
Ruangan serasa tidak sepi semenjak kedatangan sang mama keappartement yang ditinggali oleh Arga dan juga Tasha. Mereka yang biasanya sering menghabiskan dikamar masing-masing atau pun Arga yang sibuk dengan pekerjaannya diruangan kerjanya, kini mereka menemani sang mama yang menjadi tamu mereka.
"Arga sebaiknya kamu cari asisten rumah tangga untuk membantu membersihkan rumah dan juga masak. Mama tidak tega jika Tasha yang harus mengerjakan semuanya"
"Gak perlu ma, Tasha gak terasa terbebani kok" Tasha yang berada disamping sang mertua dengan cemilan yang telah Tasha persiapkan untuk menemani ngobrol mereka.
"Tasha, kalian kan sedang program, bagaimana mama akan mendapatkan cucu jika kamu harus bekerja seberat ini"
"Ma, kita tidak masalah kok ma, lagian mas Arga juga bantuin Tasha membereskan pekerjaan rumah. Iya kan mas ?" Ucap Tasha sambil melemparkan senyumannya pada Arga yang sedang manggenggam benda pipihnya.
Arga yang mendapat panggilan yang asing ditelinganya mengarahkan pandangannya dan mereka saling menatap.
'Membereskan pekerjaan rumah? Mas? Sejak kapan aku memegang sapu dan juga pengepel lantai, apa dia juga ingin membalas dendam. Ini lagi, sakit apa bocah ini sampai panggil aku dengan sebutan mas' batin Arga yang masih menangkap bola mata Tasha dengan tatapan bingungnya.
"Arga, apa itu benar ?" sambung sang mama pada putra nya itu yang dia tau jika Arga semasa kecil tidak pernah mengerjakan ataupun mau mengambil alih pekerjaan rumah.
"Hemm, ma kita lebih suka seperti ini hanya ada kami berdua dan tidak ada seorang asisten rumah tangga. Ini akan membuat kami semakin romantis. Iya kan sayang?" Balasan senyuman Arga pada Tasha yang masih saling berpandangan itu.
Mata Tasha semakin membola mendengar kata sayang yang dilontarkan Arga padanya. Sudah sangat lama dia tidak mendengar seorang pria yang memanggil kata itu padanya, setelah dia harus melepaskan Farhan yang memang bukan menjadi takdirnya.
__ADS_1
"Hemm i-iya ma" ucap Tasha yang masih gugup atas lemparan ucapan Arga yang mendadak itu padanya.
Herni yang merasakan kebahagian atas pernikahan putranya dengan seorang gadis pilihan keluarganya kini merasakan ketenangan mendapatkan seorang mantu yang sangat diimpikannya. Arga dan Tasha bisa sama-sama belajar menerima perjodohan mereka.
Herni kini menyorotkan matanya kearah jam dinding yang ada diruangan itu tampak wajah yang sudah sendu. Dia merasa terlalu cepat untuk kembali kekediamannya yang sepi itu.
"Sayang, mama pulang dulu ya" kecup Herni sang mertua pada mantunya itu sambil memeluknya.
"Jika mama mau nginap sini, Tasha dan mas Arga juga tidak masalah ma. Malahan kami senang jika mama mau berkunjung dan berkenan untuk menginap disini" sambil membalas pelukan sang mertua, Tasha mendungakan wajahnya menatap wajah ibu mertuanya itu.
"Mama sebenarnya ingin sekali menginap disini dan mama juga masih sangat merindukanmu sayang. Tapi kamar kalian disinikan hanya ada satu" Herni yang berada ditengah antara anak dan mantunya itu dan tangannya mengelus punggung sang menantu.
"Sangat boleh ma. Tasha juga merindukan mama" Tasha menyandarkan kepalanya di bahu sang ibu mertua dan melingkarkan kedua tangannya diperut mertunya itu.
"Mama tidur aja dikamar kami, biar kami aja yang tidur dikamar tamu" ucap Tasha kembali pada sang mertua yang masih dipeluknya itu.
"Arga, perasaan kemarin ruangan kamar di appartement mu ini hanya memiliki satu kamar. Kini kenapa menjadi dua" tatap Herni pada Arga yang berada disebelahnya itu.
"Gak mungkin kan ma, jika mama, papa Erik dan mama Lita datang berkunjung dan ingin menginap, tapi Arga tidak bisa memfasilitasi orang tua kami ma" ucap Arga santai pada sang mama untuk menyakinkan nya.
__ADS_1
"Mama bahagia jika melihat keluarga kalian rukun seperti ini sayang. Mama berdoa kalian akan menjadi pasangan yang paling bahagia sampai maut memisahkan kalian" Herni yang memeluk Arga dan juga Tasha sambil melemparkan senyuman.
Tanpa disadari kedua makhluk yang masih sama-sama dingin itu, mengaminkan dalam hati mereka masing-masing atas doa yang diucapkan sang mama atas hubungan pernikahan mereka berdua.
*
Tasha mulai mengedarkan matanya keseluruh ruangan kamar Arga dan mulai menyoroti setiap sudut ruangan itu semakin membolakan matanya. Sebuah kamar yang memiliki sebuah ranjang dan juga kamar mandi disana.
"Om, saya tidur dimana?" Lihat Tasha yang tidak adanya sebuah sofa dikamar itu.
"Terserah mu mau tidur dimana" Arga mulai menghempaskan tubuhnya dan berbaring diranjang besarnya.
Tasha mulai menaikan bibirnya mencibir perkatakan Arga padanya. Mau tidak mau, Tasha juga mulai menaiki ranjang yang sama dengan Arga dan berada disampingnya.
"Om, boleh tidur disini?" Dengan nada yang sudah memelan, Tasha masih menatap Arga yang sudah tertidur, tidak tau apakah hanya berpura-pura tidur atau memang sudah masuk kealam mimpi.
Tasha mulai mengambil bandal dan juga guling yang ada diatas ranjang itu, kemudian menyusunnya sebagai pembatas antara dia dan juga Arga.
Detak jantung yang sudah begitu cepatnya dengan nafas yang masih berdetak kencang, ini adalah kali pertamanya dia berada satu ranjang dengan seorang lelaki. Tasha mulai menolehkan wajahnya untuk menatap wajah Arga yang berada disamping nya itu. Wajah yang biasanya tegas dengan bulu mata yang panjang, alis yang tebal dengan hidung yang mancung membuat ketampanan Arga walaupun dia sedang tertidur.
__ADS_1
'Om apakah pernikahan yang kita jalani sekarang ini adalah kesalahan. Kita yang sudah dinyatakan sah sebagai suami istri, tapi tidak pernah tidur satu ranjang yang sama. Begitu banyaknya perdebatan, permusuhan, pembalas dendaman yang sama-sama kita lakukan untuk menyakiti satu sama lain diantara kita. Andai om tau doa saya ketika saat om selesai mengucapkan ijab kabul pernikahan kita, disahkan oleh para saksi dan juga disaksikan oleh kedua orang tua kita, disitu juga doa saya pada Allah untuk tetap menjaga pernikahan kita dan mempersatukan kita sampai maut memisahkan kita. Dan om tau janji saya pada saat itu adalah saya tidak ada berniatan untuk meninggalkan om dalam keadaan apapun untuk mengakhiri pernikahan yang telah terjadi ini. Karna saya percaya, saya tidak dipersatukan dengan orang yang saya cintai pada saat itu, namun saya percaya jika saat ini saya telah dipersatukan dengan orang yang sangat menjaga saya dan juga akan mendapatkan yang lebih baik dari apa yang saya harapkan. Om maaf kan saya dengan sikap saya yang masih seperti ini. Dalam pernikahan kita yang mendadak ini saya masih butuh proses untuk menerima keadaan yang mendadak ini om. Om mungkin tau kisah percintaan saya yang kandas dengan sepihak tapi saya belum mengetahui tentang kisah om. Dan saya juga tidak ingin mengetahuinya karena om sekarang telah bersama saya' bathin Tasha dengan matanya yang sudah berkaca-kaca menatap wajah Arga yang tertidur disampingnya yang kini telah menjadi suaminya.