
Perjalanan yang membosankan walaupun hanya duduk dan tidak melakukan aktifitas yang menguras tenaga, tetapi tetap saja mejalari ketubuh dan merasakan lelah yang dirasakan Tasha.
Begitu juga dengan makanan yang juga telah tersaji diatas meja dan banyak nya fasilitas terbaik yang diberikan oleh para crew cabin yang dipersiapkan Joe sang assiten untuk sang atasan dan istrinya itu.
Joe sangat berperan penting dalam hidup Arga, tidak hanya dalam masalah bisnisnya yang dipercayakan nya kepada asistennya itu tetapi hubungan pernikahan Arga dan juga Tasha dari awal pernikahan mereka sampai sekarang yang dialami kedua insan itu dan begitu banyaknya bantuan Joe yang terlibat dalam hubungan pernikahan mereka sampai mereka kembali dipersatukan.
Walaupun atas perintah dari Arga, tetapi Joe lah yang menjalankan sebuah perintah itu dan memberikan fasilitas-fasilitas terbaik nya, yang harus diutamakan Joe pada Arga dan Tasha sebagai atasannya.
Selama perjalan mereka yang terasa sangat lama, Tasha menyandarkan tubuhnya dibahu sang suami dan memejamkan matanya. Berbeda dengan Arga yang tidak bisa tertidur, kini dia memaikan kembali benda pipihnya dan sesekali dia juga mengambil foto Tasha yang sedang tertidur dibahunya itu.
Walaupun Arga tidak menyukai sebuah dokumentasi sebuah foto atau sebagainya, tetapi kali ini berbeda ketika dia bersama dengan Tasha, dia jadi lebih sering dan ingin mengambil sebuah foto untuk mengabadikan moment-moment kebersamaan mereka.
Tasha yang telah terbangun dari tidurnya setelah tertidur dibahu Arga yang menjadikan nya sebuah bantalan kepala nya masih terduduk ditempat duduk nya.
Mata Tasha yang sebelumnya masih malas untuk dibukakan nya, kini setelah rasanya armada besi yang ditumpangi mereka itu seperti telah mendarat dan Tasha mulai membolakan matanya melihat kesekitaran tempat yang dilihatnya disebalik jendela private jet itu.
Masih ditempat yang sama kini Tasha menatap kearah Arga yang juga telah mengambil benda pipihnya yang masih berada diatas meja.
"Mas ini dimana? Seperti bukan di sebuah bandara yang biasa kita kunjungi ataupun tempat yang pernah aku lihat sebelum nya mas" ujar Tasha yang dipenuhi dengan rasa penasaran dan manik yang masih dalam penyelidikan menatap Arga yang duduk berada disamping nya itu.
Arga yang telah mengambil tangan Tasha dan menciumi lembut tangan itu, sedangkan Tasha yang masih sibuk kembali mengedarkan padangannya kearah luar jendela yang masih berada didalam privete jet, kini Arga membawa Tasha keluar setelah memastikan armada itu telah berhenti dengan aman.
__ADS_1
"Kita keluar sayang" ucap Arga sambil melemparkan senyuman menatap Tasha yang masih penuh dalam pertanyaannya.
Tasha yang hanya mengikut, dan memilih turun bersama Arga yang telah membawa tangannya untuk keluar dan menuruni anak tangga armada itu.
Langkah kaki mereka yang sekarang telah berada seperti disebuah pulau yang tidak ditemukan seorang pengunjung seperti sebuah tempat wisata yang diperbolehkan untuk sebagian orang yang dapat menyewa tempat tersebut dan tidak dibuka untuk umum.
Armada yang mendarat tidak begitu jauh dari sebuah resort dengan beberapa penjaga yang mengawasi pulau itu dan langsung memperlihatkan sebuah pantai yang ada dipulau itu.
Suara desiran ombak air laut yang tengah berlomba-lomba langsung terdengar ditelinga dan suasana yang tenang menambahkan keindahan dialam yang masih asri dan tenang.
Senyuman bahagia merekah dari raut wajah Tasha kini memancar keseluruh tempat yang sedang ada didepan matanya ,dan berada ditempat yang sekarang dia dan juga Arga kunjungi. Tidak henti-hentinya dia menyapukan pandangannya melihat kepulau itu walaupun jarang dikunjungi oleh banyak pengunjung tetapi tempat itu sangat terawat.
Seketika manik mata Tasha telah berkaca-kaca, dia tidak menyangka Arga akan membawa nya ketempat yang belum pernah sebelumnya dikunjunginya untuk berbulan madu. Dia berpikir setelah dia meninggalkan kota yang menjadi tempat pelarian nya itu, dia akan kembali keappartement Arga dan melakukan kembali aktifitasnya seperti biasa yang sebelumnya pernah dilakukannya.
"I-ini serius sayang?" Dengan gugupnya Tasha mulai membalikkan tubuhnya menghadap sang suami dan seketika juga butiran bening mengaliri dikedua pipinya dari sudut matanya menatap Arga yang ada dihadapannya sekarang.
Tanpa rasa malunya dengan crew cabin yang masih berdiri tepat ditempat yang sama dengan Arga dan juga Tasha setelah sampai mengantarkan dari penerbangan mereka, Tasha tanpa ragu-ragu langsung melingkarkan kedua tangannya keperut Arga dan memeluk sang suami merasakan sekarang dia adalah pemilik sesungguhnya lelaki itu.
Para crew cabin yang melihat pemandangan sepasang kekasih yang sedang merasakan kebahagiaan seperti pengantin baru walaupun pernikahan mereka telah lama, hanya tersenyum merasakan kebahagian yang dirasakan oleh Arga dan juga Tasha.
Arga yang mendapat pelukan dari sang istri, juga membalas pelukan itu mulai mengusup pungggung Tasha dan rambut indahnya yang tergurai indah.
__ADS_1
"Kamu bahagia dengan ini sayang?" Ucap Arga yang masih berada dalam d**a bidangnya.
Tasha hanya mengangguk kecil dalam pelukan itu dan menikmati aroma parfum yang dipakai Arga yang telah lama tidak diciumnya.
Tidak terlalu lama mereka saling menikmati masa-masa kerinduan mereka yang telah lama tidak saling bertemu itu, kini Arga membawa Tasha menuju kebibir pantai yang berada dipulau tersebut.
Tasha yang melihat pantai dengan desiran gulungan ombak yang membuatnya langsung berlari menuju kebibir pantai yang ingin menikmati sentuhan air pantai itu.
"Sayang hati-hati" jeritan Arga yang mengingat kan kembali bebrapa bulan lalu bahwa Tasha sang istri tidak tau berenang dan hampir saja ingin menghilangkan nyawanya.
Tasha yang tidak lagi mengindahkan Arga yang telah menjerit padanya,kini memainkan air-air pantai yang menyapu kedua kakinya.
Arga yang masih tertinggal dibelakang melihat Tasha yang begitu bahagianya kini melangkahkan kaki besarnya menghampiri sang istri.
"Terimakasih atas kejutannya sayang" ucap Tasha yang melihat Arga telah berada disampingnya dan mengambil tangannya.
Arga yang hanya terdiam menatap Tasha sambil memberikan senyuman kebahagaian buat sang istri.
"Mas tidak adakah perahu atau sebuah boat kecil yang bisa mengantar kita sampai ketengah laut itu" tunjuk tangan Tasha yang kearah tengah laut antara perbatasan pulau yang menjadi tempat wisata mereka dengan pulau pemukiman yang dihuni oleh penduduk disekitaran sana walaupun pulau itu tidak terlihat karena jarak yang cukup jauh.
Arga mengkerutkan dahinya tidak menjawab pertanyaan Tasha, mana mungkin dia akan membawa istrinya itu sampai ketengah laut tanpa pengamanan dan fasilitas bagus yang mereka kenakan, takut jika marabahaya akan menghampiri mereka jika mereka memaksakan hanya menggunakan fasilitas yang minim untuk sampai disana dan tidak dapat menyelamatkan Tasha.
__ADS_1