
Tasha yang sudah mengajak Arga untuk menemaninya berbelanja kebutuhan nya selama di appartement Arga menampakkan wajah datarnya sambil mengikuti Tasha dengan membawa troly belanjaannya.
"Om troly nya kenapa om tinggal" perintah Tasha pada Arga yang sudah memasukkan beberapa bahan makanan yang telah dipilihnya.
"Kamu kenapa menyuruh-nyuruh saya. Saya bukan assisten pribadimu" Arga yang telah meninggalkan Tasha dan juga troly yang tadinya dia dorong itu.
Tasha menatap punggung Arga yang telah mendahuluinya dan berjalan dengan langkah besarnya meninggalkan Tasha.
"Om" rengeknya pada Arga dan masih berdiri ditempat Arga meninggalkan nya.
Arga yang tidak tega meninggalkan Tasha kini kembali lagi menemui Tasha yang sudah sangat jauh dibelakangnya. Tasha yang melihat wajah Arga kembali tersenyum yang terpancar dari raut wajahnya.
"Om jangan marah-marah nanti semakin tua" bisik Tasha dan menggandeng lengan Arga yang membawa troly itu kembali.
Arga yang terkejut mendapatkan gandengan tangan Tasha hanya terdiam dan membiarkannya yang berjalan beriringan disampingnya.
"Om berhenti. Aku mau belik ini" ambil Tasha beberapa sayur-sayuran dan juga beberapa bahan makanan lainnya disana. Arga yang masih merasakan heran kini berkerut dahi menatap Tasha yang memilih begitu banyaknya bahan-bahan olahan yang akan dimasak.
"Bocah tau masak?" selidiknya pada Tasha yang masih mengambil bahan-bahan makanan yang ada rak-rak yang tersedia dimall itu.
"Om meragukan kemampuan saya" balasan ucapan Tasha tanpa melihat kearah Arga yang masih terfokus dengan belanjaannya.
Arga mengendikkan bahunya sambil berjalan mengikuti Tasha kembali didepannya.
"Om mau makan apa besok?" sambung Tasha yang telah membalikkan badannya menghadap Arga yang dibelakangnya.
__ADS_1
Arga tersenyum mendengar penuturan Tasha yang ingin memasakan makanan untuknya besok. Seumur-umur dia tidak pernah meminta atau pun menyuruh seseorang memasakkan makanan untuknya kecuali pembantu rumah ibunya, itu pun atas permintaan sang ibu.
"Baik lah terserahmu mau masak apa bocah" Arga sambil mengacak-ngacak rambut Tasha sambil melemparkan senyumannya.
"Om rapikan lagi" tatapan mata tajam Tasha memerintahkan Arga untuk merapikan kembali rambutnya yang telah berantakan itu.
Tasha yang kini menatap wajah Arga yang sangat dekat dihadapanya dengan lembutnya tangan itu merapikan kembali penampilannya. Tasha yang telah mendapatkan perlakuan berbeda dari Arga padanya yang sudah lama tidak pernah didapatkannya setelah dengan Farhan, kini Arga telah menggantikan rasa nyaman itu kembali yang pernah hilang dirasakannya.
"Om saya mau itu" tunjuk Tasha seorang anak yang sedang memakan ice cream.
"Mau anaknya atau mau ice creamnya?" gombal Arga pada Tasha yang tiba-tiba wajahnya kini sudah berubah memerah.
"Boleh anaknya, tapi izin sama orang tuanya untuk kita angkat sebagai anak" Tasha yang sebenarnya tau maksud pernyataan Arga padanya seolah-olah tidak mengerti.
"Kita tidak perlu mengangkatnya, tapi kita bisa melakukannya" Tasha langsung mencubit perut Arga dan mendahuluinya.
Tasha terus melangkahkan kakinya menuju tempat yang dia ingin yaitu ice cream menjadi tujuannya. Tasha mengambil beberapa ice cream coklat dan memasukkannya ke troly yang masih Arga dorong itu. Arga berkerut dahi melihat Tasha yang begitu banyaknya membeli ice cream hanya untuknya sendiri.
"Kamu mau makan sendiri itu ice cream atau mau kamu jual Natasha?" tatapnya pada Tasha yang terus-menerus memasukkan ice cream dengan varian rasa lain lagi ke dalam troly itu.
"Ya untuk kita. Selagi uang dari om, aku akan beli apapun yang aku mau" sambil menaikkan alisnya dan memancarkan senyuman sinisnya.
"Sejak kapan saya suka ice cream"
"Itu lebih bagus kalau om tidak menyukainya" bisik Tasha menuju kearah kasir itu berada. Arga yang sudah tertinggal jauh oleh Tasha melangkahkan kakinya besar menuju kasir yang telah ditunggu Tasha.
__ADS_1
Selang beberapa menit setelah Tasha membayar belanjaannya yang masih menggunakan card milik Arga yang telah menjadi hak miliknya sekarang untuk memenuhi kebutuhannya, Tasha melemparkan senyumannya pada penjaga kasir itu dan pergi menuju Arga yang telah menunggunya dengan kantong belanjaan yang telah dibawanya.
Tangan Tasha yang telah mengarahkan pada Arga dan memberikan kantong-kantong belanjaannya pada Arga yang sebelumnya dia telah memakan ice cream itu dan mulai menggoda Arga untuk memakannya.
"Ayo lah om dirasa dikit aja. Enak loh om" sambil mendekatkan ice cream itu kebibir Arga yang terus memalingkan wajahnya.
"Saya tidak suka. Tidak akan pernah memakannya" tegas Arga namun tetap Tasha memberikannya pada Arga yang terus menutup mulutnya.
"Lihat karna om tidak ingin memakannya, jadi ice creamnya kena ke pipi om" Tasha langsung membuka tas miliknya sambil merogoh tisu didalamnya dan Arga berlalu meninggalkannya.
"Berhenti om" tarik Tasha lengan Arga sambil menempelkan tisu itu kepipi Arga dan menjinjitkan kakinya karena Arga terlalu tinggi darinya.
"Ngatain saya kaya bocah, om suami tua ku juga sama kayak bocahnya dengan saya" sambil tersenyum Tasha membersihkan sisa-sisa ice cream dipipi Arga yang tadinya dia terus menolak Tasha memberikan ice cream itu dan menghindari sehingga terkena di pipinya.
"Ini bukan salah saya, tapi paksaan dari mu dan sengaja menempelkannya kepipi saya " Arga yang mendapatkan sentuhan-sentuhan lembut dari Tasha seakan tubuhnya terdiam dan menerima sentuhan itu dipipinya.
"Sudah selesai ayo om" gandeng Tasha tangan Arga yang masih terpaku itu.
Arga dan Tasha berjalan beriringan dengan tangan yang masih berada dilengan Arga yang membawa kantong-kantong belanjaan milik Tasha itu.
"Om nonton yuk?" Ajak Tasha sambil membawa Arga menuju sebuah escalator ke tempat dimana bioskop di mall itu.
"Ini sudah malam bocah. Besok saja jika kamu ingin menonton" lihat Arga arloji di tangannya sudah menunjukkan pukul delapan malam.
"Om film nya ini bagus-bagus loh om" tarik Tasha tangan Arga yang sudah sampai dibioskop itu.
__ADS_1
"Baik, tapi saya yang akan memilih film apa yang akan kita tonton" perintah Arga pada Tasha dan Tasha yang masih terdiam ditempatnya berkerut dahi menatap punggung Arga yang telah berlalu.
"Aku curiga dengan om-om tua ini" gumamnya sendiri sambil mengikuti Arga dari belakangnya.