
Kolam ikan disamping rumah milik kediaman orang tua Tasha menjadi tujuan Tasha untuk menepiskan gejolak hati dan perasaan nya. Dia mulai memainkan air hingga memberikan makanan-makanan ikan yang ada didalam kolam yang tidak terlalu besar.
Biasanya disore hari disini lah tempat keluarga Erik menghabiskan waktu bersama dengan kedua putrinya dan juga istrinya, untuk bercengkrama, bercerita dan mendengarkan banyak hal.
Tasha masih berperang dengan pikirannya untuk mencoba menenangkan dan berdamai dengan sebuah keadaan. Sang mama mencoba untuk tidak mendekat dan membiarkan sang putri untuk sendiri, dia berpikir mungkin Tasha butuh waktunya sendiri.
Dari kejauh Tasha yang sadar bahwa dirinya sedang dalam pantauan sang mama dan dia juga melihat sang mama sedang sibuk didapur, kini dia mulai melangkahkan kakinya dan menghampiri sang mama.
"Ma, sudah lama sekali ya aku tidak kedapur" ucapnya kepada sang mama dan duduk dibangku dapur.
Lita tersenyum dan mendekat kepada sang putri. Seperti dapat angin segar dari Tuhan atas doa-doa malam yang dipanjatkan mereka kepada kesembuhan sang putri.
"Kakak mau makan apa hari ini sayang?" Kecup sang mama kening putrinya.
Hemmm
"Ma-" Tasha memberhentikan kalimatnya. Manik nya menangkap manik sang ibu yang sudah sembab atas kondisinya.
"Ya sayang"
"Ma, mama malu punya anak yang gila seperti aku ma" manik mata nya sekuat mungkin ditahannya agar tidak tumpah dan membuat sang mama akan semakin sedih.
Sebuah ucapan yang sukses memberikan sebuah peluru tembakan kedalam d**a nya. Air mata Lita pecah mendengar perkataan itu. Dia tidak menyangka putrinya akan memberikan pertanyaaan yang seakan membuat hidupnya sebagai orang tua hancur.
Lita bergerak mendekat dan memeluk sang putri. Dia mencoba untuk menenangkan hati nya yang begitu amat sakit, agar sang putri tidak tersinggung atas keadaan nya dan bisa berdamai dengan kenyataan.
"Sayang, siapa bilang Tasha anak mama papa gila. Kamu tidak gila sayang. Kamu hanya belum bisa berdamai dengan kenyataan sekarang yang kamu alami" ucap Lita yang sebenarnya hatinya sama hancurnya dengan perasaan sang putri.
**
Diluar suara hujan begitu deras nya, Tasha mengayunkan langkah nya ke bawah jendela, mendengarkan suara percikan air yang dapat menenangkan hatinya.
Ya, kondisi yang dialami Tasha sudah mulai membaik, dia mulai memahami sebuah keadaan, dia mulai bisa berpikir untuk apa bertahan jika yang dipertahankan ingin pergi.
__ADS_1
Malam semakin menunjukan kegelapan nya namun hujan terus turun. Tasha yang sudah lelah sedari tadi berpaku dalam lamunannya membuatnya terpejam dan tertidur.
Beberapa jam telah berlalu, suara alarm dikamarnya yang sengaja Tasha setting tadi malam sebelum tidurnya kini telah membangunkannya. Ini menunjukkan masih jam setengah 5 pagi. Tasha sengaja bangun sepagi ini untuk mempersiapkan diri nya yang sudah sangat lama berada dirumah besar milik keluarga nya.
Ini adalah kali pertama nya Tasha bekerja setelah sebulan dia memilih cuti. Perusahaan memberikan Tasha cuti panjang karena memang selama beberapa tahun Tasha bekerja disana tidak pernah mengambil cuti. Ini lah membuat dia dipermudahkan dan bisa kembali lagi bekerja disana.
Satu jam telah berlalu Tasha yang sudah siap dengan baju kemeja kerja dan rok dibawah lutut menampilkan kaki jenjangnya berjalan keluar dari kamar.
Rumah masih sangat sepi kecuali pembantu yang bekerja dirumah itu sedang memasak sarapan untuk mereka.
Dengan ayunan langkahnya telah sampai didapur tepat disebuah meja makan keluarganya. Tasha kini menduduki bangku meja makan disana sambil dihidangkan sarapan mereka oleh pembantu yang bekerja disana.
"Udah rapi Sha" panggil sang ayah mendekat kearah meja dan menarik bangku disamping sang putri dan disusul oleh Lita sang ibu juga menuju kearah tempat makanan mereka itu telah disediakan.
"Pa, antar aku kekantor ya" ucap Tasha dengan wajah permohonan.
Erik mengusap rambut sang putri dengan lembur. Bibir nya menerbitkan sebuah senyuman. Matik mata nya berkaca-kaca.
Lita dan Erik tidak menyangka Tasha akan kembali beraktifitas kembali setelah satu bulan lama nya mengurung diri dikamar.
Waktu sudah bergerak, Tasha dan Erik sang ayah lebih dulu pergi dari Dewi sang adik. Karena ini adalah hari pertama Tasha masuk bekerja kembali, sehingga Erik tidak lagi menunggu Dewi yang masih berada didalam kamarnya.
Didalam satu mobil, Tasha yang duduk disebelah ayahnya menatap kejalan dijendela mobil samping nya. Ini adalah pertama kali nya dia akan kembali bekerja dan memulai lagi dari awal yang membuat nya takut.
"Sha, are you okey?" Panggil Erik yang melihat Tasha sedari tadi melamun.
"Okey pa" sebuah senyuman untuk menyakinkan sang papa. "Hanya saja aku aku takut pa. Krna sudah terlalu lama ambil cuti"
Erik sangat paham dan menangkap wajah ketakutan Tasha. Tanpa sepengetahuan Tasha, sebenarnya ia bekerja disalah satu perusahaan rekan kerja Erik. Erik tidak memberitau Tasha karena dia tau bahwa Tasha tidak ingin karir nya dicampuri oleh orang tuanya.
Tidak terlalu lama perjalan ke kantor Tasha, mobil sang ayah sudah sampai dipintu lobby utama. Tasha bergegas untuk keluar dari mobil sang papa yang sebelumnya dia keluar, Tasha sudah menyalami Erik dan meminta sang papa untuk menjemputnya nanti pulang selepas bekerja.
"Lama sekali anda tuan putri ambil libur nya" suara Linda yang tiba-tiba datang merangkulnya dan membuat Tasha terperanjak karena kaget.
__ADS_1
Rekan kerja dan para karyawan disana tidak mengetahui kondisi yang dialami Tasha beberapa waktu lalu, yang mereka tau adalah Tasha mengambil cuti panjang untuk berlibur kekampung halaman sang nenek.
**
Hari berganti, kondisi Tasha sudah membaik, dia sudah melupakan semua nya, tidak ada lagi rasa benci yang membuatnya sakit.
Tasha sudah melakukan aktivitas semua yang dia lakukan sebelum dia mengalami kondisi mentalnya.
Tasha yang bosan berada dikamarnya pada hari weekend mendatangi kekamar sang adik yang bersebelahan disamping kamar nya.
Tasha menaiki ranjang Dewi dan berbaring disamping sang adik.
"Ka Tasha waktu liburan nanti kita pergi yuk. Keluar negeri atau yg dekat-dekat juga gak apa deh"
"Kakak gak bisa dek. Kamu kan tau kakak udah cuti panjang kemarin. Kakak mana mungkin ambil cuti lagi untuk liburan" Tasha yang sudah memejamkan mata dan memeluk guling.
"Yah kak. Semenjak kita dewasa, kita sudah jarang banget liburan bersama. Semua pada sibuk dengan kegiatan masing-masing" rayu Dewi kepada Tasha dengan tatapan serius nya.
"Dek, kakak bukan kayak kamu yang kerja diperusahaan papa. Kakak adalah karyawan orang lain. Bagaimana dengan rekan-rekan kakak yang tau kakak banyak libur. Bisa-bisa pada ribut mereka"
"Maaf kak, aku terlalu memaksa. Aku hanya rindu dengan kakak" peluk Dewi kepada Tasha yang membelakangi nya itu.
Tasha dan Dewi memang seperti itu sedari kecil. Selalu ada yang salah satu yang membuat tingkah agar yang satu lain merasa risih.
"Apaan sih Dewi, kakak mau tidur. Jangan peluk-peluk." Lepas Tasha tangan sang adik di guling yang dipeluk nya
"Aah kan aku bilang aku rindu sama kakak, sudah lama sekali kakak tidak mengunjungi kamar ku ini"
"Gak lucu Dewi"
"Kak aku bosan. Bagaimana kita nonton. Banyak film-film yang bagus kak"
Dengan malas dan hembusan nafas yang sangat keras nya dewi membalikkan tubuh nya dan menatap langit kamar itu.
__ADS_1
"Ada aja ya dek tingkah mu"
"Kakak apa tidak capek apa seharian ini dikamar, tidur aja kerjaan. Ini hari weekend kak. Ayo la kita melihat dunia luar" sambil tersenyum Dewi menggoda sang kakak.