
Tasha yang tidak ingin menambah pikirannya tentang hubungan suaminya dan juga sekretaris suaminya itu mulai berpikiran positif dan kembali pada kondisi yang dialami Arga kini, bingung apa yang akan dilakukannya kini berlari mengambil benda pipihnya untuk menghubungi Riska, karena temannya itu sangat memahami bagaimana cara mengatasi seseorang yang sedang mengalami hangover.
Panggilan yang belum terhubung itu namun Tasha menghentikan niatnya karena merasa tidak enak karena mengganggu seorang istri di jam seperti ini sangatlah akan menggangunya.
Jalan terakhir yang dipikirkan Tasha pada saat ini yaitu mencari melalui googling untuk mengatasi hangover yang dialami Arga. Dengan bahan-bahan seadanya yang ada didalam appartement nya, kini Tasha mulai mengikuti arahan-arahan yang didapatnya dari hasil pencariannya di internet itu.
Setelah ramuan yang telah dibuatnya itu selesai, Tasha kembali ketempat dimana Arga yang masih tertidur itu.
Beberapa jam telah berlalu, Arga yang telah merasakan tubuhnya lebih baik setelah meminum ramuan yang diberikan Tasha ketika dia masih dalam keadaan hangover, kini bangun lebih dulu dari Tasha.
Genggaman tangan yang tidak dilepaskan Tasha sejak dia tertidur duduk melantai disamping Arga membuat Arga menatap kearah Tasha yang masih memejam.
Arga yang saat ini hanya mampu memandang wajah sendu Tasha yang terlelap dan sangat dirindukannya namun itu lah yang bisa dilakukannya, menatap Tasha diwaktu dia sedang tertidur.
"Saya merindukan hubungan kita yang seperti dulu lagi Natasha, tapi kenyataannya semua telah berubah. Terimakasih kenangan yang pernah kamu berikan pada saya beberapa waktu yang lalu, walaupun itu adalah sebuah sandiwara dan keterpaksaan yang kamu ciptakan pada saya" namun semakin dalam Arga menatap wajah Tasha, bayangan Farhan diatas tubuh sang istri selalu terlintas dipikirannya.
Arga yang tidak tahan berlama-lama menatap Tasha kini bangkit dari tempatnya dan meletakkan tangan Tasha dari genggaman yang dilakukan Tasha padanya.
Pergerakan dari kepergian Arga ditempat tidurnya membuat Tasha yang tadinya tertidur, kini memicing matanya dan membukakan setelah merasakan tangan yang tadi hangat dalam genggamannya terasa tidak adanya lagi.
Tidak lama dari kepergian Arga yang telah membersihkan dirinya didalam kamar utama diappartement itu, Tasha melanjutkan langkahnya untuk menyibukkan dirinya mempersiapkan sarapan Arga yang telah lama sekali tidak dilakukannya setelah Arga yang selalu pergi lebih awal dari bangunnya.
"Mas, hari ini libur kerja aja ya. Mas harus banyak beristirahat" ucap Tasha melihat Arga yang telah siap dengan kemeja kerjanya dan ipad lipat ditangannya siap untuk berangkat.
"Saya tidak bisa, saya banyak pekerjaan" ucap Arga singkat pada Tasha dan melanjutkan langkahnya melewati Tasha yang masih berada didapurnya itu.
"Baiklah, sarapannya telah selesai. Mas sarapan dulu ya sebelum ber-"
"Saya sarapan dikantor" sambung Arga yang telah memotong kalimat Tasha tanpa melihat kearah Tasha.
Tasha yang masih berdiri dimeja makan itu, kini menarik nafasnya berat. Masakan yang sengaja disediakannya sebelum keberangkatan Arga kini sia-sia.
__ADS_1
"Saya bawakan bekalnya ya mas" Tasha yang telah berbalik menuju kearah bar kitchen untuk mengambil tempat bekal yang akan dibawa Arga.
"Saya buru-buru" ucapan Arga pergi meninggalkan Tasha.
Setelah kepergian Arga dari appartement itu, Tasha masih terpaku ditempat yang sama mengedarkan pandangannya kearah makanan yang telah disediakan untuk sang suami.
"Tidak masalah, saya saja yang akan memakannya" sambil mengeluarkan butiran beningnya, Tasha menghabiskan seluruh masakannya.
**
"Mas, kita kerumah mama ya, Dewi tujuh bulanannya dirumah mama" pesan singkat Tasha yang dikirimkannya ke Arga melalui benda pipihnya.
Cahaya kegelapan dimalam hari sudah semakin beranjak, Tasha yang telah mengirimkan sebuah pesan singkatnya berkali-kali yang dikirimkannya dari siang hari sampai saat ini ke Arga sang suami namun tidak ada balasan dari Arga.
Tasha yang telah bersiap-siap dari sore ingin kerumah orang tuanya menunggu kepulangan Arga yang hingga malam ini belum juga pulang.
Mata yang telah mengantuk merebahkan tubuhnya diatas sofa dengan memeluk benda pipihnya.
Tasha yang selalu melihat kearah dinding memperlihatkan sebuah foto pernikahan yang terpajang besar diruangan itu selalu menjadi pengobat hatinya ketika dia merindukan sang suami dan menepiskan rasa kecewanya.
"Mas" ucap Tasha yang telah bangkit dari tidurnya, dan mendekat pada Arga yang masih diambang pintu appartement mereka.
"Bersiap lah, kita akan kerumah orang tuamu" ucap Arga menuju kearah dapur untuk mengambil minuman.
Tasha kembali dibuat sesak atas sikap Arga yang sama sekali tidak ingin melihatnya.
'Om tidak lihat kalau aku telah siap dan hanya menunggu kepulangan om hingga semalam ini' batin Tasha yang sudah menangis.
Tidak lama setelah mereka meninggalkan basement appartement yang menjadi tempat dimana mobil Arga terparkir itu, kini mobil yang melaju dikemudikan oleh Arga telah sampai dihalaman rumah kediaman Erik dan Lita mertuanya itu. Arga yang sedari tadi berada didalam satu mobil dengan Tasha tidak ada komunikasi diantara mereka, baik Tasha yang tidak ingin menanyakan tentang hubungan suaminya dan juga Erina walaupun hatinya berkecambuk dengan pikirannya, begitu juga dengan Arga yang berada dipikiran dan hati yang terus bergejolak.
Dari kejauhan sebuah acara yang terlihat sudah selesai dan sangat sunyi dari luar, kini langkah mereka yang telah turun dari mobil Arga, memasukki rumah besar sang orang tua. Rasa rindu yang sangat dirasakan Tasha untuk melihat orang-orang yang sangat dicintainya.
__ADS_1
"Assalamualaikum" ucapan salam Tasha dan Arga yang masih diambang pintu.
Erik dan seluruh keluarga nya yang duduk diruangan keluarga itu menatap kearah suara putri sulung dan menantunya yang baru saja tiba.
"Ma Pa" dengan langkah membesarnya Tasha kini menghamburkan tubuhnya dalam pelukan sang mama.
Tasha yang sudah menangis dalam pelukan Lita kini mengusap air matanya takut menjadi sebuah kecurigaan dikeluarga besarnya itu dengan sikapnya untuk menutupi perihal rumah tangganya yang sudah retak pada keluarganya.
"Ma, kakak rindu" ucap Tasha mendungakan wajahnya menatap kearah sang mama.
'Banyak hal yang ingin Tasha ceritakan pada mama atas kehidupan Tasha sekarang ma, tapi mana mungkin Tasha menceritakannya pada mama' bathin Tasha.
"Hemm udah punya suami juga masih manja kak" sambung Dewi yang juga duduk diruangan yang sama itu.
"Dek, selamat ya tujuh bulanannya, semoga lancar-lancar hingga persalinannya. Aunti menunggu kehadiranmu sayang" ucap Tasha yang telah melepas pelukkannya dengan sang mama dan mengelus keperut sang adik.
Kini Tasha memilih duduk disamping adik dan sang mama, disusul dengan Arga yang menyalami kedua mertuanya.
"Pa maaf ya pa, kami telat datangnya karena jadwal meeting saya tadi yang sangat padat pa" ucap Arga pada Erik sang mertua dan memilih duduk disamping Erik dan Riko.
"Kak, besok pagi-pagi sekali mama mau ikut dengan papa ke New York karena papa sedang ada proyek yang akan dikerjakan papa disana selama 6 bulan" ucap Lita pada sang putri yang belum tau rencana keberangkatannya itu.
Tasha yang terlihat shock dari raut wajahnya menatap kearah kedua orang tuanya yang sudah paruh baya sekarang ini.
"New York?" Ulang Tasha yang merasa sekarang orang-orang yang disayanginya satu demi satu pergi menjauh darinya.
"6 bulan pa ? Kenapa lama sekali pa" ucap Tasha yang mengarahkan pandangannya pada Erik sang papa.
"Ini proyek besar sayang. Suamimu juga tau jika bekerjasama dengan orang asing akan memakan waktu yang sangat lama dalam pengerjaan proyek yang sedang dijalankan" ucap Erik pada Tasha dan mengambil kembali minumnya diatas meja itu.
Tasha yang sudah tidak tau lagi untuk berbicara apa supaya orang tuanya tau isi hatinya yang tidak menginginkan sang orang tua pergi begitu lamanya, kini kembali tersenyum dengan paksaannya.
__ADS_1
"Arga Riko, kalian mungkin sudah sangat bosan mendengarkan permintaan papa pada kalian, yang papa tau tanpa pun papa memintanya lagi pada kalian, kalian pasti akan melakukannya. Tolong jaga putri-putri kesayangan papa selama papa tidak ada. Dari seluruh harta yang papa punya adalah mereka yang paling berharga" sebuah permintaan Erik pada kedua menantunya itu.
'Papa sebenarnya tidak salah menitipkan aku pada orang yang tepat. Tapi sebuah kesalah pahaman lah yang membuat hubungan kami bermasalah' batin Tasha menundukkan wajahnya yang telah memerah dan menahan air matanya.