, perusahaan kita akan membangun cabang di pemukiman yang lumayan cukup banyak penduduknya, kita akan bekerjasama dengan perusahaan Melvin Winston. Jadi saya mau kamu lah yang menangani dan menjalankan proyek besar ini" ucap Marta kepada Tasha
'Nenek ini apa gak tau ya aku lagi banyak fikiran, untuk bekerja seperti biasanya aja gak fokus, apalagi ngerjain proyek yang begitu besar ini' batinnya.
Marta adalah wanita yang berumur sekitar 50 tahunan, tapi masih sangat segar dan awet muda karena bantuan dari perawatan dan makeup yang dipakainya.
"Apa tidak ada karyawan lain yang ibuk percayakan proyek besar ini selain saya buk. Maaf sebelumnya buk, bukan saya menolak, tapi ini proyek yang cukup besar, saya takut jika proyek ini akan gagal ditangan saya" mohonnya kepada Marta atasannya itu.
"Saya memanggil kamu keruangan saya ini, berarti saya percaya dengan mu" Penekanan Marta kepada Tasha.
Dengan berat hati Tasha pun menyanggupi perintah dari atasannya.
'Gini ni kalau kerja sama orang yang punya atasan cerewet plus bawel, selalu aja nekan karyawannya' bathin Tasha.
__ADS_1
"Baik buk, sebisa mungkin saya akan menjalankan proyek yang telah ibuk amanahkan kepada saya"
"Kamu juga tidak akan sendiri, kamu akan dibantu oleh rekan kamu Linda. Dia yang akan membantumu untuk proyek yang telah saya serahkan kepada mu"
"Terimakasih atas kepercayaan ibuk kepada saya" Tasha tersenyum membungkuk memberi hormat dan meninggalkan ruangan Marta.
**
Pertemuan meetting telah selesai antara Perusahaan Melvi Winston Real Estate dan Perusahaan Pelita Indah Group. Kedua perusahaan itu sepakat untuk melakukan kerjasama.
"Terimakasih ibu Natasha sudah ingin melakukan kerjasama dengan perusahaan kami" ujar salah seorang perwakilan dari perusahaan Melvi Winston kepada Tasha.
"Baik pak, senang juga bisa bekerjasama dengan perusahaan bapak" Semua para rekan kerja baik perusahaan Melvi Winston maupun Perusahaan yang Tasha tangani saling berjabatan tangan sembari memberikan senyuman dan meninggalkan tempat dimana mereka melakukan pertemuan.
Tasha dan Linda rekan nya baru saja keluar dari sebuah Caffe Right dimana tempat mereka dan client nya tadi melakukan pertemuan. Mereka akan langsung pulang kerumah mereka masing-masing karena jam sudah menunjukkan pukul 6 sore.
"Lin, kamu aku antar aja ya. Jam segini sudah jarang ada taxi yang lewat"
"Tidak masalah. Ayo kita pulang. Cuaca juga sudah mendung seperti mau hujan"
Kosan Linda berada dekat dengan perusahaan mereka. Dia sengaja memilih mengkos disekitaran kantor, agar bisa mengirit biaya ongkosnya.
Tasha yang baru saja memparkirkan mobilnya dihalaman rumahnya yang sebelumnya Tasha sudah mengantarkan Linda sampai kedepan kos-kosan nya. Tasha yang masih berada didalam mobilnya mengedarkan pandangannya.
"Kenapa ramai mobil. Apa ada acara dirumah. Tapi kenapa mama atau papa tidak bicara" Tasha mulai mengemasi Tas dan handphone nya sebelum membuka pintu mobil.
Tasha mendekat pada satpam penjaga disamping gerbang pagar dirumah mereka itu. "Pak, ada apa ya. Kenapa banyak sekali mobil?"
"Maaf non, saya juga kurang tau siapa yang datang"
__ADS_1
"Oh ya udah. Terimakasih pak"
"Apa keluarga Riko yang datang ya" gumam Tasha yang terus masuk kedalam rumah milik keluarga nya.
Tasha yang merasa harinya terlalu lelah ingin sampai dikamar agar bisa merebahkan tubuhnya yang sudah terasa pegal.
"Baik kalau begitu kita sepakat atas itu. Alhamdulillah semoga semuanya berjalan dengan lancar" suara dari dalam rumah terdengar saat Tasha masih berada diteras rumah mereka.
"Assalamu'alaikum" Tasha yang masih diambang pintu masuk melihat banyak tamu sang papa berada diruang keluarga yang sedang melihat kearah nya.
"Sayang sudah pulang" sambut sang mama dan mendekat kepada putri yang berada diruangan itu.
"Ma, tamu papa?"Tasha yang sudah menyalami sang mama pun berjalan ingin menaiki tangga menuju lantai dua.
"Tasha ayo gabung memberi salam pada tamu kita Sha" Langkahnya ditahan oleh sang mama dan membawa sang putri menuju keruangan keluarga mereka.
Tasha yang akhirnya menurut oleh sang mama pun mengayunkan kakinya disebelah sang mama. Sambil tersenyum Tasha menyalami semua yang ada disana.
"Cantik sekali paras mu nak" senyum seorang wanita yang sudah tidak muda lagi sekitar 60 tahunan membalas senyuman Tasha.
"Terimakasih oma"
"Tasha mari duduk disamping papa" sambut tangan sang papa padanya.
Tasha yang melirik sang papa pun gusar sambil menggaruk pelipis nya yang tidak gatal. 'Tamu papa atau tamu mama ya. Atau saudara jauh, tapi kenapa tidak pernah bertemu' bathin Tasha sambil tersenyum kepada seorang yang tepat didepannya.
"Tasha ini keluarga dari pihak laki-laki yang mau melamarmu. Jadi rencananya kami memutuskan untuk menggelar lamaran kamu dengan putra dari ibu Herni yang akan diadakan minggu depan" Tasha shock atas penuturan sang papa. Dia langsung berkerut dahi dan membulatkan mata nya mengarah pada sang papa yang berada disampingnya.
'Apa? Ternyata seorang oma ini adalah calon mama mertua ku' bathin nya. 'kenapa secepat ini lamarannya' Tasha terus menggerutu dalam hatinya.
__ADS_1
Tasha yang hanya bisa tersenyum manis sambil menggerutu itu pun hanya diam dan memberi anggukan. Dia tidak akan lagi bisa membantah dengan keputusan sang papa dan mama nya. Dia akan mempasrahkan semua kepada orang tua nya.
"Baik pa, jika itu sudah menjadi keputusan bersama dari kedua belah pihak" Tasha bisa tersenyum tapi tidak dengan hati dan perasaan nya yang sudah bercampur aduk sekarang. Rasa lelahnya berubah menjadi rasa takut. Takut akan memulai dengan orang yang bahkan sampai saat ini belum di kenalnya.