
Dorrrrrr..... Dorrrrr.....
Suara dua tembakan itu mengudara di ruangan kamar yang telah terbuka. Lagi-lagi dengan mata yang jeli, Joe telah melihat pengawal disebalik dinding yang bersembunyi dibalik tembok nyaris tidak terlihat dan telah mengarahkan sebuah pistol yang berjenis Single-Action Revorver pada Arga. Joe langsung dengan cepatnya membidik pistolnya kearah lelaki yang juga sedang membidik Arga, kini tembakan yang diciptakan Joe lebih dulu mengenai tepat dibagian d**a seorang lelaki itu.
Farhan yang telah dilumpuhkan dan terjatuh diatas ranjang itu tepat disamping Tasha, yang tadinya tubuhnya mengukung tubuh Tasha kini menerima tembakan dari Arga dibagian kakinya.
Arga yang tadinya telah mengarahkan pistol dalam genggamannya kearah kepala Farhan, namun ekor matanya melirik kearah Tasha yang dalam kondisi sekarang ini yang berada dibawah tubuh Farhan yang terlihat sangat menggilai istrinya itu sehingga pistol yang ditangannya sudah tidak tepat sasaran lagi.
Walaupun sebuah peluru telah tertancap dikakinya dan terasa sakit yang teramat, Farhan yang masih dapat tersenyum kini menatap Arga penuh kesinisannya dan akan melanjutkan keawal rencananya yaitu sebuah hubungan pernikahan yang akan berakhir.
"Ternyata kita sudah tertangkap oleh suamimu sayang. Baiklah untuk apa lagi kita menutup-nutupi hubungan terlarang kita ini" Farhan yang telah bangkit kini mendekat kembali pada Tasha dengan tidak tau malunya dia mencium diujung cerucuk rambut Tasha dihadapan Arga yang sebagai suaminya.
Tasha yang masih menangis dengan selimut yang telah menutupi seluruh tubuhnya dan menenggelamkan wajahnya.
"Kenapa harus menangis sayang, ini sudah terjadi. Perselingkuhan kita sudah diketahui oleh suamimu"
"Tutup mulut b****p mu itu lelaki b******n. Kau yang telah menculik ku hingga aku berada disini" jeritan Tasha tanpa membuka wajahnya dengan bibir yang telah bergetar memecahkan tangisan tanpa hentinya didalam selimut itu. Dia tidak akan tau lagi seperti apa kelanjutan pernikahannya setelah Farhan membalikkan subuah fakta.
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa menculikmu sampai kesini, jika mobilmu terparkir rapi dihalaman mansion ku sayang. Waktu yang kita tunggu-tunggu dari kepergian suamimu adalah untuk melepas rasa rindu kita dan kita masih sama-sama mencintai bukan?"
"Persetan dengan b******n sepertimu. Itu bohongggggggg" hikssss
Arga yang seakan membenarkan sebuah ucapan Farhan namun tidak percayanya dia dengan ini, jika sang istri masih menyimpan keinginan untuk bersama dengan mantan kekasihnya. Rasa sakit yang dirasakan Arga ditambah perkataan Farhan yang terngiang-ngiang didalam isi kepalanya membuatnya semakin berdenyut dibagian d**anya.
Arga yang telah melepaskan tembakannya kini menjatuhkan tubuhnya berlutut untuk menopang tubuhnya. Dia tidak tau apa yang harus dilakukannya. Wajah yang sudah melemah menatap Tasha yang sudah sangat berantakan kini menambah kefrustasiannya. Tanpa disadarinya air matanya jatuh disudut pelupuk matanya yang telah diusapnya dengan kasar.
"Bereskan lelaki b******n ini segera" perintah Arga pada orang-orang suruhannya yang sudah berada didalam kamar itu untuk menjaga bosnya dan istri dari bosnya dari segala marabahaya yang bisa saja sewaktu-waktu menyerang mereka tanpa disadari oleh mereka.
Setelah semua para pengawal Farhan yang berada disana telah diamankan oleh orang-orang suruhan kepercayaan Arga bersama dengan Farhan yang telah mereka bawa juga kemarkas mereka, kini hanya lah Arga dan juga Tasha yang masih tepaku ditempat mereka masing-masing.
Arga yang hanya terdiam kini tidak tau apa yang harus dilakukannya selanjutnya. Dia tidak menyangka dengan sikap Tasha yang sangat dicintainya kini. Apakah Tasha masih berada dimasa lalunya dan belum bisa melupakan Farhan yang kini telah menjadi istrinya.
'Apa yang telah terjadi diantara mereka sebelum kedatangan ku sampai disini' batin Arga yang sudah mempora-porandakan hati dan pikirannya sekarang ini.
Air bening Arga mengalir kembali disudut matanya mengingat pertama kali kedatangannya masuk kedalam kamar ini yang memperlihatkan jelas Farhan menikmati tubuh Tasha dengan ciuman Farhan yang sangat menggila itu dengan perlawan yang terus diberikan Tasha pada Farhan.
__ADS_1
Tasha yang juga masih terpaku ditempat itu tidak henti-hentinya menangis sambil meremasi selimut yang masih berada untuk menutupi tubuhnya. Tasha tidak tau kenapa dunianya seberantakan ini yang tiada henti-hentinya menghukum dirinya.
"Om pergilah, om telah lihat langsung seberapa hina nya saya sekarang. Selepas ini om bisa ceraikan saya" dengan suara yang sudah menahan rasa sakitnya untuk memulai pembicaraan sudah hening tanpa suara yang ada diruangan itu dan hanya ada suara tangisan yang saling terdengar dikamar itu.
Arga tidak lagi mengeluarkan perdebatannya pada Tasha yang biasa mereka lakukan jika bersama, ataupun berbalas kerinduan yang telah mereka rasakan setelah kepergiaan Arga beberapa minggu lalu. Kini Arga sudah merasakan sakit dititik d**a yang sudah terluka itu.
Joe dan sebagian orang-orang dari suruhannya yang masih mengawal dilokasi vila itu memilih berjaga lebih jauh dan membiarkan Arga dan juga Tasha yang berada masih didalam kamar yang tadi menjadi tempat sanderaan Tasha yang dilakukan oleh Farhan.
"Bawakkan jas saya" panggilan singkat yang Arga berikan pada Joe.
Joe yang telah mendapatkan tugas oleh bosnya itu dengan cepatnya melangkah masuk kembali kedalam mansion itu dengan menenteng jas Arga yang telah dilengannya kini.
Ketukan suara yang sudah berdengar diruangan itu dengan pintu yang masih terbuka, melangkahkan kaki Joe yang sebelumnya Arga telah memberikan isyarat pada Joe untuk masuk dan pergi kembali meninggalkan atasannya itu.
Jas yang kini telah dipakai oleh Tasha untuk menutupi tubuhnya yang sebelumnya telah dibantu oleh Arga untuk memakaikannya. Kini mereka mengayunkan langkah kaki mereka kelantai dasar untuk menuju kearah dimana mobil yang telah menunggu itu akan membawa mereka pulang menuju kembali kekediaman mereka.
Arga dan Tasha telah berada didalam mobil yang sama dengan Joe yang berpindah ke mobil lain, bersama dengan para pengawal-pengawal Arga yang lainnya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan yang begitu jauhnya dengan air mata Tasha yang sampai saat ini belum juga berhenti menatap kosong arah keluar jendela.
Arga dan Tasha tidak ada komunikasi yang terjalin diantara mereka yang duduk bersebelahan dan berada didalam pikiran mereka masing-masing. Mereka yang telah disupirkan oleh supir pribadi keluarga Arga yang membawa mereka meninggalkan mansion itu, memofuskan kemudinya melirik sesekali kekaca untuk melihat anak dan mantu majikannya itu.