
Suara derap langkah Arga sudah terdengar kearah kamar Tasha. Tasha yang sudah mengakhiri panggilan dengan sang adik mulai merebahkan tubuhnya diranjang kecil yang Arga sediakan padanya dikamar yang tidak berukuran besar itu.
"Bocah tengil sudah siap, ayo kita pergi" suara ketukan pintu sudah mengudara dengan suara Arga yang terdengar sangat tegas.
Tasha yang sudah mulai memejamkan matanya terbuka kembali. Dengan malas Tasha menutup wajahnya menggunakan bantal agar tidak mendengar panggilan Arga diluar itu.
Hitungan menit Arga sudah berada dipintu kamar Tasha yang tidak kunjung terbuka, kini Arga yang sudah sangat tersulut emosi karena telah terlalu lama menunggu Tasha, berjalan mencari kunci cadangan yang dia simpan diruangan kerjanya.
Cklekk
Suara pintu sudah terdengar diruangan itu dengan Tasha yang masih berada dibawah bantal yang menindih wajahnya, tidak mengetahui keberadaan Arga jika dia sudah berada disana.
"Bangun bocah" tarik Arga selimut dan juga bantal yang telah menutup dan menyelimuti tubuhnya sebelumnya.
Tasha yang merasakan kaget karena Arga memiliki akses keruangan privasinya sekarang bangkit dengan cepat dari tidurnya.
"Om kenapa sih, saya kan sudah bilang jika saya tidak mau ikut. Saya tidak ingin pergi keacara om. Apa itu kurang jelas buat om" tatap nya pada Arga seakan menentang ajakan Arga padanya.
"Saya tidak peduli tentang itu, kamu harus ikut dengan saya" lengan Tasha yang telah ditarik Arga kini telah membawanya keluar kearah kamar mandi dan meninggalkannya setelah Arga sampai membawa Tasha kedalam kamar mandi itu.
Setelah perbedatan yang selalu tercipta diantara mereka setiap harinya kini dengan malasnya, Tasha yang telah menghentak-hentakan kaki nya setah keluar dari kamar mandi itu, dengan kekesalannya kini kembali lagi menuju kamarnya.
Mata Tasha membola, dia tidak ingat jika dia tidak membawa gaun ataupun dress yang bisa dipakainya keacara formal yang diadakan rekan bisnis Arga.
"S**l aku gak punya sesuatu yang bisa ku pakai. Gak mungkin memakai baju kerja atau pakaian jalan ku" Tasha terus membongkar-bongkar isi lemarinya mana tau dia mendapatkan sesuatu yang bisa dipakainya.
Lama Tasha membongkar pakaiannya, tapi tetap sama. Dia memang tidak ada membawa pakaian gaun nya keappartemen Arga dan meninggalnya dirumah orang tuanya. Tasha yang memang sengaja tidak membawa pakaian-pakaian itu yang memang dia berniat tidak akan pergi keacara pesta apapun itu apalagi bersama dengan Arga.
__ADS_1
Tasha membanting kembali pintu lemari yang sebelumnya terbuka itu. Dia kembali menduduki pinggiran ranjang dan menatap dirinya dikaca yang ada dikamarnya.
*
Waktu sudah beranjak malam, Arga yang sudah dari jam 5 tadi menunggu Tasha tapi tidak menampakkan dirinya dari pintu yang terus ditatapnya.
Rasa kesal yang sudah menjalar, Arga yang tadi nya duduk disofa kembali menuju ke arah kamar Tasha.
"Lama lagi bocah. Ini sudah jam setengah 7. Kamu belum juga selesai" ketuknya pintu kamar itu dengan kerasnya.
Tasha mendekat pada pintu yang sudah sangat berisik didengarnya dan membuka handelnya.
Arga mengangakan mulutnya terbuka melihat penampilan Tasha yang tidak berubah hanya saja wajah yang sudah dipoles dengan make up yang tidak terlalu tebal tapi membuatnya sudah terlihat cantik jika menandangnya.
"Saya sudah hampir 2 jam menunggu mu, tapi kamu tidak selesai juga. Apa yang kamu kerjakan dikamar kamu ini?" Arga mulai emosi dan mendekatkan wajahnya menatap Tasha.
Arga sudah tidak lagi mengindahkan Tasha yang masih memakai pakaian piyamanya. Dia menarik lengan Tasha dan mengambil clutch bag yang telah disediakan Tasha sebelumnya berada diatas ranjang miliknya.
Tasha dan Arga sudah sampai di lobby appartement tempat mobilnya berada. Arga tidak lagi memperdulikan perlawanan-perlawanan yang diberikan Tasha padamya, yang ingin melepaskan itu.
Dengan menekan remote mobilnya, Tasha sudah dibawanya masuk kedalam dan menutup kembali pintu mobil agar Tasha tidak dapat melarikan dirinya.
"Om tolong jangan mempermalukan saya dengan pakaian saya seperti ini" tatapnya pada Arga yang sudah berada dibangku kemudinya.
Arga hanya diam membiarkan Tasha terus mengomel tanpa perdebatan yang Arga ucapkan.
Mobil yang sudah melaju dengan kencangnya membelah jalanan yang tidak sunyi namun juga tidak juga terlalu macat dimalam itu.
__ADS_1
Tidak lama dari appartement miliknya, Arga telah sampai dan memarkirkan mobilnya kesebuah butik ternama yang ada dikota itu. Arga tidak asing dengan butik ini karena sang mama dan juga adik perempuannya jika pulang akan mendatangi butik ini ditemani oleh Arga walaupun tidak terlalu sering baginya.
"Mas Arga, ada yang bisa kami bantu?" sambut seorang pemilik butik itu yang sangat mengenal Arga dan juga keluarganya itu.
"Tolong carikkan dress yang bisa dipakai istri saya yang pas buatnya" perintah Arga pada seorang wanita yang masih muda.
Tasha membulatkan matanya menangkap ucapan Arga yang menganggap dirinya adalah seorang istri baginya. 'Apa aku tidak salah dengar, atau aku yang berhalusinasi' batinnya yang telah mengikuti langkah wanita tadi untuk memilihkan pakaian yang akan dikenakannya.
"Wah mbak cantik sekali, cocok berpasangan dengan mas Arga yang ganteng dan gagah" ucapnya pada Tasha yang sudah menggenakan sebuah dress bewarna navi menambahkan kecantikkan dengan tubuh yang ideal itu. Dengan dada dan lengan yang tertutup dan dress sampai kelututnya.
Arga yang sudah menunggu tidak terlalu lama itu sesekali menatap arlogi ditangannya dan kembali memainkan benda pipih ditangannya.
"Om ayok jalan" dengan kaki jenjang yang dimilikinya, Tasha dengan malasnya melangkahkan kakinya mendekat pada Arga yang sudah memakai sebuah high hells yang tinggi 7 centi dengan dress yang tidak disengaja senada dengan pakaian yang telah Arga kenakan. Rambut yang dibiarkan tergurai indah dengan gelombang dibagian ujungnya dan pipi shinny menambahkan kecantikannya.
Arga yang kini telah terpana melihat penampilan Tasha memakai dress yang pas dan sangat cocok dikenakannya kini dengan wajah cantik alami, memiliki bulu mata yang melentik asli dan hidung mancung semakin menambahkan kedewasaannya. Arga yang merasakan berbeda setelah melihat Tasha, serasa matanya tidak berhenti untuk memandang wanita yang ada dihadapannya saat ini.
"Kenapa om masih terdiam, kita jadi pergi atau mau berdiri disini saja sampai butik ini tutup" tatapnya pada Arga dan berlalu meninggalkannya.
*
Acara yang sedang berlangsung begitu meriahnya. Ini adalah acara resepsi pernikahan rekan bisnis Arga. Seluruh pengusaha dan juga pembisnis hadir diacara itu. Arga yang datang bersama dengan Tasha berjalan beriringan yang sebelumnya ketika mereka masih berada didalam mobil, mereka sudah membuat kesepakatan untuk mesra dan romantis dihadapan para kolega-kolega Arga yang juga akan hadir diacara itu.
"Senyum bocah. Perlihatkan wajah bahagia mu bukan wajah keterpaksaan mu" ucap Arga pada Tasha yang baru memasuki ballroom tempat acara itu dengan Arga berada disamping Tasha dan menggandeng tangan wanita cantik itu membawanya masuk.
Netra Tasha yang kini menyapu keseluruh ruangan yang ada diballroom itu, begitu banyaknya tamu undangan yang merupakan para pembisnis dan juga pengusaha-pengusaha muda maupun sudah berusia lanjut.
Arga yang masih menggandeng tangan Tasha tidak jarang para rekan-rekannya menyapa dan memberikan ucapan pernikahan juga pada mereka karena usia pernikahan mereka yang masih dibilang sangat muda itu.
__ADS_1