Jodoh Ku Tertunda

Jodoh Ku Tertunda
67. Benih Cinta


__ADS_3

Dengan hasrat yang sudah menggebu, Arga telah melepaskan celana pendeknya yang dipakainya tadi ketika dia berenang dan juga dengan cepatnya Arga melepaskan sebuah G-string yang melekat dibagian bawah menutupi aset berharga milik sang istri.


Tubuh mulus yang kini telah terekspost tepat didepan matanya tanpa sehelai benang pun menambahkan gejolak-gejolak Arga yang semakin menggelora.


Tasha yang mulai takut kini merapatkan kedua kakinya, rasa yang belum siap dan takut akan kejadian kemarin terulang lagi, dengan sikap Arga yang membuatnya harus memaksakan mereka untuk berpisah.


Arga yang melihat raut kegelisahan Tasha kini menghentikan seketika aktifitasnya dan mencium pipi Tasha yang tiba-tiba membasah.


"Ada yang salah sayang? Apa kamu belum siap ?" ucap Arga yang masih berada diatas Tasha dan menatap wajah sang istri yang telah memejamkan matanya.


Tasha yang hanya diam dan menggelengkan kepalanya kembali membuka matanya menangkap kedua manik Arga yang juga menatapnya dengan tatapan sendu yang juga tidak tega melihat Tasha jika belum siap itu.


Deraian air mata tidak henti, Tasha juga tidak tau jika sebuah butiran bening ini adalah sebuah air mata bahagia karena telah kembali dengan sang suami atau ingatannya kembali mengingat kepada perempuan yang tidak pantas mendekatkan dirinya pada sang suami yang tiba-tiba muncul dalam ingatannya.


"Bagaimana dengan sekretaris mas yang menjadi alasan saya salah satunya kemarin harus pergi meninggal mas" ucap Tasha yang masih berada dibawah tubuh Arga, walaupun Tasha sebelumnya tidak pernah menyinggung perempuan lain pada sang suami.


Arga yang tidak menyangka dengan ucapan Tasha, ternyata Tasha merasakan sebuah kecemburuannya kepada Erina yang tidak pernah disampaikannya itu.


"Dia pernah menemuimu sebelumnya atau dia pernah ada bicara apa dengan mu sayang?" masih saling bertatapan, kali ini Arga semakin memperdalam pertanyaannya, takut jika Erina pernah berbuat jahat pada sang istri.


"Tidak pernah mas, aku hanya bertanya saja" ucap Tasha singkat yang tidak ingin menghancurkan suasana mereka berdua.


"Dia telah saya pecat, kita akan menyingkirkan siapa pun yang akan merusak hubungan pernikahan kita sayang. Sampai kapan pun kamu adalah wanita yang satu-satunya saya cintai, saya tidak pernah mencintai wanita lain selain ibu dan juga adik saya. Terimakasih telah setia dan mau menungggu saya kembali hingga sejauh ini sayang" Arga menciumi mata Tasha yang semakin mengaliri air mata.


Dengan penuturan Arga yang menyentuh hatinya sukses membuat Tasha merasa spechless, walaupun Arga adalah laki-laki yang tiba-tiba dikenalnya dan harus memaksanya untuk hidup satu atap dengannya, tetapi Arga tidak pernah menaruhkan sebuah kesedihan, memperlakukannya dengan baik begitu juga Arga selalu melindunginya, dan dia lah selalu menciptakan sebuah pertengkaran-pertengkaran diantara mereka.

__ADS_1


Tasha yang telah menenangkan pikirannya dan mencoba kini kembali pada tujuan mereka, mulai untuk menatap sang suami.


"Terimakasih sayang" dengan pejaman matanya Tasha yakin untuk memulai apa yang selama ini ingin sama-sama mereka rasakan yaitu malam pertama mereka.


Arga yang melihat Tasha kini kembali tersenyum mengabseni setiap wajah Tasha tanpa tersisa dan menciumi meninggalkan tanda-tanda bekas-bekas dari segala sisi yang biasa tidak terlihat dan tersentuh itu.


Dengan sentuhan-sentuhan lembut yang diciptakan Arga dan juga menempelkan bibir mereka kembali, mampu mengelabui Tasha yang telah terbuai.


Tubuh Tasha mulai gelisah, merasakan sebuah geli dan berefek tagih yang dirasakannya ketika Arga memulai dalam aksi mempersatukan tubuh mereka.


"Sayang, ini akan sedikit sakit. Jika kamu belum sanggup kita akan menundanya" ucap Arga yang berbisik ditelinga Tasha.


"Hemm, sesakit itu sayang?" tanya Tasha kembali pada suaminya itu.


"Hemm" Arga hanya berdehem, dia juga tidak mengetahui itu, karena seorang wanita lah yang pasti akan mengetahui rasanya seperti apa.


Tasha yang telah merintihkan menahan rasa sakitnya karena sebuah pemaksaan yang telah masuk kebagian bawahnya membuat Arga mulai mengalihkan Tasha dengan sebuah kecupan-kecupan ditelinganya dan berpindah keleher Tasha membuat Tasha melupakan sebuah rasa sakit yang dirasakannya ketika Arga sedang berusaha untuk menyatukan antara miliknya dan milik sang istri.


"Sayang ini sangat sempit. Terimakasih telah menjaganya dan menjadikan ku orang yang pertama" kecup Arga kening sang istri tanpa sadarnya dia menitikan air matanya disudut matanya merasakan kebahagiannya sekarang bersama dengan Tasha.


Tubuh Tasha yang tadi hanya diam kini mulai untuk menyeimbangi setiap gerakan yang diberi Arga. Rasa sakit yang dirasakan Tasha tadi kini berubah menjadi sebuah kenikmatan yang belum pernah dirasakannya.


Ritme yang tadinya pelan kini telah menjadi lebih cepat. Sesaat seketika Arga yang telah melepaskan sesuatu didalam sana yang merasa telah penuh dan siap menebarkan benih-benihnya.


"Sakit sayang?" bisik Arga lagi pada sang istri yang seperti menahan sesuatu yang mungkin sakit akibat dirinya.

__ADS_1


"Tahan mas jangan dilepas " ucap Tasha.


Rasa yang berbeda dirasakan Tasha sesuatu yang telah membasahi rahimnya kini dan terasa menghangat. Benih-benih generasi Arga pun telah siap dan berlomba-lomba menuju sel telur yang sudah siap untuk dibuahi itu.


Telah beberapa kali Arga melepaskan sesuatu miliknya sehingga membuat Tasha yang kewalahan atas serangan yang diberikannya pada sang istri. Arga yang tidak tega melihat Tasha yang sudah mengatur nafasnya untuk mengimbangi pergerakan yang diberikannya kini mengecup kening Tasha sebagai tanda penutup.


"Terimakasih sayang" ucap Arga yang masih dikening Tasha dan kini Arga yang kembali kearah perut sang istri dan menciumi perut Tasha yang telah dipenuhi oleh keringat-keringat mereka.


"Tetap berada disana ya sayang. Papa dan mama menanti kehadiran kalian" kecup Arga perut Tasha dan mulai berbaring disamping sang istri.


Tasha yang hanya tersenyum dan menatap Arga yang berada disebelahnya kini memiringkan tubuhnya dan mengambil tangan Arga meletakkannya diatas perutnya.


"Pa, terimakasih telah menitipkan ku pada mama, kita akan selalu bersama-sama kan pa? Papa tidak marah pada mama dan tidak akan berubah sikap lagi untuk menyuruh mama mundur dan pergi dari kehidupan papa" ucap Tasha dengan nada seperti anak kecil yang sedang berkata dengan seorang ayah.


*


Beberapa saat telah berlalu, selimut yang juga telah menutupi tubuh keduanya ditubuh tanpa pakaian itu. Arga yang telah tidur terlebih dahulu dari Tasha yang sudah merasakan kelelahan, dengan tangan yang masih melingkar diperut Tasha dan mengarahkan wajahnya dileher sang istri.


Berbeda dengan Tasha yang kini belum dapat tertidur dan hanya melihat langit-langit ruangan itu, sejak mereka telah menyelesaikan kewajiban mereka, pikiran yang sedang menerawang dan tubuh yang telah lelah namun mata tidak bisa untuk terpejam.


Sesekali juga Tasha menatap kearah seorang lelaki yang sekarang tidur disampingnya, dengan wajah klimis dan gagahnya, terang-terangan dihadapannya mengatakan jika lelaki itu membutuhkan nya untuk tidak meninggalkan nya kembali dan masih tidak bisa tergambarkan oleh Tasha bahwa pria ini lah yang sekarang bersama dengan nya.


"Kenapa sayang belum tidur?" ucap Arga yang tiba-tiba mengagetkan lamunan nya.


"Hemm tidak ada mas. Aku hanya belum bisa untuk tertidur" ujar Tasha yang kini mengarahkan pandangannya pada sang suami.

__ADS_1


"Tidur lah, mas akan mengelus punggung mu agar kamu dapat tertidur" tutur Arga dengan nada lembut tidak tega melihat Tasha yang belum bisa tertidur sampai selarut malam ini. Tidak lupa juga Arga mendaratkan sebuah kecupan dikening sang istri yang menghadap kearahnya.


__ADS_2