Jodoh Ku Tertunda

Jodoh Ku Tertunda
96. Pendarahan


__ADS_3

Didalam kamar yang sudah tampak tamaran, Tasha dan Arga telah berbaring diatas tempat tidur yang mereka tempati, mereka masih bercerita dan membahas mulai dari gejala yang sedang Tasha rasakan dari kehamilannya menjelang kelahiran ini, sampai Tasha juga menceritakan bahwa dia sulit untuk tidur dengan posisi yang selalu serba salah dengan perut yang yang sudah sangat membesar.


"Mas, seluruh badan dan tubuh ku rasanya sakit semua. Untuk tidur juga susah, rasanya serba salah mau miring ke kanan atau miring ke kiri. Gak ada tempat yang nyaman" kesal Tasha yang dari tadi membolak-balik tubuhnya namun tidak dapat memejamkan matanya.


Arga langsung bangkit dari pembaringannya, dia memijat seluruh tubuh Tasha yang menjadi keluhan istrinya itu, walaupun Arga tidak dapat merasakan apa yang dirasakan oleh istrinya itu, namun dia sangat paham dengan sakit yang dirasakan sang istri dan seberusaha mungkin agar istrinya itu mendapatkan sebuah kenyaman bersama dengannya.


"Sudah lah mas berhenti memijitnya. Mas juga lelah karena seharian bekerja" ambil Tasha tangan suaminya itu dan mengarahkan untuk tidur disampingnya.


"Mas jika anak kita nanti perempuan atau laki-laki kamu sudah memiliki nama untuk mereka mas?" Ujar Tasha yang memiringkan tubuhnya menghadap pada sang suami.


"Hemm kamu sudah memiliki nama-nama itu sayang?"


"Agatha" ucap Tasha singkat yang sedang menatap suaminya itu.


Arga berkerut dahi, dia seperti tidak asing dengan nama yang diucapkan oleh istrinya itu. Namun dia seakan melupakan nama yang bahkan seperti pernah diucapkan nya dan berusaha untuk mengingat nama itu.


"Agatha?" Ulang Arga.


Tasha tersenyum menatap suaminya itu seakan gemes melihat wajah Arga yang tidak menyadari nama yang dipakainya ketika dia mengganti identitas nama yang dikenakannya pada saat Tasha pergi dari kehidupan Arga.


"Hemm nama Agatha mas tidak mengingatnya. Itu pun jika anak kita perempuan. Namun jika laki-laki, aku belum memiliki nama untuk dia" elus Tasha perutnya itu sebagai menandakan sang janin juga sedang diajak bicara oleh kedua orang tua nya itu.


Arga tertawa diruangan yang sepi dan hening itu, akhirnya dia mengingat nama yang hampir pernah membuatnya gila karena tingkah seorang gadis yang pergi dari kehidupannya.


"Mas tau arti nama Agatha itu apa?" Ujar Tasha dan membawa tangan suaminya itu kewajahnya.

__ADS_1


"Nama baru yang kamu pakai hanya beberapa minggu itu punya arti sayang? Mas tidak tau apa arti nya, dan dari bahasa Negara mana itu?" Ucap Arga yang masih penasaran atas nama samaran istrinya itu.


"Yeee penasaran ya?" Tasha menggoda sang suami.


"Agatha. Aga diambil dari nama seorang lelaki yaitu Arga dan Tha nya itu adalah Tasha. Aku pernah secinta itu dengan seorang pria, hingga dia menyuruhku untuk berhenti mencintainya dan memaksaku untuk mundur dari merebut hati nya lagi. Namun usaha-usaha ku tetap gagal, pria itu seakan tidak melihat ku dan memilih untuk menjauh dari ku. Maka dari itu lah aku mengambil nama Agatha sebagai pengingat jika aku tetap mencintai lelaki yang berstatuskan suamiku" dengan mata berkaca-kaca Tasha menjelaskan gabungan namanya dengan gabungan nama sang suami.


Arga mengambil tubuh istrinya itu, yang seakan ingin menangis dan mengulang lagi kebelakang tentang kehidupan mereka berdua.


"Maafkan mas sayang, karena mas pernah menjadi lelaki sebodoh itu"


"Mas setuju dengan nama itu. Jika laki-laki sayang?" sambung Arga yang ingin mengalihkan suasana hati sang istri yang masih menahan tangisannya.


"Aku belum memiliki nama untuk anak kita jika dia laki-laki mas" ujar Tasha pada Arga dan melepaskan pelukannya pada sang suami.


"Ya sudah, besok kita lanjutin lagi untuk membahas anak kita ya sayang. Sekarang juga sudah malam, tidak baik untuk kalian berdua" ucap Arga dan menarik kembali selimut yang akan menutupi tubuh mereka berdua.


"Selamat tidur anak papa dan mama"


*


02.00


Disebuah kamar yang masih menampakkan ke tamaram dengan cahaya lampu tidur remang-remang yang masih menyala diruangan kamar utama dikediaman Arga dan juga Tasha.


Rasa yang tidak nyaman tiba-tiba membangunkan Tasha yang tadinya telah tertidur bersama dengan seseorang yang menjadi satu-satunya lelaki yang berbagi satu tempat tidur bersama dengannya.

__ADS_1


"Mas" Tasha berusaha membangunkan suaminya yang sedang tertidur berada disampingnya dengan suara Tasha yang terdengar bergetar dan melemah.


Karena merasa adanya cairan yang mengalir dengan darah segar namun tidak terlalu banyak membuat Tasha yang menjadi shock masih berada diatas ranjang itu.


Arga yang juga telah bangun karena Tasha yang juga menangis memanggilnya itu seketika melihat apa yang juga membuat istrinya itu menangis.


"Sayang kita harus kerumah sakit segera" dengan wajah paniknya, Arga langsung terduduk dari tidurnya dengan menatap sang istri dan bergegas bangkit menggendong istrinya itu menuju keluar dari rumah besar mereka dan sebelumnya juga Arga telah mengganti pakaian sang istri dan pakaiannya.


"Pak ujang buka pagarnya" panggil Arga seorang satpam yang berjaga dirumah besar miliknya itu.


"Iya Tuan" lelaki yang berumuran lebih dari 50 tahun an itu dengan cepatnya membuka lebar pintu pagar dan mendekat pada Arga.


"Pak ujang tolong ambilkan tas untuk kelahiran Nonya yang telah tersedia didalam kamar" perintah Arga yang sebelumnya telah mereka persiapkan untuk alat-alat dan perlengkapan menyambut kelahiran sang buah hati dan telah tersedia didalam sebuah tas.


Arga yang langsung memasukkan sang istri kedalam mobilnya sedangkan Tasha sejak dari tidak lagi bersuara dan hanya terdiam dengan mata yang masih berkaca-kaca takut akan kondisi kehamilannya dan ini memanglah bulan dan jadwal bersalinnya.


Dengan cepatnya seorang lelaki yang sudah paruh baya itu menjalankan perintah dari sang majikannya.


Dalam hitungan menit, kini Arga yang telah membelah jalanan kota dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan sangat fokus dalam kemudinya.


Disebuah rumah sakit dengan mobil Arga yang juga telah terpakir disana, Arga kembali lagi menggendong istrinya itu memasuki koridor rumah sakit dengan langkah yang besar dan sedikit berlari pelan.


"Suster" panggil Arga yang telah membawa istrinya itu sampai didepan rumah sakit.


Tasha yang langsung dipindahkan menggunakan brankar membawa masuk Tasha ke sebuah ruangan.

__ADS_1


"Mas aku takut" ujar Tasha yang telah digenggam tangannya oleh Arga.


"Mas akan tetap berada disamping mu sayang" sambil berjalan disamping Tasha, Arga mencoba menenangkan sang istri dengan mengusap lembut rambut wanitanya.


__ADS_2