
Perjalanan dengan sebuah penerbangan yang telah menghantarkan Arga sampai disebuah kota yang diyakini adalah tempat keberadaan Tasha menetap sekarang ini. Arga yang baru saja tiba dan telah ditunggu kedatangannya oleh beberapa pengawalnya disana, kini mereka telah membawanya berjalan keluar dari bandara dikota itu.
Raut wajah yang sekarang berbeda dari beberapa waktu lalu tidak henti-hentinya menebarkan senyuman, mengingat ini adalah sebuah perjalanan untuk menjemput sang pujaan hati. Jangankan wajahnya sang istri yang sudah lama tidak dilihatnya, suaranya saja pun dia sudah tidak lagi mendengar sejak kepergian Tasha didalam hidupnya.
Hati yang sudah tidak sabar untuk melihat wajah sang istri yang selalu terbawa mimpinya selama ini, semakin menambahkan semangat dihidupnya yang akhir-akhir ini hilang.
"Pak, mobil kita menunggu disana" ajak pengawalnya pada Arga untuk membawa mereka ketempat yang dituju.
Dengan setelan yang dikenakan Arga saat ini memakai pakaian kemeja putih dan dipadu bersama dengan sweater diluarnya. Tidak lupa Arga juga menggunakan kaca mata hitam yang telah bertengger dihidung mancungnya. Begitu juga dengan para pengawalnya yang memakai setelan jas serba hitam dan tidak mau kalah dengan sang bos, mereka juga menggunakan kaca mata hitamnya.
Arga dan beberapa pengawalnya telah pergi meninggalkan bandara itu menggunakan mobil yang telah disediakan Joe dari kejauhan, hanya memakan waktu 1 jam perjalan dari bandara menuju lokasi Tasha saat ini, kini mereka telah sampai tepat disebuah rumah makan yang sebelumnya telah diawasi oleh para pengawal yang lainnya.
Arga mengerutkan dahinya, dia tidak menyangka jika saat ini istrinya bekerja ditempat ini, dan dengan penuturan sang pengawalnya itu jika Tasha beberapa waktu lalu pindah ke kota kecil ini dan bekerja disalah satu rumah makan yang tidak begitu besar dan hanya memiliki beberapa karyawan saja.
"Kalian yakin istri saya bekerja disini?" ucap Arga yang dengan tidak percaya jika Tasha akan melakukan pekerja seberat ini.
Rasa tidak tega yang kini telah menyelimuti hatinya, karena perbuatan dan sikapnya sehingga istri yang dicintainya harus pergi dari kemewahan yang telah disediakannya dan harus bekerja selelah ini.
"Kalian turunlah untuk mengawasinya disana. Bayar pemilik rumah makan itu untuk tidak memperlakukan istri saya sama dengan karyawan lainnya, buat istri saya seistimewa mungkin bekerja disana" perintah Arga pada para pengawalnya yang sudah bergegas ingin pergi dari sana.
"Kerjakan serapi mungkin, agar tidak mengundang kecurigaan orang-orang disana" sambung Arga pada pengawalnya.
__ADS_1
Para pengawal yang ingin turun itu kemudian melepas jas mereka dan berpenampilan seperti orang bisa sebelum menuruni mobil itu.
Arga yang masih berada didalam mobil itu memantap dari kejauhan. Dia tidak ingin turun untuk menemui Tasha disana, dia akan tau apa yang akan dilakukan Tasha jika melihat keberadaannya disana dan akan membuat kepanikan para pengunjung.
"Pak, antarkan saya kekosan istri saya" perintah Arga kini yang masih tidak percaya dengan apa yang sedang dijalani istrinya beberapa minggu ini.
*
Hari sudah beranjak sore, Tasha yang telah menyelesaikan pekerjaan ringannya hari ini, berbeda dengan hari-hari sebelumnya selama dia bekerja disana. Ini adalah hari lenggangnya yang dirasakannya walaupun para pembeli dirumah makan tempatnya bekerja itu sangat ramai seperti biasanya.
Tasha yang telah didepan pintu kosannya, kini merogoh sebuah kunci kecil dalam kantong celananya yang disimpannya disana.
"Tidak terkunci?" mata Tasha membola dengan segala macam pikiran yang ada diisi kepalanya saat ini.
Tidak menunggu berlama-lama lagi Tasha yang berada didepan pintu masuk itu, kini dia berlari masuk kedalam kosannya dan semakin terpaku melihat seorang lelaki yang sangat dikenalnya dan dirindukannya kini telah bersandar dikasur kecilnya.
Manik coklat yang telah membola saling berpandangan itu membuat Tasha tidak dapat berucap ataupun mengusir lelaki itu.
"Kamu siapa? Kenapa kamu berada didalam kosan saya. Kamu mau maling? Saya orang miskin tidak punya harta, sebaiknya kamu keluar" tunjuk Tasha kearah pintu mengusir Arga.
Tasha yang mendapatkan Arga menjemputnya dan menemukannya kini tidak dapat berbohong jika pertemuan ini lah memang yang diharapkannya. Namun Tasha tetap akan menghindar karena ini belum saat yang tepat untuk kembali kehati yang tidak mempercayainya.
__ADS_1
"Sudah pulang istriku" ucap Arga santai pada Tasha.
"Istri?" Tatap Tasha berpura-pura tidak paham atas penuturan lawan bicaranya itu.
"Sayang, saya merindukan mu. Kenapa kamu meninggalkan saya sampai selama ini" ucap Arga dengan tatapan sendunya memang itu lah yang dirasakannya saat ini.
'Ini jawaban dari pekerjaan ku tadi. Dia datang dengan segala perintahnya, dia membuat pekerjaan ku hari ini sangat mudah dan tidak ada pekerjaan yang ku kerjakan' batin Tasha dengan wajah yang telah memerah.
"Jika Anda tidak ingin keluar, saya akan berteriak sekarang Tuan" ucap Tasha dengan nada yang menentang.
Arga yang melihat wajah Tasha yang seperti ingin menangis tetapi ditepis dengan emosinya, kini dia bangkit dari kasur diruangan itu dan mendekatkan langkahnya pada Tasha yang masih berdiri diantara pintu itu.
"Kamu tidak merindukan saya Natasha" ucap Arga dengan nada lirihnya yang telah menatap kedua bola mata Tasha yang telah lama tidak dilihatnya.
"Natasha? Saya bukan nama yang anda sebutkan Tuan. Saya Aga-" kalimat Tasha terpotong karena Arga menyambung kalimat yang akan diucapkannya.
"Agatha?" Dengan santainya Arga juga menunjukan sebuah cincin yang didapatnya dari lemari Tasha, yang tidak bisa lagi dia untuk berkilah, karena cincin pernikahan itu ada tulisan nama mereka yang terukir didalamnya.
'Tidak ada gunanya aku menutupi semuanya. Semua sudah jelas jika aku memang Natasha Shofia. Kenapa waktu itu tidak aku buang saja benda itu' batin Tasha dengan mata yang berkaca-kaca dan butiran siap untuk meluncur.
"Sayang, maaf kan saya yang terlambat mengetahuinya karena diselimuti rasa cemburu. Setelah kepergian mu, saya baru menyadari jika saya harus mencari tau kebenarannya. Maaf saya yang terlambat mempercayaimu sayang. Saya tidak bisa hidup tanpa kamu Natasha, saya berjanji akan memperbaiki seluruh kesalahan saya atas kamu sayang" Arga yang sedari tadi ada dihadapan Tasha kini memberanikan diri untuk memeluk tubuh istrinya dan tanpa sadarnya dia juga mengeluarkan air matanya karena doanya saat ini terkabul, dia masih diizinkan untuk dapat kembali bertemu dengan sang istri.
__ADS_1
'Setidak percayai itu kamu terhadapku om, sehingga semuanya berantakan dan sekarang baru kamu menyadarinya' batin Tasha yang masih terpaku dalam pelukkan Arga.
"Buat apa om mencari saya lagi?" dengan bibir yang bergetar dan air yang sudah penuh dipeluk mata, Tasha menangis didalam pelukkan Arga.