Jodoh Ku Tertunda

Jodoh Ku Tertunda
80. Usaha Kuliner


__ADS_3

Arga yang melihat kearah Tasha masih belum menyentuh masakannya dan kini dia terlihat diam dan mengambil kembali nasi kedalam piringnya sendiri.


Masih menatap soup didepannya, manik Tasha kembali melihat wajah Arga yang sudah terlihat tidak semangat lagi mungkin karena dia belum memakan masakannya itu.


"Mas, kenapa?" Ucap Tasha yang hanya berbasa-basi untuk mengulur makannya.


"Tidak ada sayang" ucap Arga.


Arga berusaha tersenyum walaupun usaha masaknya yang dari pagi sekali untuk menyiapkan sarapan itu untuk sang istri yang direncanakannya sebelum Tasha bangun, masakannya telah siap. Namun apalah daya, bahkan ketika Tasha bangun dan telah selesai mengerjakan seluruh kegiatannya, dia masih berada didapur dan sampai berkali-kali mengganti masakannya yang dengan berbagai macam rasa.


Dari sekian masakan yang dimasaknya tadi, ini adalah yang dia merasa berbeda dari masakannya yang sebelumnya walaupun sangat jauh cita rasanya dari masakan sang istri atau para pekerja dirumah sang ibu.


Tasha mulai mengambil sendoknya dan memasukkan makanan yang telah dimasakkan sang suami khusus untuk nya kini memasukkannya kedalam mulutnya.


Masih disuapan pertama rasa yang berbeda telah menyatu dilidahnya. Rasa aneh yang terlalu banyak air dengan rasa bawang putih dan jahe yang terlalu banyak bercampur didalam mulutnya.


'Mas, ini adalah makanan yang tidak enak yang pernah aku makan mas' batinnya.


Arga yang terus menatap Tasha disebelahnya itu, melihat Tasha yang telah memakan masakannya dan menunggu respon dari sang istri akan memberikan komentar ataupun pujian padanya.


"Bagaimana sayang, apakah masakan perdana mas ini bisa menjadi rekomendasi untuk mas membuka usaha kuliner" tatapan Arga masih menatap sang istri yang terus mengunyah makannya walaupun lambat itu.


Tasha yang hanya diam, kini mencoba untuk menikmati makannya agar menghargai sang suami yang telah susah payah mengerjakannya dan berniat baik untuknya agar dia tidak repot dipagi ini.


'Bagaimana aku harus mengatakannya mas' batin Tasha sambil menatap kearah depan dengan pikiran yang sudah tidak tenang.


Tasha yang kemudian kembali melihat kearah Arga dan melampirkan senyuman dibibirnya.


'Lihatlah hasil kerjamu mas, sampai tanganmu sendiri kamu korbankan untuk ku' batin Tasha dengan susah payahnya dia menelan makanan itu.


"Hemm enak mas" ucap singkat Tasha membuat Arga semakin bahagia mendapatkan pujian sang istri.

__ADS_1


"Serius sayang?" Ulang Arga dengan penilaian sang istri dengan antusiasnya.


"Hemm mas sudah memakan masakan mas ini?" Tanya Tasha, bagaimana dia menanyakan pada nya tentang rasa masakannya kepadanya jika sang suaminya sendiri mana mungkin tidak tau mana rasa yang enak dengan yang tidak enak.


"Tadi mas sudah mencicipinya sedikit, dan benar seperti katamu sayang, masakan mas enak. Wahh ini Joe harus tau jika mas telah pandai masak" ucap Arga dengan percaya dirinya, bahwa Joe juga akan memuji masakannya itu.


"Jangan mas" ucap Tasha cepat pada sang suami.


Mana mungkin dia rela mengizinkan Joe asisten suaminya itu memakan masakan sang suami yang hancur ini, bisa jadi bahan tertawaan Joe pada atasannya itu nanti.


"Kanapa sayang" ucap Arga penuh penyelidikan pada sang istri.


Tasha harus mencari alasan agar Arga tidak melanjutkan niatnya yang memalukkan itu. 'Ayooo Sha, berpikir keras' batin Tasha yang mencari ide.


"Mas, aku tidak mau jika masakan mas ini sampai pada ke yang lain, aku mau mas memasakannya khusus hanya buat aku. Ohh dan satu lagi mas, selanjutnya mas tidak perlu lagi masak ya. Nanti aku jadi lupa cara masak dan memulainya darimana" ucap Tasha, walaupun dia tidak tau alasannya itu masuk akal atau tidak yang disampaikannya pada Arga.


"Baiklah sayang, ayo lanjutkan makannya lagi" ucap Arga dengan rasa bahagianya karena Tasha mengakui masakannya itu.


Masih ragu-ragu Tasha kembali memasukkan makanan kesendoknya yang dimasak sang suami itu kedalam mulutnya lagi.


Masih dalam satu kunyahan, mata yang sudah berair dengan wajah yang telah memerah kini Tasha berlari cepat kearah kamar mandi yang ada didapur itu.


Huweekkkkkkk


Arga yang melihat Tasha pergi itu, kaget dan ikut berdiri mengejar sang istri.


"Kamu kenapa sayang? Kamu baik-baik sajakan? Kamu sakit?" Tanya Arga dengan pertanyaan bertubi-tubi pada Tasha yang masih memuntahkan isi didalam perutnya.


Huweeekkkkkk


Tasha terus mengeluarkan makanan yang dimakannya tadi, dia juga tidak lagi mengindahkan pertanyaan Arga padanya yang sudah mual itu.

__ADS_1


Arga yang tidak tau apa yang harus diperbuatnya, kini berlari kearah kotak p3k yang masih berada diatas meja makan itu, dan kembali ketempat Tasha yang masih didalam kamar mandi itu.


Dengan lembutnya Arga membuka dan menaikkan sedikit bathrobe yang dikenakan Tasha untuk memberikan minyak angin mengelus punggung sang istri, untuk melegakan rasa mualnya.


Tasha yang sudah lemah setelah mengeluarkan seluruh isi yang ada didalam perutnya, kini berjalan kearah kamar mereka dibantu dengan Arga.


"Berbaringlah sayang" perintah Arga yang telah membawa Tasha kedalam kamar mereka dan memberikannya selimut.


Tasha merasa tubuhnya yang sudah tidak bertenaga itu memejam matanya.


Arga yang telah berlari lagi keluar menuju kearah dapur dan dengan langkah besarnya kini dia kembali kekamar mereka dengan segelas air untuk sang istri.


"Sayang minumlah air ini dulu" Arga memberikan gelas yang dibawanya itu dan duduk dipinggiran ranjang sambil mengelus rambut sang istri.


Tasha membangkitkan tubuhnya sedikit dan menimum air yang dibawakan Arga untuknya itu.


"Tidur lah dulu sayang, mana yang sakit, biar mas pijat" ucap Arga pada Tasha yang telah kembali berbaring dan memunggungi sang suami.


Arga yang masih belum paham dan belum peka atas muntah yang terjadi pada Tasha sang istri itu, yang dia mengira jika Tasha sedang mengalami masuk angin karena semalam masih terlalu pagi sudah keluar dari rumah menuju kerumah sakit tempat Dewi melakukan proses persalinan itu.


Tasha yang hanya diam memejamkan matanya kembali untuk beristirahat agar tubuhnya kembali lagi segar.


"Mas bawakan kembali makanan nya kesini ya" ucap Arga dan sukses membukakan seketika mata Tasha yang tadinya tertutup kini telah membesar.


Tasha dengan cepatnya bangkit dari tidurnya dan menarik tangan suaminya yang juga akan bangkit dari ranjang itu.


"Tidak perlu mas, aku baik-baik saja" tahan Tasha yang terlihat dari raut wajahnya tidak ingin lagi memakan masakan sang suami.


Arga yang telah mengerutkan dahinya, kini menerka-nerka asal mula Tasha sebelum memakan makanan nya terlihat baik-baik saja dan seketika wajahnya berubah ketika memakan masakanannya.


'Masakan ku menjadi petaka buat istriku' gumam Arga yang sedang menatap tajam bola mata Tasha.

__ADS_1


__ADS_2