
Arga dan Tasha sudah sampai dibandara dimana private jet yang telah mendarat dan mengantarkan mereka kembali dari liburan mereka bukan sebuah honeymoon seperti yang dipikirkan oleh keluarga mereka. Tidak menunggu lagi sebuah mobil yang telah menunggu kedatangan mereka adalah seorang supir pribadi milik keluarga Arga yang sudah lama bekerja dengannya.
"O-omm mau kemana" teriak Tasha sudah berada didalam mobil penumpang melihat Arga yang siap akan pergi menggunakan taxi online yang telah dipesannya.
Arga yang sebelumnya telah memerintahkan pada seorang supir itu untuk mengantarkan Tasha kerumah orang tuanya dan langsung pergi melangkah jauh meninggalkan Tasha, tidak lagi mendengarkan ucapannya.
Dengan hembusan nafas dengan amarahnya Tasha terus merungut didalam mobil yang telah membawanya menuju kediaman Herni ibu mertuanya.
"Dasar om-om tua yang tak ada tanggung jawabnya" gumamnya sendiri sambil melihat kearah luar jendela mobil itu.
"Oh iya pak, tujuan kita kemana ya pak" tanya Tasha pada seseorang yang sudah tidak begitu muda lagi itu.
"Kerumah Nyonya Herni non"
"Apa?" mata Tasha membulat, dia tidak membawa apa-apa setelah kepulangannya pada mertuanya itu.
"Pak, nanti singgah kebutik yang ada depan sana ya pak" Perintah Tasha pada seorang supir itu.
Tidak terlalu lama, Tasha yang hanya sendiri telah sampai dirumah besar yang memiliki halaman luas milik Herni dengan menenteng dua buah paperbag ditangannya. Tasha yang sebelumnya telah membelikan sebuah tas branded buat sang ibu mertua dan dia juga tidak lupa untuk membeli beberapa pakaian piyama untuknya. Ini adalah kali pertamanya Tasha menginjakkan kakinya dirumah milik sang ibu mertua.
Tasha yang sudah turun dibukakan pintu mobil oleh seorang penjaga dirumah itu seperti bak seorang Nyonya yang memiliki hak atas hunian itu.
Segala perlengkapan dan kopernya telah diturunkan dan dibawa masuk oleh supir yang telah membawanya.
Tasha kini melangkahkan kakinya mengikuti supir itu dan menaiki undukan tangga masuk kekediaman milik Herni ibu mertuanya.
"Assalamu'alaikum" Tasha yang sudah berada diambang pintu mengedarkan pandangannya kesetiap sudut rumah yang tampak sangat sepi.
__ADS_1
Sopir yang mengantarkan koper miliknya hanya sampai ruangan tengah dan meminta izin pada Tasha untuk pamit melanjutkan tugasnya.
Herni tidak menyangka jika Tasha akan datang secepat ini dan helicopter yang disediakan nya akan berjadwal siang nanti tetapi Arga telah mengatur semuanya keberangkatan mereka agar pulang lebih awal dari rencana sang mama. Herni yang sedang berada disebuah taman rumahnya, menjadikan taman itu sebagai tempat favorit untuk menghabiskan waktu senja tuanya.
"Non Tasha" sahut seorang pelayan yang bekerja dirumah besar milik Herni itu, tau jika tamu yang masih berada diambang pintu adalah menantu dari sang majikan.
"Hemmm i-iya" sahutnya yang masih gugup karena belum mengenal satu pun yang tinggal dirumah besar itu kecuali Herni sang mertua.
Pelayan yang sudah mendekat dan mempersilahkan Tasha masuk dan menundukan wajahnya seakan memberi hormat kepada penghuni baru rumah itu. "Non, ibu ada di taman belakang. Mari saya antar" ajak pelayan itu untuk bertemu dengan ibu majikannya.
Tasha yang hanya mengangguk dan mengikuti sang pelayan pun telah sampai disebuah taman yang memperlihatkan begitu banyakkan tanaman bunga yang bermekaran sehingga memperlihatkan keindahan jika memandangnya yang sudah seperti kebun bunga itu.
"Tan-" Tasha menggantungkan panggilannya pada Herni yang masih canggung dan belum terbisa memanggilnya dengan panggilan mama.
'Tarik nafas Tasha' gumamnya sendiri dengan senyuman yang mengembang Tasha mulai mendekat pada Herni.
"Sayang sudah sampai. Maafkan mama yang tidak memberikan sambutan kepulangan mu dari bulan madu kalian" pelukan hangat yang diberikan Herni padanya membuatnya seakan diperlakukan dengan baik oleh sang mertua.
"Ma ini buat mama" uluran tangan Tasha yang memberikan paperbag itu pada sang mertua.
"Kenapa harus repot-repot membawakan mama bingkisan sayang" Herni yang sedang mengedarkan maniknya kesekitar mencari keberadaan Arga putranya.
"Hemm keterlaluan sekali anak mama, kenapa dia tidak menemuiku selepas kepulangannya. Apa dia tidak merindukan ibu nya ini selepas dia telah memiliki istri" gumamnya sendiri yang masih memegang kedua tangan Tasha.
"Mbok ina, tolong panggilkan Arga mungkin dia langsung masuk kedalam kamarnya. Suruh dia datang untuk menemui saya. Tasha saja yang tidak anak kandung saya bisa sehormat ini pada saya"
"Hemmm maaf ma, tadi om- hemm maksudnya Arga selepas dari bandara, dia pergi karena ada pekerjaan yang sangat penting" ujarnya pada sang mertua yang sebenarnya dia juga tidak tau keberadaan Arga sekarang ada dimana.
__ADS_1
"Sepenting itu pekerjaannya. Mama pikir selepas dia menikah dan memiliki seorang istri dia tidak lagi memproritaskan pekerjaannya, ternyata masih sama" gumamnya dan membawa Tasha untuk duduk disebuah bangku tempat bersantainya.
"Mbok ina, kenapa masih berdiri disitu. Tolong bawakkan minuman untuk menantu saya ini" Herni yang sedang memegang benda pipihnya siap untuk menelepon Arga namun tidak diangkat oleh sang putra.
Setelah jus yang telah dibawakan oleh Mbok Ina seorang pembnatu yang sudah lama bekerja bersama sang ibu mertua, Herni banyak menceritakan tentang Arga dan juga salah satu adik perempuannya yang belum dia kenal itu yang sedang melanjutkan study nya di luar Negeri.
Tasha yang merasa sudah terlalu lama duduk menambahkan kebosanannya, dan akhirnya Herni yang melihat wajah lelah sang menantu mengantarkan nya ke kamar Arga yang berada dilantai 2 rumah itu.
Tasha yang telah diantarkan kekamar Arga dan melihat sekitar sudut ruangan itu untuk dikoreksinya. Dia yang masih berdiri dikamar milik Arga berkerut dahi melihat interior kamarnya.
"Warna ruangan yang gelap, dengan corak berdesainkan horor sama seperti pemilik kamar ini, seperti makhluk jadi-jadian. Tidak memiliki tujuan hidup" gumamnya menatap setiap ruangan yang ada dikamar Arga.
Setelah semuanya selesai Arga yang baru saja pulang dari kantornya kembali kekediaman sang mama dengan disupirkan oleh seorang asisten pribadinya yang tak lain adalah Joe. Setelah kepulangan mereka dari salah satu pulau yang telah menjadi tempat bersantai sejenak mereka, mereka kembali keaktifitas yang sudah berpuluh tahunan mereka lakukan dan sudah memasuki rumah milik sang ibu.
*
"Bagaimana perjalanan kalian selama berbulan madu" sahut sang mama yang sedang berada dimeja makan dengan putra dan menantunya.
"Hemm lancar ma" ucap Arga santai pada Herni sang ibu.
"Kamu Arga, bagaimana mama memberitahu pada mu untuk mengurangi kegitan mu dikantor dan lebih memperhatikan lagi istri mu"
"Arga mama tidak tau apakah ini adalah sebuah penekanan atau tidak, setiap pasangan yang telah menikah atau orang tua yang telah melepaskan anak-anaknya menikah pasti ingin memiliki keturunan, jadi mama mohon kalian tidak menundanya lagi"
Arga yang berada disamping Tasha yang masih melanjutkan makanan nya tetap tenang tidak menunjukkan kegelisahannya mendengar penuturan sang ibu. Dia sudah tau selama mereka tidak akan memiliki keturunan pembahasan sang mama tidak akan pernah berubah yaitu seorang cucu. Berbeda dengan Tasha disana yang mendengar penuturan sang ibu mertua membolakan matanya menatap pada kedua ibu dan anak dengan bergantian.
"Mama akan merekomendasikan tempat-tempat untuk memeriksakan kesuburan dan juga program-program kehamilan untuk kalian" penekanan Herni pada Arga dan juga Tasha itu.
__ADS_1
'Program kehamilan ? Dari mana jalan prosesnya, berhubungan badan saja belum pernah' bathinnya dan hanya mendengarkan saran-saran dari sang ibu mertua.