Jodoh Ku Tertunda

Jodoh Ku Tertunda
87. Keistimewaan


__ADS_3

Tanpa menunggu protes sang suami yang belum mengizinkan nya untuk memakan masakannya, tapi Tasha tetap mengambil nasi goreng itu kedalam piring yang kini dia juga telah membawa menuju kearah meja makan ruangan itu.


Arga langsung mematikan kompornya dan berlari mengikuti Tasha untuk mencegah istrinya itu karena masakan yang dimasaknya belum sempat dirasanya terlebih dahulu.


"Sebentar sayang, itu belum mas rasa seperti apa rasanya. Mas tidak mau kamu muntah lagi karena memakan masakan mas" Arga mencoba mengambil piring Tasha, namun sudah terlambat. Tasha telah memasukkan sendok itu kedalam mulutnya.


"Mas aku sudah lapar, ia kan sayang kamu lapar juga diperut mama?" protes Tasha sambil mengusap perutnya seperti menanyakan pada anaknya itu.


Kursi yang telah Tasha dorong dan duduk membelakangi Arga sambil melahap nasi goreng keinginan nya.


Arga yang juga ikut duduk disamping Tasha menyuap nasi goreng yang dimasaknya itu dan mencurinya dari piring sang istri yang sudah lengah karena terus menikmati masakan nya itu.


"Mas ini makanan ku bersama anak kita. Mas tidak boleh mengambil nya" ujar Tasha mendorongkan piringnya kesisi sebelah menjauh dari Arga.


Mata melet dan lidah keluar, Arga dengan cepatnya menelan nasi itu dan meneguk air putih yang telah tersedia dimeja makan karena masakannya ini sama buruknya dengan masakan soup yang pernah dibuatnya.


"Sayang, makanan ini tidak layak kamu makan. Jika kamu mau nasi goreng mas bisa membelikannya berapa pun porsi yang kamu inginkan, asalkan tidak makanan yang sekarang kamu makan sayang" Arga mencoba mengambil piring Tasha, tapi Tasha selalu menepis tangan suaminya itu.


"Siapa bilang ini makanan tidak enak mas, lidah mas yang sedang bermasalah atau mas sedang sariawan" ucap Tasha pergi dan bangkit dari duduknya meninggalkan Arga dan tetap membawa piring makanan nya.


Tasha menjauh dari suaminya dan melangkah kesofa yang ada diruangan tamu sambil menikmati nasi goreng nya kembali yang sudah hampir dari setengah yang dihabiskan nya.


"Dari mana gak enak nya masakan mas Arga, ini sangat jauh berbeda dari soup yang beberapa bulan kemarin yang pernah dimasak oleh mas Arga. Apa jangan-jangan suami ku ini les masak, atau sekarang sedang belajar jadi koki ya. Hemmm apa dia tadi mencoba menghubungi para assisten rumah ini" gumam Tasha dan tanpa disadarinya Arga telah berada dibelakangnya tepat di balik sofa yang sedang didudukinya.


"Mas Argaaaa" Tasha berteriak bangkit dari duduknya.

__ADS_1


Tasha menatap suami nya yang telah berhasil mengambil piring ditangannya menuju arah dapur itu kembali.


"Mas ingin membuangnya sayang, mas tidak ingin kamu sakit dan anak kita yang sekarang kamu kandung kenapa-napa. Mas ingin menyelamatkan kalian berdua" ujar Arga yang telah berhasil merampok piring berisikan nasi goreng yang dimasaknya itu tadi yang menjadi keributan dimalam hari ini.


Hikkks... hiksss... "Mas, aku sudah lama tidak makan nasi. Sekarang aku mau makan nasi, tapi mas melarang nya"


Tasha menangis dan terisak sejadi-jadinya, air matanya telah membasahi dikedua pipinya.


Arga membalikkan tubuhnya menatap Tasha yang sudah duduk kembali dibalik sofa dengan suara tangisan yang mengudara diruangan mereka itu.


Dengan nafas panjangnya dan nasi yang belum sempat dibuangnya itu, kini Arga kembali melangkahkan kakinya kembali menuju ketempat istrinya yang sedang menangis.


"Kamu mau makan ini sayang?" ucap Arga sambil mengelus rambut istrinya yang sudah menutup wajahnya dengan bantalan sofa itu.


Tasha bangkit dan menatap suaminya itu dengan wajahnya yang sudah berantakan. Arga pun mengambil sendok dan menyuapi istrinya.


Keduanya hening, Tasha yang masih dalam pelayanan oleh Arga dengan lahapnya menikmati suapan demi suapan.


Selama kehamilan yang Tasha jalani saat ini, kondisi hatinya sangat jauh berbeda. Bahkan hal-hal kecil baik itu tentang sesuatu apa saja yang terkadang terjadi pada nya dapat mengubah keadaan suasana hatinya.


"Enak ya sayang?" Ucap Arga memecahkan kehening dari keduanya.


"Jangan tanya, bahkan tidak mungkin aku menangis jika ini tidak enak mas" ucap Tasha yang masih merasakan kekesalan pada suaminya itu.


Eekkk

__ADS_1


Tasha bersendawa, makanan yang ada dipiring itu pun habis dimakanannya hanya dengan waktu singkat. Arga yang tidak percaya, makanan yang tidak jelas rasanya itu bahkan dapat habis dimakan oleh Tasha.


Tubuh yang sudah lelah dan mata yang telah mengantuk dan ingin terpejam itu, membaringkan tubuhnya dipaha sang suami dan meluruskan badan nya diatas sofa.


"Sayang, kita tidur dikamar ya?" Ucap Arga sambil menyalipkan rambut sang istri yang menutupi wajahnya.


Hanya hitungan menit dari pembaringannya, Tasha sudah tidak lagi menjawab ucapan Arga pada nya dan mengudarakan suara-suara dengkuran halusnya.


Tasha yang telah tertidur pulas dibawa masuk oleh Arga kedalam kamar mereka dan merebahkan tubuh istrinya itu kembali keatas ranjang mereka yang awalnya mereka bergelut dan berakhir dalam kegagalan karena ngidam sang istri.


*


Cahaya pagi hari telah menembus disebalik tirai yang ada dikamar mereka, Arga yang telah mencari istrinya itu sudah pasti jika Tasha sekarang berada ditempat yang biasa dikunjungi sang istri selepas bangun tidur. Terlihat disana Tasha yang telah berada didalam kamar mandi dan berdiri didepan meja wastafel sambil meremas pakaiannya yang masih terasa tidak enak dipagi hari seperti ini dan mulut yang masih terlihat penuh didalam nya.


"Sayang, kamu muntah lagi?" Ujar Arga yang juga sudah mendekat pada istrinya itu.


Dalam hati kecil Arga sebenarnya tidak tega melihat keadaan istrinya itu sekarang ini yang sedang mengandung. Walaupun terkadang rasa ingin bertukar posisi yang dirasakan sang istri sangat ingin diambil alihnya agar penderitaan istrinya itu sedikit berkurang.


"Sayang maaf kan mas, kamu harus menderita seperti ini" ucap Arga sambil memijit tengkuk Tasha yang masih mengeluarkan makanan yang dimakannya malam tadi.


Tasha tidak lagi dapat menjawab suaminya yang dia tau bahwa Arga sangat mengkhawatirkan kondisi yang dialaminya saat ini dan masih memfokuskan mual yang tidak henti-hentinya ingin dimuntahkan nya itu.


Tasha terduduk setelah perut nya yang lebih enak dengan tubuh yang sudah kembali melemah.


"Mas, ini adalah kenikmatan dan keistimewaan tersendiri yang seorang perempuan rasakan disaat-saat hamil seperti ini mas" ujar Tasha sambil memeluk tubuh suaminya dan Arga yang telah membersihkan bibir istrinya itu dengan tisu dari muntahnya.

__ADS_1


__ADS_2