Jodoh Ku Tertunda

Jodoh Ku Tertunda
72. Tempat Baru


__ADS_3

Hari sudah berganti, tanpa disadari ini adalah hari terakhir mereka berada dipulau itu dan kembali lagi untuk melanjutkan pekerjaan yang sudah lama tertinggal.


Selama beberapa hari ini, Joe lah yang menangani seluruh pekerjaan Arga yang ditinggalkannya membuat Joe harus ekstra membagi waktunya antara pekerjaan sang atasan dan pekerjaannya sendiri.


Joe yang masih berada didepan ipad lipatnya dan berkutik diberkas-berkas yang begitu banyaknya menumpuk karena ini adalah pekerjaan yang tertunda dan ditinggalkannya, dimulai dari kunjungan kerja mereka ke Negara Italia, kehilangan Tasha, mengantar jemput istri bosnya itu dan terakhir mencari keberadaan sang Nonya sehingga seluruh pekerjaan Arga dan juga pekerjaannya yang harus dibackupnya kedua pekerjaan itu.


Ditambah lagi Erina sang sekretaris bosnya yang telah dipecat, sehingga dia juga harus membuka lowongan pekerjaan dan menginterviewnya sendiri atas suruhan dari Arga.


Walaupun bagaimana pekerjaan yang diberikan Arga padanya terlalu berat dan menguras energinya, namun Joe tidak pernah mengeluh dan dengan setianya dia tetap menjalankan perintah sang atasan.


"Baik Tuan" panggilan singkat yang diterimanya dari Arga lewat benda selulernya.


Arga yang sedang dalam perjalanan pulang, kini menyuruhnya untuk menjemput Tuan dan Nyonya Arga dibandara.


Sangat paham dengan sang atasan, Joe tanpa menunggu berlama-lama lagi menutup seluruh pekerjaannya dan benda lipatnya menuju ke bassement dimana mobilnya yang sedang terparkir dikantor itu. Ini memang lah jadwal kepulangan Arga, namun karena kepadatan pekerjaannya, sehingga dia melupakan bahwa Arga sekarang sudah berada dibandara.


Tidak terlalu lama perjalanan yang ditempuh Joe ke bandara itu, sekarang Arga dan Tasha kini telah berada didalam mobil yang dikemudikan Joe asisten dari suaminya itu. Pandangan mata Tasha mengedarkan kearah jalanan yang mereka lewati, ini adalah suasana baru yang dilihatnya.


"Mas, mengapa baru beberapa minggu saja aku tidak berada dikota ini, semua dratis berubah seperti ini mas?" ucap Tasha sambil menelusuri pandangannya dari jendela mobil itu.


Arga hanya terdiam, mereka yang duduk berdua dibangku penumpang dibagian belakang Joe, kini dia membawa kepala istrinya itu menyandarkan dibahunya dan tangannya mengelus rambut istrinya.


Tasha semakin yakin, ini bukan lah jalanan yang biasa mereka lewati, bahkan gedung-gedung biasa dilihatnya saja sangat jauh berbeda.


"Mas, kemana Joe membawa kita?" bisik Tasha pada Arga yang berada disampingnya dan tangannya yang tetap berada dalam genggamannya.


"Mas juga tidak tau kemana anak ini membawa kita. Ikuti saja, mas juga telah muak dengannya mungkin dia merasa disini dia lah sekarang bosnya" balas Arga sambil bernada pelan ditelinga Tasha.

__ADS_1


"Hemmm seharusnya memang seperti itu. Dia lebih cocok jadi bos dari pada mas" ledek Tasha yang ingin menggoda sang suami.


"Dia tidak akan bisa menandingi mas sayang, karena suami mu ini tidak terkalahkan dari siapapun"


"Mas salah, seorang bos tidak akan bisa sesukses sekarang tanpa bantuan assistennya"


"Ya itu benar. Tapi kamu yang tidak tau sayang, seorang bawahan tidak akan mampu berdiri tanpa seorang pemimpin yang berbakat dan berhasil mendidik bawahannya sampai seperti sekarang ini"


Tasha mengendikkan bahunya, dia sudah sangat merasa lelah dalam perjalannya hari ini. Ketika berada di armada besi yang membawanya pulang, Tasha yang tidak dapat tidur ditambah harus menunggu kedatang Joe yang menguras energinya dan sekarang rasa kantuknya telah menyerangnya.


Kepala yang dari tadi telah bersandarkan itu dibahu Arga, tanpa menunggu lama matanya langsung memejam dalam pelukkan suaminya.


*


Tubuh yang telah mengeliatkan tubuhnya dari tidur, kini mata Tasha mengarahkan pandangannya pada Arga yang juga telah tertidur disampingnya yang masih memeluk tubuhnya itu.


Disebuah ranjang king size yang ada didalam kamar itu dan ruangan yang lebih luas, mengalihkan netranya kesetiap sudut ruangan yang asing baginya.


"Selamat datang dirumah kita sayang" kecup Arga yang tiba-tiba juga terbangun dari tidurnya karena pergerakan Tasha.


Tasha terkesiap dengan ucapan Arga. Apakah dia sedang bermimpi karena terlalu lelah.


Tasha meraba setiap tubuhnya dan tubuh Arga tidak lupa dia juga mendaratkan sebuah cubitannya pada dirinya sendiri.


"Aduhhh" pekik Tasha.


"Kamu sakit ya sayang. Tubuh tidak bersalah seperti ini dicubit" gerutu Arga yang melihat tingkah Tasha seperti bocah masih sama seperti dulu yaitu sebuah panggilan yang disematkannya pada Tasha ketika pertama kali pernikahan mereka.

__ADS_1


"Coba ulang mas. Rumah kita? Appartement tempat tinggal kita mungkin. Kamu merenovnya kembali mas?"


"Ini rumah pemberian dari Joe, katanya dia kasihan padamu harus tinggal disebuah appartement sayang. Dan sekarang dia memilih kamu sebagai bosnya dari pada saya. Besok-besok sayang yang gaji dia ya, mas ingin mengganti assisten wanita saja" ucap Arga berbohong pada Tasha.


Tasha menaikkan bibirnya menatap kearah Arga. "Coba-coba kamu ya mas mengganti assisten wanita, biar saya patahkan lehernya jika itu terjadi." Sinis Tasha


Entah kenapa ketika Arga hanya mengucapkan wanita lain yang belum tentu terjadi, sudah menghilangkan moodnya untuk melanjutkan perbincangan mereka.


"Kamu cemburu sayang?"


"Gak" jawaban singkat Tasha yang sudah menjawab rasa cemburunya.


"Iya kali, seorang asistent memberikan sebuah rumah mewah pada istri bosnya. Apa jangan-jangan dia tertarik dengan ku ya mas?" Alihkan Tasha yang tidak ingin lagi membahas tentang perempuan lain dan kembali kepada Joe.


"Wanita malamnya lebih tertantang baginya dari pada wanita baik-baik seperti mu sayang" tarik Arga hidung Tasha yang masih mengedarkan pandangannya keruangan kamar itu.


"Hemm dia tidak pernah pacaran ya mas?"


"Mas tidak tau dan mas juga tidak mau mengurusin urusan pribadi seseorang yang tidak ada kaitannya dengan mas. Biarlah itu menjadi urusannya" ujar Arga yang telah mengambil sesuatu dilaci nakas disamping tempat dia sedang berbaring itu.


"Apa ini mas? Jangan bilang ini surat perceraian kita? Aku belum mengandung anak mu mas, jadi aku belum memiliki tameng untuk menguras seluruh harta kekayaanmu" Sebuah map yang telah diulurkan Arga padanya.


Tasha yang sudah penasaran dengan sebuah map yang diberikan Arga padanya, tidak lagi mengindahkan Arga yang mungkin saja membalas ocehannya.


Sebuah surat yang isi didalam per katanya dipahami oleh Tasha. Maniknya membulat. "Kejutan apa lagi ini?" gumamnya kembali menatap Arga yang telah bangkit dari pembaringannya.


Tasha tidak menyangka sebuah perumah elit yang kini mereka miliki untuk tempat tinggal mereka saat ini.

__ADS_1


"Kamu suka?"


"Wanita mana yang tidak suka dengan pemberian suaminya yang memperlakukan wanitanya begitu istimewa sayang. Apalagi nama saya tertera disurat itu sebagai pemiliknya. Ahhh ini adalah kado bertubi-tubi sayang" kecup Tasha pipi Arga yang ada didepannya itu.


__ADS_2