
Kembali berdamai dengan keadaan itu lah yang bisa Tasha lakukan untuk memperbaiki semuanya dalam kedendaman. Sebelumnya Arga yang sudah emosi karena kondisi Tasha yang dalam tekanan akan melenyapkan lelaki dimasa lalu Tasha tanpa ampun. Tetapi kembali lagi setelah Tasha memohon untuk tidak memperpanjang masalah, kini Arga hanya mengikuti kemauan Tasha.
***
"Kulkas apa-apaan ini jika tidak ada isinya, bagusan di buang saja atau dijual" protes Tasha yang ingin masak makanan untuknya.
Setelah Tasha pindah dan tinggal bersama Arga, Tasha tidak pernah lagi kedapur untuk memasak makanan. Sebelumnya, walaupun Tasha adalah wanita karir dan memiliki seorang ibu yang tidak pernah memaksakan nya dan juga sang adik untuk bisa masak atau sebagainya yang dilakukan seorang wanita pada sebagian orang. Walaupun Lita tidak pernah memaksakan mereka, Tasha dan juga Dewi ketika waktu libur mereka atau waktu senggang yang mereka miliki, mereka menemani sang ibu dan juga pembantu mereka untuk memasak makanan mereka. Dari situ lah sedikit demi sedikit Tasha tau memasak walaupun hanya masakan yang mudah-mudah saja.
Dihari weekend Tasha tidak pulang kerumah orang tuanya karena sang papa dan juga mamanya pergi ke Malaysia yang sedang menjalankan bisnis sang papa yang berada disana. Sebelumnya Tasha dan juga Arga jika dihari libur mereka, mereka akan berkunjung kerumah orang tua mereka secara bergantian.
"Om-om tua ini gak punya uang untuk membeli bahan-bahan makanan atau dia memang tidak pernah masak untuk dirinya sendiri sebelumnya" bibir Tasha sudah maju ketika berbicara sendiri mengomel pada Arga. "Bisa mati kelaparan jika seperti ini"
Arga memang tidak pernah membeli barang-barang masakan untuk dimasak karena dia memang tidak pernah masak diappartement nya. Dia selalu menghabiskan waktunya bekerja dan hanya untuk beristirahat saja, dia baru pulang ke appartement miliknya.
Selama Tasha tinggal di tempat Arga, mereka juga jarang sekali makan diappartement karena Tasha dan Arga selalu menghabiskan waktu mereka masing-masing, Tasha dengan Linda teman kerjanya dan Arga dengan pekerjaannya.
*
Tasha sudah memakan makanan yang sebelumnya dipesan melalui makanan online tadi. Rasa lapar yang dirasakan nya sudah tidak lagi tertahankannya jika dia harus menunggu Arga yang sampai sekarang masih berada didalam kamarnya dengan mata Tasha selalu menatap kearah pintu kamar Arga yang masih tertutup.
__ADS_1
"Apa-apaan ini rumah berantakan" Arga yang baru tiba keluar dari ruangan kerjanya menatap Tasha yang sudah menaikan kakinha keatas meja sofa yang berada diruangan appartement Arga sambil menonton drakor yang selalu mengisi waktu senggangnya.
"Lah, om bukan nya tadi dikamar. Kenapa keluar dari arah -" tunjuk Tasha kearah ruang kerja Arga.
"Ini tempat punya saya, jadi jangan atur-atur hidup saya, mengerti" Arga menaikan sebelah alisnya pada Tasha.
"Mana makanan saya" ambilnya sepotong pizza ditangan Tasha yang sudah siap dihampir masuk kedalam mulut Tasha itu.
"Om itu punya saya" Tasha bangkit dari pembaringannya setelah Arga menduduki sofa yang dijadikan nya tempat tidur.
"Ini uang saya kan yang kamu ambil dari card yang saya berikan pada mu, jadi ini juga hak saya" walaupun pernikahan mereka berawal tidak ada cinta diantara keduanya, tapi Arga yang merasa jika Tasha sekarang adalah menjadi tanggung jawabnya memberikan semua kebutuhan yang Tasha butuhkan dan tidak meninggalkan kewajibannya terhadap Tasha yang kini menjadi istrinya yang sah.
"Saya sepertinya tidak bisa om" mata Tasha membulat dan mendekat pada Arga yang enggan mengikuti permintaan Arga.
"Cari saya wanita bayaran yang mau diajak menjadi pacar bayaran, teman kencan bayaran, atau istri bayaran om" Tasha sudah memindahkan kaki nya yang merasa sempit karena Arga mengambil sebagian sofa itu yang tadinya menjadi tempat pembaringannya.
"Sempit om. Itu sofa masih banyak lagi tempat untuk om duduki" tunjuknya pada sofa yang masih ada diruangan itu.
"Saya tidak mau tau kamu harus ikut menjadi pendamping saya. Titik jangan banyak alasan" dengan nada penekanan dan tegas Arga menatap Tasha juga sangat tegas.
__ADS_1
"Om saya tidak mau, saya tidak pandai berada diantara orang-orang seperti om para pembisnis besar, saya merasa tidak nyaman. Kita hanyalah pasangan suami istri diatas kertas dan pasangan suami istri didepan keluarga kita om"
"Kamu tidak mau, yakin kamu tidak mau? Saya akan paksa itu agar kamu mau" tekankan Arga pada Tasha dan pergi meninggalkan nya.
"Dasar om-om tua semaunya aja" lemparnya bantal sofa kearah Arga namun tidak mengenainya.
*
Didalam kamar Tasha, sebelumnya dia sudah membersihkan dirinya dan berbaring diranjang miliknya. Dia memainkan benda pipihnya dengan videocall bersama sang adik.
"Kak, sebentar lagi aku mau tujuh bulanan. Kakak belum hamil juga ya. Dewi doakan semoga kakak dan mas Arga segera mendapatkan amanah yang dititipkan dirahim kakak." tatapan sendu Dewi pada sang Tasha yang terlihat didepan layar yang ada dihadapannya.
"Hemmm kenapa sedih. Ohh iya selamat ya, sebentar lagi kakak akan menggendong ponakan" senyuman Tasha yang merasakan kebahagian atas kebahagian sang adik.
Dewi sang adik adalah memiliki takdir yang berbeda dengannya, menikah dengan seseorang yang mencintai dan dicintai dan seseorang yang memang diharapkan nya untuk menjadi tujuan hidupnya. Berbeda dengan Tasha dirinya sendiri sangat berbeda jauh dengan sang adik dan berbanding terbalik, memiliki takdir tidak semudah dan sebahagia yang dirasa sang adik.
"Kak nanti jika Dewi lahiran, Dewi mau kakak juga ngasi nama pada anak Dewi yah kak. Dewi mau, anak dewi nanti hatinya bisa sekuat kakak atas semua yang telah kakak lewati dan pada akhirnya mendapatkan kebahagian juga" manik Dewi yang sudah berkaca-kaca mengingat pengorbanan hidup sang kakak yang tidak lah mudah untuk bisa bangkit kembali dan mencoba menerima jalan hidup yang telah ditentukan padanya.
Tasha yang melihat raut wajah sang adik juga terbawa suasana, sekilas dia kembali mengingat masa-masa sakit yang dialami hingga dia harus melakukan konsultasi atas kejiwaannya karena depresi yang dialaminya.
__ADS_1
'Dek, penderitaan kakak belum selesai. Pengorbanan kakak untuk mencari kebahagian kakak juga sampai sekarang belum berakhir. Hanya saja sekarang kakak harus berpura-pura atas menutupi nya dari kalian' Tasha yang sudah tidak kuat menahan derapan air mata yang akan keluar, segera dia mengalihkan layar ponselnya dan menutup kameranya menggunakan bantal, hatinya yang masih terasa sakit jika mengingat kehidupannya yang sampai saat ini dijalaninya belum memiliki akhir. Apalagi setelah perjodohan yang dilakukan secara tiba-tiba dan sebuah unsur keterpaksaan yang dirasakan nya membuat dia hanya sebagai figuran yang mengikuti alur cerita.