
Setelah pertemuannya beberapa minggu lalu dengan Farhan, mereka tidak pernah lagi bertemu. Tasha tidak ingin lagi kembali untuk mengulang rasa sakitnya tentang Farhan karena rasanya sekarang Tasha sudah terbiasa dengan kondisi hidup yang memang tidak ada habisnya penderitaan yang dialaminya dan dijalaninya hingga sampai sekarang.
Suasana kamar yang masih gelap membuat Tasha masih berada dalam tidurnya. Ini sudah menunjukkan pukul 7 pagi, Tasha yang akhir-akhir ini disibukkan dengan kegiatannya beberapa hari ini membuat kelelahan dalam dirinya.
"Hemm ya hallo, ini siapa" suara Tasha yang masih dalam tekanan kantuk yang terdengar serak.
"Apa ?" Tasha yang tadinya masih memejam kini telah membesarkan bola matanya melebar. Sebuah panggilan dari Arga membangunkannya untuk bekerja.
Tasha langsung membuka selimut yang sebelumnya melilit tubuhnya dan langsung melompati ranjangnya menuju keluar ke kamar mandi. Kamar mandi yang berada diluar kamar itu, terasa memperlambat geraknya.
"Kenapa om tidak membuat kamar mandi dalam kamar aja sih" Tasha yang melupakan handuk dan pakaiannya kembali berlari masuk lagi kedalam kamarnya.
Arga yang tersenyum sinis sambil terduduk diruangan sofa itu pun melihat kegusaran Tasha sambil meminum segelas kopinya.
"Dasar bocah, apa saja kerjanya sampai melupakan untuk bangun" gerutunya sambil mencek email-email masuk kedalam benda pipihnya.
15 menit berlalu, Tasha yang sudah keluar dari kamar mandi itu kembali lagi kedalam kamarnya dengan menenteng handuk dibagian bahunya dan tidak melihat lagi kearah Arga yang masih terduduk melihat tingkahnya yang seperti bocah. Arga yang sudah selesai meminum kopi yang telah dibuatnya tadi pun telah habis dan dia juga akan bersiap-siap untuk pergi kekantornya.
Tasha yang sedang memoles wajahnya mendengarkan langkah kaki seseorang dari luar yang semakin lama semakin menjauh itu.
"Kunci" bola mata Tasha membesar ketika dia yang telah melupakan dimana sebelumnya dia meletakkan kunci mobilnya, kini langsung bangkit dari tempat duduknya untuk mencari kunci itu.
"Dimana aku meletakkannya" Tasha terus membongkar isi kamarnya mulai dari laci nakas, tas dan juga tempat tidurnya.
__ADS_1
Tidak menunggu lagi sebelum Arga menjauh, Tasha yang telah memasukkan kembali seluruh alat makeup yang dibutuhkannya kedalam tas makeupnya. Tasha berlari mengejar Arga yang sudah keluar dari appartement itu dengan membawa tas makeupnya dan juga tas yang akan dikenakannya untuk bekerja.
"Om tunggu dilobby" tegas Tasha dalam panggilan yang dilakukannya pada Arga terus mengejarnya yang telah masuk kedalam kubikel besi dilantai itu.
"Bisa terlambat jika harus naik taxi" Tasha yang telah melihat jam dilayar ponselnya semakin gusar karena sudah menunjukkan jam setengah delapan dan hanya ada waktu setengah jam lagi untuk sampai kekantornya.
Tasha yang sudah sampai lobby melihat mobil Arga sudah terpakir dilobby itu untuk menunggunya. Nafas Tasha yang tadinya merasakan ngos-ngosan kini lebih sedikit tenang.
Dengan senyuman diwajahnya Tasha berlari kecil menuju kearah mobil milik Arga.
"Untuk apa kamu meminta saya menunggumu" masih diambang pintu masuk mobil itu, Tasha sudah mendapatkan ocehan Arga yang memanaskan telinganya. Namun Tasha mencoba tidak ambil pusing tentang itu, karena saat ini dia membutuhkan Arga untuk mengantarkannya sampai kekantornya.
Tasha tidak mengindahkan ocehan Arga, dia tetap masuk kedalam mobil itu dan duduk disamping tempat duduk bangku penumpang.
"Kamu pikir saya taxi online atau jasa transportasi apa. Cepat keluar dari mobil saya" Arga yang belum menjalankan mobilnya dengan tegasnya dia menyuruh Tasha untuk keluar dari mobil miliknya.
"Bapak Arga terhormat, anda pilih Tuan Erik atau Nyonya Herni yang akan saya hubungi sekarang. Anda tinggal memilih dari dua pilihan itu" tatapan sinis Tasha yang menantang Arga dengan aduannya pada kedua orang yang menjadi senjatanya.
Tasha yang telah siap keluar dari mobil Arga dan membuka pintu mobil itu, namun tangannya ditahan oleh Arga. Tangan yang terasa tertahan itu membuat Tasha membalikkan wajahnya menatap Arga sambil menaikan alisnya yang seakan menantang Arga.
"Anda takut Tuan Arga?" dengan senyuman sinisnya Tasha menatap Arga dengan penuh kemenangan.
Arga memang kalah jika harus dipilihkan oleh kedua orang yang sangat dihormatinya itu, baik Herni walaupun dia adalah seorang ibu kandungnya, tapi Herni akan sangat murka jika Tasha merengek dan mengadu padanya. Bahkan Herni akan selalu membela Tasha walaupun Arga adalah anak kandungnya. Begitu juga dengan Erik mertuanya itu, mana mungkin dia akan melanggar sebuah titipan yang telah diberikan Erik pada nya dan memberikan kepercayaan penuh padanya.
__ADS_1
"Terimakasih om suami baik ku" sebuah senyuman yang menawan kini terbit diwajah cantik Tasha sambil memainkan matanya dan kepala yang kini juga telah bersandar dibahu Arga.
*
Tasha yang tadi pagi telah diantarkan oleh Arga sampai kekantornya kini sekarang dia juga harus menunggu Arga untuk menjemputnya. Tasha sengaja berlama-lama keluar dari ruangannya tidak ingin menunggu Arga seperti sebelum-sebelumnya, dia lah yang selalu menunggu Arga dilobby.
Tasha masih melanjutkan pekerjaan nya yang sebentar lagi akan selesai itu. Sebuah dokumen yang akan diselesaikan adalah dokumen kerjasama antara perusahaan milik nya dengan perusahaan milik Arga yang masih berjalan itu.
Walaupun mereka telah jarang melakukan kembali pertemuan, tetapi proyek yang dikerjakan itu sedang berjalan dan akan berakhir. Tasha sengaja mempercepat proses kerjasama mereka, agar dia dan juga Arga secepatnya memutuskan hubungan atas terikatnya proyek yang mereka kerjakan itu.
Perusahaan-perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan milik Arga akan menjadi maju apalagi jika perusahan itu adalah perusahaan yang masih berkembang, karena sangat jarang perusahaan-perusahaan bisa mendapatkan kerjasama dengan perusahaan milik Arga. Jadi sangat beruntunglah perusahaan yang bisa bekerjasama dengan perusahaan Arga dan semakin dilirik oleh pembisnis lainnya.
"Jika kamu belum keluar juga, saya akan meninggalkan mu pergi." sebuah panggilan ancaman oleh Arga pada Tasha.
"Lakukan saja jika berani" sambung Tasha masih dalam panggilan yang sama.
"Kamu yakin?" Ucap Arga sebagai nada penekanan.
Tasha yang mengingat kembali jika Arga adalah seorang lelaki yang dingin dan tidak mau bercanda itu, membuat Tasha mengurungkan niatnya untuk melanjutkan pekerjaannya.
Tasha yang tidak takut jika ditinggal oleh Arga, hanya saja kini cuaca sudah semakin menampakkan kegelapannya sehingga taxi-taxi dikawasan padat perkantoran itu jika malam hari sudah sangat sepi.
"Baik, sebentar. Tolong jangan tinggalkan saya om suami" Tasha yang sebenarnya juga tidak tau panggilan yang kini tersemat untuk Arga itu, yang tiba-tiba saja timbul ketika akting mereka dimalam pertemuan dengan para rekan bisnis Arga.
__ADS_1