Jodoh Ku Tertunda

Jodoh Ku Tertunda
31. Kembali Lagi


__ADS_3

Suara kubikel besi itu telah terdengar menandakan telah sampainya kelantai yang dituju oleh Arga sebelumnya. Tasha yang melihat jika ini bukan lantai yang ditujunya memberikan jalan buat Arga dan diikuti oleh kedua bawahannya itu untuk lewat keluar dari kubikel besi itu.


Tasha melirik Arga dan juga Erina yang telah berjalan beriringan selepas keluar dari lift itu menambah kekesalan Tasha yang melihatkan tubuh seksi Erina yang berlenggak-lenggok disamping Arga.


"Om tua itu apa gak ada orang lain yang bisa menjadi sekretarisnya apa? Kenapa harus wanita penggoda itu sih yang dijadikan sekretaris" gumamnya sambil menatap sinis punggung Erina yang seakan berjalan bak model itu.


'Awas aja kalau om tua itu tertarik dengan wanita penggoda itu' batin Tasha yang sudah tidak melihat arah Arga dan kedua bawahannya itu lagi.


Tidak lama setelah Arga, Joe dan juga Erina keluar, pintu besi itu kembali tertutup. Dengan leganya nafas Tasha menarik nafasnya panjang-panjang dan mengeluarkan nya dengan perlahan.


"Huhhhhhh Linda, hari ini adalah hari yang berat bagi ku. Kenapa harus dipertemukan juga ditempat kerja dengan om-om tua itu disini" Tasha yang sudah menyandarkan tubuhnya ke dinding besi itu seakan darahnya kembali lagi mengedarkan keseluruh tubuhnya.


"Kenapa Tuhan harus selalu mempertemukan ku dengan om-om tua dingin itu. Apa tidak ada manusia lain dimuka bumi ini selain dia" gumamnya sendiri menatap langit-langit ruangan kecil itu.


Tidak lama setelah Arga keluar dari kubikel besi itu, Tasha dan juga Linda pun telah sampai dilantai dasar dimana mobil perusahaan yang telah menjemput mereka telah lebih dulu sampai di lobby perusahaan milik Arga.


Tanpa sengaja Tasha dengan hempasan kuatnya dia membanting pintu mobil yang telah dimasukinya dan menyandarkan tubuhnya di jok bagian tempat duduk penumpang itu.


Selama didalam perjalanan yang ditempuh oleh Tasha dan Linda, mereka tidak ada percakapan yang dilontarkan oleh keduanya, yang dilihatnya kini, Tasha sudah memejamkan matanya tidak tau apakah tertidur atau hanya berimajinasi atau berhayal dengan tertutupnya matanya.


Jarak yang ditempuh tidak begitu jauh dari perusahaan Melvi Winston Estate ke gedung perusahaan Pelita Indah Group, kini mobil yang ditumpangi oleh Tasha dan juga Linda telah sampai pada perusahaan mereka.


Linda yang melihat Tasha tidak bangun dari tidurnya, mulai menggoyangkan tubuhnya untuk membangunkan nya.


"Sha, Sha sudah sampai kantor. Ayo turun" tangan Tasha yang sudah di tarik Linda membangunkannya dari tidurnya.


"Hemm cepat sekali" gumamnya pada Linda yang sudah memegang tangannya.


Sampai nya di kantor Tasha, Tasha kembali ketempat duduk kebesarannya yang hanya bersekatan kaca-kaca dengan para pekerja dan karyawan lain nya.


Mata Tasha terperangah melihat tumpukan kertas-kertas yang berada dimeja ruangannya itu.


"Hanya 10 hari ditinggal sudah sebanyak ini" gumamnya sendiri menatap kertas itu yang sudah seperti bukit baginya.


Tubuh Tasha yang sudah letih mulai menundukkan wajahnya dengan menindihkan lipatan tangannya sebagai bantalannya. Tasha yang sudah lelah dengan cepatnya melanjutkan tidurnya kembali setelah sebelumnya tertidur didalam mobil perusahaan tadi.


Tanpa disadarinya, Tasha yang sudah terlelap tidak lagi sadar waktu istirahat hampir saja selesai. Yang sebelumnya juga Linda telah membangunkan nya namun tetap Tasha tidak lagi mengindahkan panggilan suara Linda yang mendesing ditelinganya.

__ADS_1


Mata Tasha begitu berat, wajahnya yang sudah kusut dan berantakan dari tidurkan mulai membuka matanya dan mengucek kedua matanya.


"Sepi. Ini semua orang sedang istirahat atau sudah pulang ya?" batin nya menatap ruangan yang sudah kosong tidak berpenghuni itu.


Tasha mulai bangkit dari tempatnya dan melihat jam ditangan nya. Mata Tasha membola melihat jam istirahat tinggal 5 menit lagi.


"5 menit lagi. Turun kearah kantin saja memakan waktu 10 menit, mana keburu ini untuk makan" gumamnya sendiri yang berada diruangan nya itu.


"Lin kenapa tidak bangunkan gue. Gue lapar tau, tolong belikkan makanan ringan atau roti dikantin ya" panggilan Tasha pada Linda melalui benda pipih itu.


"Hemmm dari tadi sudah gue bangunin Elu, sampai gue berteriak ditelinga elu juga elu gak bangun" protes nya pada Tasha teman nya itu.


"Udah, jangan lupa pesanan gue ya" tut tut tut suara panggilan itu terputus oleh Tasha dan kembali duduk kekursi kerjanya.


*


Waktu jam kerja telah selesai. Para karyawan yang bekerja disana mulai bergegas meninggalkan pekerjaan mereka masing-masing dan meninggalkan ruangan yang menjadi tempat mereka mencari nafkah itu.


Tasha yang tadinya telah kembali fokus mengerjakan sedikit demi sedikit pekerjaannya, kini juga mulai mematikan komputer nya dan menutup berkas-berkas yang ada dimeja ruangan nya itu.


"Lin, tunggu gue ya" intipnya Linda dari sebalik pintu kaca yang sudah bersiap juga untuk meninggalkan pekerjaannya.


"Lin, elu duluan aja, gue nunggu dilobby" tatapnya pada Linda yang ingin pulang kearah kos-kosannya berada.


"Elu gak bawak mobil Sha?"


Tasha menggeleng menandakan sebuah jawaban untuk Linda.


"Gue nunggu om tua itu, tadi sudah gue bilang kedia untuk menjemput gue sebelum turun dari mobilnya. Mobil gue masih dirumah orang tua gue, jadi untuk sementara gue nebeng dengannya" tatapan malas Tasha yang hanya menatap lurus kedepan.


"Berani elu sendirian disini. Kantor ini makin sore, makin sunyi loh Sha. Bagusan elu nunggu di kosan gue"


Tasha melirik Linda yang sedang didepannya dan menggelengkan kepalanya lagi.


"Om tua itu tidak tau kosan elu. Nanti dilihatnya gue gak ada disini, mau-mau gue yang ditinggalkan nya" ucapan Tasha dengan bibirnya yang sudah naik dan merungut itu.


"Ya udah deh, gue temenin aja elu disini ya"

__ADS_1


Tasha menolak, karena tidak ingin membebani Linda yang sudah banyak membantunya selama ini.


Setelah kepergian Linda, kini Tasha yang sendiri dilobby kantor mereka hanya bertemankan seorang penjaga perusahaan itu yang sedang bertugas. Setengah jam Tasha sudah menunggu Arga mulai menghentak-hentakkan kaki nya.


"Dasar orang tua, apa dia lupa untuk menjemputku" Tasha yang sudah mencari ponselnya yang ada didalam tasnya kini, dia ingin menghubungi Arga yang sudah menunggunya lama.


"S**l gue gak nyimpan nomor om tua itu lagi" wajahnya sudah frustasi karena menunggu Arga yang tidak kunjung tiba.


Masih menatap layar ponselnya, dia berharap Arga menghubunginya agar dapat memberitahu keberadaannya sekarang.


"Apa aku hubungi mama papa aja ya untuk menanyakan nomor om-om tua itu. Tapi mereka akan berpikiran kenapa aku tidak menyimpan nomor suami sendiri" Tasha yang masih panik terus menatap jam ditangannya yang semakin bergerak dan cuaca juga mulai berganti.


Tanpa disadari Tasha, salah satu mobil masuk kedalam lobby kantor nya dan mendekat padanya.


Titttttttt


Suara klakson mengudara diruangan terbuka itu. Ya, mobil Arga telah sampai dihadapannya.


"Lama sekali, kenapa tidak besok saja jemputnya" banting Tasha pintu mobil Arga yang telah menduduki disebelah tempat duduk Arga.


Arga melirik kesebelah Tasha yang disampingnya dan melajukan kembali mobilnya.


"Om tolong antarkan saya kerumah mama dan papa, saya ingin mengambil mobil saya" perintah Tasha pada Arga yang hanya berdehem.


Tasha yang menatap jalanan disebalik jendela mobil dan hanya terdiam didalam mobil itu sesekali melihat ponsel ditangannya.


"Om berhenti" jeritan Tasha dengan Arga untuk memberhentikan mobil yang sedang melaju itu.


Mobil yang telah diberhentikan Arga tepat di depan supermarket yang cukup ramai pengunjung disana. Mata Tasha menangkap seorang lelaki dengan perempuan yang sedang membawa seorang anak bayi, tidak lain seseorang yang dilihatnya adalah orang yang sampai sekarang masih dirasakan sakitnya jika mengingat dan mengenang semua perbuatan dan juga penghiatan yang dilakukan padanya yaitu Farhan. Tasha sudah mengubur dalam-dalam sosok Farhan didalam hidupnya tapi Tasha belum bisa melupakan penghianatan yang telah Farhan perbuat padanya.


Nafas Tasha sudah tidak beraturan, d**a nya serasa sesak seperti menerima sebuah peluru tepat dijantung nya. Matanya yang sudah terfokus pada Farhan dan juga Siska sudah berkaca-kaca. Dia melihat mereka sudah keluar dari supermarket itu dengan membawa barang belanjaan menuju kemobil mereka.


Manik Tasha yang sudah tidak dapat lagi membendung rasa sakitnya siap meluncurkan buliran bening pada kedua pipinya. Tasha menangis tidak lagi bersuara, dia hanya melihat dengan bahagianya Farhan sekarang bersama dengan Siska, apa lagi mungkin anak bayi yang bersama mereka juga adalah hasil buah cinta mereka berdua.


Arga yang masih bingung mengapa Tasha menyuruhnya untuk memberhentikan mobilnya masih merasa penasaran. Wajah yang masih menatap jendela disebelahnya dan memunggungi Arga, kini Tasha hanya terdiam tidak memberikan respon apa pun.


"Mau beli apa, turun lah jika ada sesuatu yang ingin kamu beli" perintah Arga yang sama sekali tidak didengarkan oleh Tasha dan hanya masih terpaku menatap Farhan yang sudah menjadi masa lalunya.

__ADS_1


Tangisan Tasha yang tidak mengeluarkan suara seakan betapa sakit yang Farhan perbuat padanya sampai saat ini masih belum sembuh seutuhnya.


__ADS_2