Jodoh Ku Tertunda

Jodoh Ku Tertunda
30. Kagum


__ADS_3

Tasha yang sedari tadi hanya menundukkan kepalanya setelah kehadiran Arga masih berada dalam pikiran yang sudah tidak fokus. Dia sudah meremasi baju kemejanya untuk menutupi gerogi yang tiba-tiba menyerangnya.


'Ayo Tasha, kamu harus profesional. Disini dia bukanlah suamimu, tapi anggaplah dia seorang clien dalam bisnis kalian. Tetap tenang Tasha' batin Tasha terus menyemangati dirinya agar tidak terlihat jika dia gugup ketika dia tau jika perusahaan Arga lah yang menjadi rekan kerjasamanya saat ini.


Tasha yang menatap kearah pintu meeting yang sudah didorong masuk oleh seseorang wanita yang sedang membawa dokumen penting itu yang tadinya tertinggal untuk menjadi salah satu materi dalam pertemuan meeting itu.


Tasha yang masih menyorotkan matanya menatap kearah wanita seksi dengan memakai pakaian kemeja dan rok yang sangat minim diatas lutut itu dan memiliki belahan dibagian pahanya, memperlihatkan keseksiannya, kini wanita itu berada duduk disamping Arga. Dia adalah Erina seorang sekretaris Arga yang baru bekerja dengannya satu tahunan ini.


Rasa dingin yang dirasakannya tadi tiba-tiba memanas setelah menatap Erina dengan santainya memberikan dokumen itu tepat dihadapan Arga dan melemparkan sebuah senyuman pada Arga atasannya itu.


"Ini mungkin alasannya betah berlama-lama dikantornya sampai pulang larut malam, ternyata perempuan ini penyebabnya" gumamnya sambil menatap pada keduanya yang kini berada dihadapannya itu.


Arga yang telah duduk ditempatnya dan sudah bersiap-siap untuk memulai meeting mereka sangat bersikap profesional dan gagahnya. Arga sedikit melirik Tasha setelah kedatanganya. Arga tersenyum tipis sambil menaikan alis nya melihat tingkah Tasha yang sudah sangat gelisah itu.


Mario yang sebagai moderator dalam pertemuan ini, kini dia akan memulai meetingnya setelah sebelumnya dia selesai mempersiapkan materi-materi dan apa saja yang akan mereka bahas pada meeting kali ini.


Setelah Mario membuka pertemuan itu beberapa menit yang lalu, kembalilah kepada Arga yang akan menjadi seorang pemateri dalam meeting mereka karena dia lah yang akan memimpin jalannya pertemuan itu.


Dengan gagahnya Arga yang telah bangkit dari duduknya memulai persentasi yang akan dijelaskan nya pada rekan kerjasamanya yaitu dari perusahaan Pelita Indah Group yang ditugaskan kepada Tasha sebagai penanggung jawabnya.


'Tasha ayo lihat Arga, jangan perlihatkan wajah kesal dan kecemasan mu, kamu harus profesional dan fokus' Tasha yang masih berkata-kata dalam hatinya kini mulai memberanikan diri menatap kearah Arga yang tetap bersikap tenang.


'Lihat Tasha dia saja bisa seprofesional dan sangat berwibawa seperti ini. Kenapa kamu merasa risih dan tidak tenang' Tasha sambil melirik pada wanita yang berada disamping Arga, dan menatap bangga padanya.


'Ih apa-apaan sih ini wanita, sekagum itu ya sama suami orang' gumamnya sambil menahan amarahnya.

__ADS_1


Tasha sangat salut dengan persentasi yang diterangkan oleh Arga. Dia sangat pintar dan juga dia dapat menjelaskan dengan sangat detail tentang apa yang menjadi pembahasan dan menguasai isi materi yang sedang dipersentasikan nya itu. Tidak ada kata satu pun yang salah dalam penuturan berucap Arga dan cara bicaranya pada saat menjelaskan isi materinya, seakan apa yang sedang Arga jelaskan membuat para rekan yang menjadi seorang pendengarnya memahami apa yang sedang disampaikannya saat ini.


"Terimakasih, jika ada pertanyaan dari perusahaan Pelita Indah Group, saya persilahkan" Arga melemparkan sebuah pertanyaan pada perusahaan Tasha yang menjadi rekan kerjasamanya saat ini dan kini dia melirik kearah Tasha dan menangkap matanya.


Tasha yang sudah tidak tenang dengan duduknya mulai gelisah dengan tatapan Arga padanya.


"Sha, ayo tanyakan apa yang ingin kamu tanyakan" Linda sudah menyenggol kaki Tasha dan berbisik padanya.


Tasha masih terdiam sambil menatap Arga kini dia tidak mengeluarkan pertanyaan sedikitpun pada Arga yang masih tetap berdiri tepat disamping ketika dia mempersentasikan materinya tadi. Hati yang sudah memanas ketika kedatangan Erina ingin cepat untuk mengakhiri meeting ini.


"Sha, ayo tanyakan apa pendapat elu. Biasanya jika ada meeting-meeting seperti ini, elu yang sering nanya. Ini kenapa elu hanya diam aja, jangan gara-gara suami elu yang menjadi rekan kerja kita, elu jadi setuju-setuju aja" bisik Linda yang berada disamping Tasha.


"Gue gak ada pertanyaan Lin. Gue mau cepat-cepat keluar dari perusahaan ini" bisiknya kembali pada Linda yang berada disebelahnya.


Tasha yang mulai menarik nafasnya panjang sesekali melirik pada Arga dan juga Erina yang sepertinya tidak melihat padanya.


Setelah masing-masing dari mereka berdiri dan saling mendekat untuk berjabatan tangan.


Arga dan Tasha masih saling bertatapan ketika tangan mereka bersatu dalam jabatan tangan mereka. Dengan senyuman sinis dan mengejeknya Arga melepaskan tangan Tasha dan meninggalkannya.


Seakan darah Tasha yang tadi nya seperti berhenti, mulai mengaliri keseluruh tubuhnya. Jantungnya berdengup kencang sudah tidak separah tadi sebelum acara meeting ini berakhir. Tasha kembali menduduki bangku yang ada diruangan meeting itu untuk menetralkan kembali tubuhnya.


"Kenapa aku tidak tau apa nama perusahaan om-om tua itu sih" usap Tasha wajahnya dengan kasar ketika kembali membayangkan pertama kali Arga masuk dari pintu ruangan itu.


"Ahh, pasti dia akan menertawakan ku karena sikap ku yang tidak bisa seprofesional dengan sikap dia saat bertemu dengan ku" gumam nya sendiri yang sedang dilihat Linda teman kerjanya.

__ADS_1


Linda yang terus memperhatikan Tasha yang masih berada dalam pikirannya, mulai mendekat.


"Sha, sudah lupakan. Tidak perlu kamu ingat-ingat lagi. Kamu itu bukan tidak profesional, tapi kamu itu shock melihat kehadiran suami mu itu yang menjadi rekan kerja kita" usapnya punggung Tasha yang masih bernafas berat.


"Sudah Sha, mending kita kembali ke kantor" ajak Linda tangan Tasha untuk meninggalkan ruangan meeting mereka tadi.


Tasha dan Linda mulai melangkahkan kaki nya kearah kubikel besi yang berada dilantai 18 milik perusahaan Arga itu. Namun langkahnya terhenti ketika Arga juga akan menuju kearah yang sama dengan arah yang ditujunya.


Tangan Tasha mengambil tangan Linda yang sedang berjalan disampingnya.


"Lin berhenti, pelankan langkahmu. Kau lihat itu om Arga juga sedang menuju lift yang sama dengan yang kita tuju" bisiknya pada Linda yang masih menatap Arga disana.


"Tetap tenang Sha. Anggap saja dia seorang rekan kerja mu bukan orang yang berstatus suami mu. Jangan karna sikap mu seperti ini, dia semakin mentertawakanmu. Ayo jalan" tarik Linda pelan tangan Tasha yang masih memberhentikan langkahnya.


Ting


Suara lift sudah terdengar dilantai itu, Arga dan asisten juga sekretarisnya itu masuk terlebih dahulu ke dalam kubikel besi itu disusul dengan Tasha dan juga Linda dibelakangnya. Didalam lift itu hanya ada mereka berlima. Mario yang lebih dahulu meninggalkan Arga bos nya karena sedang ada urusan yang harus dikejarnya.


Tidak ada suara percakapan ataupun suara pembicaraan didalam lift besi itu. Semua penghuni yang berada didalamnya masing-masing berada dalam pikirannya.


Arga yang berada dibelakang Tasha menatap punggungnya yang terlihat seperti tidak nyamannya dengan keberadaan Arga diruangan yang sama dengan nya.


"Joe persiapkan agenda-agenda saya hari ini" perintah Arga yang masih berdiri disamping Joe dan menatap lurus menatap Tasha didepannya.


"Baik pak" ucapan singkat yang dikeluarkan Joe yang melihat kearah dua manusia yang hanya berdiam-diaman semenjak acara meeting tadi.

__ADS_1


__ADS_2