
" Hai Denis, aku sudah sampai, kamu dimana?" sebuah panggilan Tasha pada Denis yang sudah menunggunya sejak pulang dari kantor.
"Maaf Sha. Aku lupa memberitahu mu Sha. Aku malam ini harus terbang ke singapura karena ada suatu proyek perusahaan kami bekerjasama dengan orang sana dan sedang ada masalah. Jadi maaf aku tidak bisa menemui mu Sha"
"Ya sudah. Good luck" panggilan pun terputus.
Tasha yang sejak dari siang sudah memberi pesan untuk mengajak Denis bertemu dan sudah 2 jam menunggu nya di sebuah cafe, yang tiba-tiba harus dibatalkan oleh Denis. "Denis, sebenarnya aku mau memberitahumu, bahwa besok adalah hari lamaran ku. Aku mau mengundangmu diacara hari bahagia orang tua ku, tapi bukan acara hari bahagia ku. Nyatanya kamu sangat sibuk" gumamnya sendirian dicafe yang sudah tersedia makanan ringannya dan segelas minuman jus nya.
*
Tasha yang baru saja sampai dirumahnya menatap ruangan keluarga mereka yang sudah disulap menjadi dekorasi lamarannya, yang berkonsepkan dengan warna hijaunya yang mendominan dengan lampu-lampu kristal yang menjadikan dekorasi itu semakin terlihat mewah.
"Aku akan mengikat suatu hubungan dengan pria asing yang bahkan sampai sekarang aku tidak kenal tentang dia. Orang yang dulu aku sayangi bisa mengecewakan dan meninggalkan ku, apalagi orang yang tidak aku ketahui sifat nya. Ya Tuhan cobaan apa lagi ini, semoga ketakutan ku tidak seburuk kenyataannya" Tasha mengembuskan nafasnya dengan berat. "Ma pa aku ikhlas dengan siapa pun jodoh yang kalian jodohkan dengan ku"
**
Hari sudah pagi menjelang siang, semua para anggota keluarga besar baik Erik maupun Lita silih berdatangan dikediaman mereka. Semua sibuk mempersiapkan acara lamaran Tasha. Mulai dari catering pramusaji yang sudah datang dengan makanan mereka yang akan disajikan dan juga Make up artis yang telah disewa oleh sang mama.
Tasha yang saat pertama kali tau jika dia akan dijodohkan oleh sang papa, memilih menyerahkan sepenuhnya semua urusan lamaran bahkan kepernikahannya nanti kepada sang papa dan mama.
Tasha yang sudah dimake over pun begitu mempanglingkan polesan diwajahnya yang begitu terlihat sangat cantik. Dan dengan memakai sebuah kebaya yang telah dipersiapkan oleh sang ibu dengan didesain seperti gaun modern menambah kecantikan yang dikenakannya.
__ADS_1
Acara yang ditunggu-tunggu sudah dimulai. Para tamu undangan dari pihak laki-laki sudah datang ke kediaman mereka. Dengan kaget nya Tasha, ternyata laki-laki yang dijodohkan ayah nya adalah salah satu laki-laki yang pernah sang papa perkenalkan dengan nya diacara resepsi sang adik.
"Om tua" bathin nya yang baru sampai diruangan acara yang sedang berlangsung. "Papa apa-apaan sih menjodohkan aku sama umurnya yang sangat jauh lebih tua dari aku. Apa iya aku yang umur 25 tahun bersanding dengan om-om. Apakah didunia ini sudah tidak ada lagi laki-laki yang umurnya seumuran dengan umur ku apa ya"
Tasha yang sudah berada disamping Arga melakukan prosesi penukaran cincin yang berjalan dengan cepatnya. Tidak ada drama yang Tasha tunjukan diacara lamaran.
Tasha tidak percaya kini dijari manisnya sekarang sudah melingkar sebuah cincin yang mengikat hubungan nya. Tasha dan Arga sudah semakin jelas, waktu pernikahan juga sudah ditentukan oleh kedua belah pihak keluarga besar mereka.
'Dulu aku menginginkan seseorang yang aku cintai dan mencintai ku untuk memasangkan cincin dijari manis ku. Ternyata dunia seakan mempermainkan ku' gumamnya dalam hati.
Tasha menatap seseorang lelaki disampingnya dengan mata yang sudah sendu. "Om tua kenapa ada disini" bisiknya pada seseorang yang bernama Arga yang menjadi tunangannya sekarang.
Arga yang berusia 37 tahun itu masih terlihat berkarisma walaupun sangat dingin dan cuek. Berpenampilan sangat gagah dan klimis memakai warna baju yang senada dengan yang digunakan oleh Tasha.
"Om apa jangan-jangan aku adalah calon istri kedua om. Ohhh Tuhan ini benar, papa harus tau ini. Tidak mungkin aku menjadi perusak rumah tangga orang, atau aku tidak mau jadi madu seseorang. Om harus membatalkan ini semua"
"Jaga ucapan mu bocah tengil" tegas nya pada Tasha yang berada disebelahnya dan saling menatap.
Tasha dan Arga beramah tamah dengan kedua keluarga, baik Tasha yang mendekatkan diri pada keluarga Arga, begitu juga sebaliknya dengan Arga, dia pun beramah tamah dengan keluarga Tasha.
Arga yang melihat Tasha dari kejauhan yang begitu mencoba mendekatkan diri pada keluarganya menjadikan nya sedikit tenang. Dia berpikir Tasha tidak akan bisa menerima keluarganya, karena perjodohan yang begitu mendadak.
__ADS_1
Arga yang tiba-tiba di kejutkan karena punggungnya ditepuk oleh Erik pun berpaling ke arahnya.
"Om" Arga menyalami Erik.
"Terimakasih kamu mau menerima perjodohan ini Arga. Sedikit rasa kegundahan saya berangsur menghilang. Kamu bahkan sudah tau kondisi Tasha akhir-akhir ini yang dialaminya. Jadi saya mohon perlakukan lah dia dengan baik Arga. Saya percayakan Tasha untuk bersama mu"
"Om, saya akan sebisa mungkin menjaga Tasha sebagaimana harapan om pada saya"
"Baik Arga, saya tidak pernah meminta Tasha untuk menjadi apa yang saya mau. Saya membiarkan nya untuk berjalan apa yang dia inginkan. Ini adalah satu-satu nya yang saya meminta pada Tasha untuk menikah dengan mu. Tolong jaga kepercayaan saya pada mu Arga" usap Erik punggung calon mantu nya.
Arga menarik nafasnya dalam dan mencermati satu persatu perkataan calon mertunya. "Baik om, terimakasih kepercayaan om pada saya. Saya akan sebisa mungkin menjaga kepercayaan om pada saya"
Tasha yang sedari tadi melihat sang papa begitu akrabnya dengan Arga pun mulai mendekat setelah Erik yang sudah berlalu meninggalkan Arga.
"Hey om. Ku lihat serius amat om dengan papa saya. Jangan mencuci otak papa saya untuk tetap menyatukan kita. Awas saja kalau saya tau kalau saya akan om jadi kan istri kedua. Orang yang pertama tau adalah papa saya. Anda camkan itu om" tatap tajam mata Tasha menatap Arga.
"Kamu yang apa-apaan. Siapa juga yang mau menjadikan mu sebagai istri. Malahan aku mau menjadikan mu seorang p*****r setiap tidur malam ku" Arga pergi dan meletakkan gelas jus yang sudah habis itu.
Plakk
Pukulan Tasha pun mendarat dilengan kiri Arga begitu keras. Untungnya tidak ada yang melihat mereka karena para keluarga berada diruangan tamu yang sudah disediakan keluarga Tasha.
__ADS_1
"Aiii apa-apain sih kamu bocah, sakit " sambil mengusap lengan nya Arga melengkungkan senyumnya. "Akan saya tunggu malam pertama kita" Tatap Arga dan berlalu pergi meninggalkan Tasha
"B*******k lo ya om" gerutu Tasha yang sudah ditinggal pergi Arga, namun masih bisa Arga dengar.