
Joe yang masih berada diruangannya kini mencek setiap email masuk dari para rekan-rekan yang ingin bekerjasama dengan perusahaan mereka yang akan melakukan sebuah kesepakatan perjanjian itu.
Masih berada dibenda ipad lipat nya, Joe yang selesai dari email perusahaan kini melihat jadwal-jadwalnya hari ini terlihat sangat padat. Seperti dipagi ini jadwal yang sudah menantinya yaitu terjun kelapangan kesebuah lahan proyek pembangun disalah satu tempat yang akan menjadi pusat pemberlanjaan di kota itu.
"Keyla, hari ini kita ada peninjauan lapangan yang ingin dibangun pusat perbelanjaan, saya tunggu kamu dilobby" pesan suara yang Joe berikan pada Keyla, sang sekretaris baru atasannya.
Joe yang telah mematikan ipad lipatnya, kini meninggalkan ruangannya menuju kearah basement dimana mobilnya yang telah terparkir diperusahaan itu.
Dari kejauhan Keyla yang sedang menunggunya di lobby melajukan mobilnya kearah Keyla yang telah menunggunya itu.
Tinnnnn
Suara klakson mobil Joe mengejutkan Keyla, tidak ingin Joe menunggu lama, dia memasuki mobil Joe dan duduk dibangku belakang penumpang.
"Kamu pikir saya supir pribadi kamu" ucap Joe tanpa menoleh kearah Keyla yang sudah duduk dibelakangnya itu.
Keyla terperangah mendapatkan ucapan Joe padanya. Dia tidak mengerti maksud dari assisten atasannya itu.
"Haa" ucap Keyla menatap punggung Joe.
Joe yang sudah kesal karena ucapannya tidak diindahkan Keyla dan tetap duduk dibangku belakang itu, kini dia kembali buka suara.
"Pindah dari tempatmu sekarang dan duduk dibangku depan" suara tegas Joe mengudara didalam mobil itu.
Dengan cepat nya Keyla berpindah ketempat duduk dimana yang Joe perintahkan padanya.
"Maaf pak" ucap Keyla pelan pada Joe yang telah duduk disampingnya itu.
Joe tidak lagi bersuara ketika melihat Keyla telah berpindah posisi itu, kini dia melajukan mobilnya kembali kearah lokasi yang akan mereka tuju.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan tidak adanya suara yang terdengar mengisi percakapan mereka selama didalam mobil itu. Keyla yang merasa canggung berdua didalam mobil dengan orang asing, maupun Joe yang memang tidak ingin berbasa-basi.
Tidak lama perjalan mereka pun telah sampai disebuah lahan yang akan dibangunannya sebuah pusat perbelanjaan yang masih dalam proses pembangunan itu. Joe yang lebih dulu turun diikuti Keyla sekretaris Arga itu.
Ini adalah hari pertama Keyla bekerja, bahkan dia belum mengetahui siapa bosnya saat ini. Karena dihari pertamanya bekerja sang atasan tidak masuk kekantornya dan hanya dengan Joe saja lah yang dia tau dari mulai dia diinterview sampai saat ini ketika dia sudah dinyatakan sebagai karyawan di perusahaan ternama itu.
Dengan langkah besarnya Joe yang lebih dulu memasuki kesebuah proyek kerjasama mereka nampak dari luar masih dalam proses pengerjaan itu diikuti dengan Keyla yang berusaha menyeimbangkan langkahnya dibelakang dari Joe.
"Selamat datang pak Joe" sambut seorang lelaki yang sekitar berusia empat puluhan menyapanya ketika melihat kedatangannya.
Joe yang telah mendekat pada Akbar salah satu devisi mereka yang sedang menangani proyek itu.
"Bagaimana keadaan disini pak Akbar?" Tanya Joe sambil menjulurkan tangan mereka berjabat tangan.
"Sejauh ini lahan dan pengerjaan nya berjalan dengan lancar pak, tidak adanya kendala" ucap Akbar yang sedang bertugas disana.
Keyla yang tadinya dibelakang kini berjalan mendekat pada kedua orang lelaki yang masih sibuk berbicara itu yang tak lain adalah rekan kerjanya yang bekerja diperusahaan yang sama ditempatnya bekerja sekarang ini.
Joe yang menoleh kearah Keyla yang telah berdiri disamping belakangnya melihat Keyla yang sudah tersenyum pada Akbar yang berada didepan mereka.
"Iya pak Akbar, perkenalkan ini Ibu Keyla yang akan membantu Tuan Arga dalam menjalan perusahaan kita" ucap Joe yang memperkenalkan Keyla pada Akbar.
*
Hari sudah beranjak malam, Tasha dan Arga yang sebelumnya telah berpamitan untuk pulang lebih dulu kekediaman mereka dan meninggalkan Riko dengan Dewi yang masih dirumah sakit itu bersama dengan bayi mungil mereka.
Setelah sampainya mereka dikediaman yang mereka tempati sekarang ini, Tasha lebih dulu masuk kedalam kamar mandi dalam kamar mereka itu. Rasa sedih yang sudah ditahannya kini pecah diruangan yang lembab itu, dia merasakan belum sempurna menjadi seorang wanita yang sampai saat ini belum adanya janin yang dititipkan dirahimnya.
"Maaf kan aku mas, hati ku sakit melihat kamu yang sudah sangat merindukan seorang anak ditengah-tengah keluarga kita" gumam Tasha yang telah menangis didalam kamar mandi itu.
__ADS_1
Tasha memutar lagi ingatannya beberapa jam yang lalu, Arga yang tidak berhenti menatap bayi mungil itu dan sesekali juga dia kembali menggendongnya, bahkan Arga juga bercerita pada gadis kecil itu jika om nya itu nanti akan memberikan seorang adik untuk teman mainnya, hati Tasha yang sensitif karena sampai saat ini dia juga belum mengandung sang buah hati.
Diluar Arga yang menunggu Tasha didalam kamar itu, menatap pintu kamar mandi yang tidak dibuka-buka oleh Tasha yang sudah hampir satu jam dia berada disana sesampainya mereka kembali.
Rasa penasaran Arga apa yang sedang dilakukan sang istri, kini melangkahkan kakinya menuju kamar mandi itu.
"Sayang" ketuk Arga pintu itu yang tidak adanya aktifitas suara yang terjadi didalam sana.
"Sayang. Kamu baik-baik saja kan?" panggil Arga kembali untuk kedua kalinya.
Tasha yang mulai mengusap air mata diwajahnya kini membukakan pintu itu, terlihat jelas didepan sana Arga telah menunggunya dengan raut cemasnya.
Arga terkesiap melihat wajah sembab sang istri, apa yang sedang terjadi didalam sana sehingga membuatnya menangis seperti ini.
"Sayang kenapa, apa aku ada buat salah?" elus Arga sisa-sisa air mata yang masih berada disudut-sudut mata Tasha.
Hiksss
Tasha menangis dalam pelukan Arga, dia tidak tau jika suatu saat takdirnya memang tidak dapat memberikan buah cinta pada sang suami.
"Sayang, hey kamu kenapa?" Arga mengangkat wajah Tasha yang sudah dipenuhi kubangan air matanya.
"Sampai sekarang aku juga belum hamil mas. Hiksss" Tasha kembali menundukkan wajahnya
"Kamu memikirkan itu sayang? Ini masih dini untuk kita menyerah sayang, masih banyak yang lebih lama pernikahan mereka dari kita, tapi mereka tidak menyerah. Kamu jangan seperti ini sayang" kecup Arga kedua mata Tasha yang sudah dipenuh butiran-butiran bening itu kembali.
"Bagaimana jika aku memang tidak dapat memberikan mas seorang anak sayang"
"Jika memang itu sudah takdir kita, kita pasti bisa menjalaninya sayang"
__ADS_1
Tasha tidak tau jika kekhawatirannya itu memang terjadi padanya, dan dia juga tidak akan tau bagaimana jika sang suami mencari wanita lain yang dapat memberikannya keturunan pada Arga.