
"Selamat pagi Agatha" sebuah nama yang akan digunakan Tasha untuk menutupi identitasnya sekarang dan memulai kehidupan barunya disebuah kota yang terbilang bukan lah seperti kota-kota metropolitan.
Kehidupan yang Tasha jalani sekarang sangatlah jauh berbeda dengan kehidupannya yang sebelumnya ketika dia masih menjadi seorang anak dari pengusaha terkenal diperusahaan Pratama Incrop dan menjadi istri dari seorang pembisnis sukses di perusahaan Melvin Winston Estate.
Kota ini tidak ada nya perusahaan-perusahaan besar pencakar langit seperti berada dikota-kota besar, sehingga mayoritas para penduduk dikota ini hanya mengandalkan sebuah pabrik yang berdiri dikota itu dan juga masih dalam proses berkembang. Kini Tasha memilih untuk bekerja disalah satu rumah makan dikota itu untuk memenuhi kehidupannya karena dia juga memang tidak ingin bekerja lagi disebuah perusahaan atau pun pabrik yang menjadi basicnya sebelumnya. Tasha ingin merubah semua status yang pernah disandangnya dan memilih menjadi wanita biasa.
Tasha yang tidak membawa apa-apa baik kartu card, pakaian kerjanya, maupun identitas yang akan menjadi penunjangnya dalam memudahkan dia untuk mencari pekerjaan. Ini semua dilakukan Tasha untuk tidak ada satupun yang mengetahui keberadaannya sekarang ini.
Disebuah kos-kosan kecil yang Tasha pilih untuk menjadi tempat berteduhnya karena saat ketika dia pergi, dia hanya membawa uang untuk kebutuhannya selama seminggu kedepan saja sehingga pemilihan tempat tinggalnya dia memilih tempat yang paling murah. Diruangan yang kecil itu ada hanya sebuah kasur single yang langsung kelantai, kamar mandi yang berukuran kecil dan sebuah dapur yang menyatu didalam kamar kosan tanpa penyekat yang menjadi tempat tinggalnya sekarang ini.
Mata yang masih menatap dirinya kini dikaca yang ada dilemari berukuran kecil itu, menangkap seseorang yang sangat jauh berbeda dandanannya bekerja dulu dengan dia yang pergi bekerja sekarang. Jika dulu dia memakai kemeja dengan rapi, rok dibawah lututnya dan memakai hells untuk menunjang penampilannya. Dengan rambut indahnya yang telah diikat kudanya, kini ia sekarang hanya memakai sebuah pakaian kaos lengan panjang, celana jeans, dan sendal jepitnya.
Bukan hanya dari segi penampilan Tasha yang sangat jauh berubah, dulu kendaraan yang biasa digunakannya jika dia pergi bekerja adalah sebuah mobil, sekarang Tasha harus berjalan kaki untuk sampai ketempat kerjanya yang tidak begitu terlalu jauh, jika berjalan kaki akan memakan waktu 15 menit untuk sampai ke sebuah rumah makan yang telah menerima Tasha bekerja disana.
*
__ADS_1
Ditempat lain, Arga yang telah mendapati kepergian Tasha untuk meninggalkannya membuat kekacauan dalam hidupnya. Wanita yang tidak ditegurnya beberapa hari belakang ini benar-benar pergi dari hidupnya dan meninggalkannya hanya karena sikapnya yang tidak dapat dikontrolnya walaupun rasa cintanya pada Tasha masih sama ketika mereka sama-sama belajar untuk menerima takdir bahwa mereka telah dipersatukan dalam sebuah pernikahan.
Semalaman Arga tidak tidur untuk mencari keberadaan Tasha, mengelilingi seluruh kota dan membelah jalanan malam berharap dapat menemukan sang istri.
"Kenapa kamu harus pergi Natasha. Maaf kan aku selama ini yang bersikap tidak layak sebagai suamimu" kegusaran dari wajah Arga terlihat jelas.
'Mas, terimakasih atas cinta yang tiba-tiba mas berikan pada saya, mas telah sabar mengajarkan ku untuk pelan-pelan mencintai mas. Dari awal pernikahan kita mas selalu menjadi tameng disaat aku terluka walaupun pada saat itu, sikap ku masih dingin dan terlalu angkuh pada mas. Mungkin disini aku yang salah, aku yang pernah mencintai seseorang yang telah menghancurkan rumah tangga kita sekarang ini. Jika aku tau bahwa takdirku akan menikah dengan mas, aku tidak akan pernah memilih untuk menaruh cinta pada seseorang yang menjadi duri dalam pernikahan kita. Tapi mungkin ini memang sudah jalan terakhir kita untuk bersama. Bahkan sampai hari ini, mas tidak pernah memaksakan ku untuk seperti apa mas mau, mas selalu membebaskan ku akan hal-hal yang aku inginkan. Untuk orang tua kita, jika suatu saat mereka tau tentang hubungan pernikahan kita yang tidak berlanjut ini, berikan lah alasan yang membuat mereka bisa menerima, kebahagian bukanlah dari kebersamaan kita tapi saling tidak menyakiti itu lah suatu kebahagian' sebuah surat yang Tasha tulis untuk Arga sebelum kepergiannya meninggalkan sang suami, dan sampai saat ini Arga masih meratapi dan menyimpan surat terakhir yang ditinggalkan Tasha. Ini adalah sebuah kata yang menyakitkan untuk Arga walaupun tidak secara langsung didengarnya.
Arga tidak hanya mendapati sebuah surat dari Tasha, dia juga melihat kartu card yang pernah diberikannya pada sang istri ketika pertama kali mereka menikah dan sebuah benda pipih Tasha biasa dipakainya yang diletakkan nya bersama diatas nakas meja ruangan kamar mereka itu.
"Natasha, aku tidak bisa hidup tanpa mu. Aku akan cari kemanapun kamu pergi" air mata Arga telah mengaliri dikedua pipinya, ini adalah rasa yang paling sakit dirasakannya dari pada waktu itu melihat Farhan yang berada diatas tubuh istrinya.
Arga yang telah mengerahkan seluruh para orang-orang suruhannya kembali untuk mencari keberadaan Tasha namun sampai saat ini masih nihil dalam pencarian.
**
__ADS_1
Hari sudah berganti hari, Arga yang sudah sangat frustrasi karena ditinggal oleh Tasha menambah kebahagian dihati Erina yang semakin mendapatkan peluang untuk mendekat kepada sang bosnya itu.
Isu demi isu juga telah terdengar dikantor yang Arga dirikan itu, para karyawan silih berganti menggosipkan sang bos dengan istrinya yang meninggalkannya karena lelaki lain. Namun gosip itu, tidak sampai ketelinga Arga maupun Joe.
"Selamat pagi pak" Erina yang telah masuk keruangan Arga dengan pakaian biasa yang dikenakannya yaitu pakaian sebuah kemeja dengan kancing kemeja yang sengaja dibukakannya sehingga memperlihatkan jelas bentuk buah d**anya jika dia menaruhkan berkas-berkas yang dibawanya keatas meja sang atasan dan dia juga memakai sebuah rok yang jauh diatas lutut untuk memperlihatkan pahanya.
Arga yang masih tertidur dimeja kebesarannya dengan lipatan tangannya terbangun karena suara seseorang yang semangkin mendekat seperti ditelinganya.
"Ada apa kamu diruangan saya Erina" dengan suara menegasnya Arga meluruskan tubuhnya duduk dibangku kebesarannya dan memalingkan wajahnya dari Erina yang masih berada didepannya.
"Oh iya pak, ini ada dokumen-dokumen penting yang harus bapak tandatangani" berikan Erina berkas yang telah dibawanya itu diatas meja bosnya.
"Sudah saya katakan, serah kan semua pekerjaan kantor langsung pada Joe. Berapa kali saya harus menekankan padamu Erina" ucap Arga dengan nada penekanan.
Erina yang sudah takut dengan ekspresi wajah Arga yang sudah menegangkan rahangnya, kini dia pergi meninggalkan ruangan Arga dan membawa berkas yang tadinya telah diletakkannya diatas meja itu.
__ADS_1