
"Mas mau kemana?" Panggilan Tasha mengudara ketika dia sedang berada didapur melihat Arga yang telah bersiap-siap keluar dari kamar yang mereka tempati, memakai sebuah kaos santai dan celana joger yang kini telah dikenakan suaminya itu.
Tasha yang masih berada didapur dengan menggunakan sebuah apron nya ditubuhnya mempersiapkan sarapan mereka dihari weekend ini, yang sebelumnya dia lebih dulu meninggalkan Arga yang masih berada didalam kamar.
Beberapa potongan roti yang telah dibakarnya bersama dengan susu yang akan menjadi santapan sarapan mereka dipagi hari.
"Mau tempat mama kan? Ayok kita kesana sayang" ajak Arga yang melihat Tasha masih dengan kesibukan nya.
"Kenapa gak bilang dari tadi sih mas, aku sudah masak untuk sarapan kita" kesal Tasha menatap sang suami.
"Baiklah, kita sarapan dulu"
Arga melangkahkan kakinya menuju kedapur membantu Tasha yang telah membawa makanan yang dimasak oleh nya ke meja makan untuk mereka makan dan Arga juga telah membantu melepaskan apron yang dipakai istrinya itu.
"Terimakasih sayang" kecup Tasha pipi Arga.
"Hemmm mas selalu merindukan masakan kamu sayang" tangan yang kini telah melingkar diperut Tasha dan seketika juga dia menempelkan bibirnya ke bibir sang istri.
Tasha yang selalu menikmati ciuman yang diberikan suaminya itu, bahkan ini adalah seperti sebuah rutinitas yang selalu mereka lakukan disetiap pagi hari.
"Aku akan selalu memasakan makanan untuk mas dan-" ucap Tasha yang telah melepaskan pagutan mereka dan menyandarkan kepalanya memeluk Arga menyium setiap parfum-parfum ditubuh suaminya itu.
"Dan-?" Arga berkerut dahi ketika Tasha menggantung kalimatnya.
"Dan anak kita nanti"
__ADS_1
Walaupun umur Tasha yang jauh lebih muda dari suaminya itu, bukan hanya Arga saja lah yang menanti kehadiran sang buah hati karena umur yang dimiliki suaminya itu, namun dia juga sangat menanti kehadiran janin yang nanti akan dikandungnya.
Arga mendorongkan sebuah kursi untuk Tasha duduki dan disebelahnya untuk dia duduki.
"Ya sudah kita tunda dulu kerumah mama, kita buat anak lagi, bagaimana?" Lirikan Arga sambil mengambil sepotong roti bakar yang telah disediakan Tasha untuknya.
"Dasar otak mesum. Bukannya setiap malam dia selalu mendului start dan memperkosa ku setiap pagi bahkan dia yang selalu bernafsu dan mencumbu ku ketika aku masih dalam keadaan tidur" gumam Tasha yang dapat didengar Arga perkataannya sambil mencabik-cabik roti yang ada dipiringnya.
Arga yang hanya tersenyum mendapatkan kekesalan sang istri kini mengambil roti yang telah dicabik-cabik Tasha memasukkan kedalam mulutnya sendiri.
"Dimakan sayang, bukan dijadikan bahan mainan roti itu istri ku" ledek Arga dengan lirikan dari ekor matanya.
"Oh iya sebentar, mas ada sesuatu buat kamu" Arga bangkit dari duduknya dan melangkah kearah kamar mereka.
Tidak terlalu lama Arga yang telah kembali membawakan sebuah kotak perhiasan ditangannya dan berdiri tepat dibelakang sang istri. Arga yang langsung membukakannya sendiri pada Tasha yaitu sebuah kalung permata yang jika ditaksir harganya pasti sangatlah fantastis.
"Hemmm ini adalah kado ulang tahun mu sayang?" Arga langsung memasangkan nya dileher jenjang istri nya itu.
Sebuah kalung yang langsung Arga pesan dan dibuat khusus hanya ada satu didunia dan Arga juga tidak memperbolehkan pengrajin itu membuat nya kembali dengan bentuk dan desain yang sama dengan kalung yang telah dipesannya untuk sang istri.
"Ini bukanlah harga yang biasa mas berikan pada ku. Sudah cukup mas memberikan ku kejutan, ini sangatlah berlebihan" ujar Tasha walaupun hatinya sangat senang dengan perlakuan-perlakuan suaminya itu berikan pada nya.
"Kenapa harus berlebihan, kamu adalah istri mas dan akan menjadi istri sampai akhir hayat mas. Jadi tidak ada salahnya jika mas memberikan apapun yang terbaik untuk mu sayang" kecup Arga rambut Tasha.
"Mas Arga bukan begitu, aku tidak butuh kemewahan yang lebih mas berikan padaku. Aku hanya butuh kita sama-sama setia, sama-sama mendukung satu sama lain, dan saling bersama-sama berdampingan dalam suka dan duka. Aku tidak butuh apapun atas kemewahan-kemewahan yang mas punya" tutur Tasha yang entah kenapa dia memanglah wanita lemah jika dihadapkan dengan perlakuan-perlakuan yang menyentuh hatinya.
__ADS_1
"Sayang, ini tidak lah berlebihan. Mas memberikannya pada mu karena mas sangat sayang dan mas tidak tau harus bagaimana membahagiakan mu selain senyuman yang terpancar diwajahmu. Mas tidak ingin lagi hal-hal semacam kemarin terjadi lagi dikeluarga kita sayang"
"Mas Arga" Tasha membalikkan tubuhnya dan memeluk tubuh sang suami.
Tasha menarik nafasnya panjang, walaupun dia sekesal apapun dengan lelaki ini, namun itu tidak lah bertahan lama. Karena Arga selalu bisa membalikkan moodnya kembali dan rasa cintanya semakin besar pada pria yang sekarang berstatuskan suaminya itu.
*
Hari semakin beranjak siang, Tasha yang masih berada didalam kamarnya sementara Arga menunggu Tasha diruangan keluarga mereka.
Disebuah perumahan elit berdesainkan rumah dengan desain modern yang berkisaran harga diatas puluhan milyar. Arga yang sebelumnya telah menyediakan sebuah rumah untuk menjadi hunian mereka sebelum keberangkatannya ke Italia. Tetapi begitu banyaknya kendala dan juga masalah-masalah yang menimpa mereka berdua beberapa waktu lalu, sehingga Arga tidak sempat membawa istri nya kerumah yang baru saja dibelinya itu.
"Mas ayo kita pergi" ucap Tasha yang baru saja keluar dari kamar mereka.
Tasha yang telah menggunakan perpaduan sweatshirt dan jeans yang dikenakannya, mendekat pada Arga yang telah sangat lama menunggunya.
"Hemm mas pikir kita akan pergi malam sayang" ujar Arga dan mengambil tangan sang istri.
"Malam? Aku tidak lah terlalu lama berdandan sayang, hanya saja aku tadi tidak sengaja tertidur satu jam an sebelum aku mandi mas" ujar Tasha dengan santainya.
"Tidur? Natasha mas menunggumu disofa ini agar kamu lebih cepat dari yang mas perkirakan. Jika mas masuk kedalam kamar, bisa-bisa kita tidak jadi untuk pergi dan berakhir ditempat tidur bercumbu. Ini kamu tidur, dan membiarkan mas untuk menunggu disofa ini sayang"
"Hemm aku lelah setiap malam tubuhku harus ditindih dengan tubuh kekar seorang lelaki yang tidak sadar kalau tubuhnya itu berat" ejek Tasha dan melanjutkan langkahnya berjalan keluar rumah itu.
"Hei sayang tunggu sebentar, kita harus menyelesaikan masalah kita ini sayang" suara besar Arga mengudara diruangan itu karena Tasha telah meninggalkannya.
__ADS_1
Arga yang telah bangkit dari duduknya dan berjalan besar mengejar istrinya itu.
"Mau kemana sayang, kamu harus membayar hasil lelah mas karena menunggu mu" senyuman sinis Arga kembali mengembang menatap kedua bola mata Tasha dan menggendong tubuh istrinya itu kembali masuk kerumah mereka.