
Setengah jam berlalu Tasha yang masih berada disamping Arga yang telah mendampinginya kini, ini adalah kali pertama nya dia berada disekeliling para pembisnis-pembisnis hebat yang sudah beramah-tamah dengan mereka.
Tasha yang ingin bergabung dengan para istri dari rekan kerja bisnis Arga sebelumnya dia telah meminta izin pada Arga untuk kearah dimana para beberapa wanita itu sedang mengobrol. Arga tau jika ini adalah tempat yang tidak disenangi Tasha karena Tasha bukan orang yang mudah bergaul dan dia juga tidak suka dengan keramaian.
Tasha menebarkan senyum cantik diwajahnya seraya mendekat pada ibu-ibu disana yang tidak kalah cantik dengan nya. Walau pun mereka sudah cukup berumur diusia yang sekarang, tapi mereka masih terlihat sangat cantik. Tidak hanya itu, dia yang berpikir jika sebelumnya dia tidak akan bisa masuk dalam circle para ibu-ibu yang sekelas istri pembisnis sukses itu, ternyata keraguannya berubah. Semua para istri-istri dari rekan bisnis Arga adalah orang-orang yang welcome atas kedatangannya.
"Oh iya Tasha kamu kabar nya sebagai wanita karir juga, kenapa tidak bekerja saja dengan suami mu? Jika dipikir-pikir suami mu adalah pembisnis muda yang sangat sukses dan telah diakui oleh semua para pembisnis dikota ini" ucap salah seorang wanita yang merupakan istri dari rekan kerja suaminya.
"Hemm iya tante, karena sebelum saya menikah dengan mas Arga, saya sudah bekerja diperusahaan saya yang sekarang. Dan tidak mungkin saya meninggalkan semua nya begitu saja hanya karna saya seorang istri dari mas Arga" tutur nya pada seorang wanita yang rasanya juga wajar jika wanita itu melontarkan pertanyaan yang seperti itu. Tidak jarang juga para ibu-ibu yang lainnya malah menyuruh Tasha untuk berhenti menjadi seorang wanita karir karena hidup dengan Arga sudah lah sangat terjamin itu yang tidak akan habis harta yang dimilikinya.
Tidak lama setelah Tasha yang masih berada diantara wanita-wanita itu, perut yang sudah terasa menahan lapar dari tadi ketika sesampainya dia diacara itu belum mencicipi hidangan yang telah disediakan. Tasha yang telah mengedarkan pandangannya mengarah kesebuah tempat sajian yang berada disana yang kini telah mengayunkan kakinya melangkah. Rasa haus yang telah dirasakannya membuat nya menambahkan dehidrasi yang dirasakannya.
"Maaf nona, saya tidak sengaja" ucap salah seorang lelaki memakai sebuah jas hitam yang telah menyenggol Tasha sehingga Tasha merasakan sakit dibagian lengannya. Suara yang masih terngiang ditelinganya membuat jantung yang tadinya normal kini sudah berdetak kencang. Maniknya berhenti dan menatap seseorang itu adalah seorang lelaki yang sangat dikenalnya.
Farhan yang ternyata berada ditempat yang sama, kali ini dengan nya menjadi tamu undangan ditempat yang sama itu juga. Farhan yang tadinya tidak mengenal Tasha kini juga telah membolakan matanya menatap seorang wanita yang pernah menjalin hubungan dengannya.
__ADS_1
Farhan dan Tasha masih terpaku ditempat yang sama dan saling menatap satu sama lain serasa tidak menyangka dengan pertemuan yang tidak disengaja ini. Tasha yang sudah menaruh kebencian pada Farhan, kini menatap j***k padanya.
Tidak berlangsung lama, Tasha yang memutar kembali ingatannya, kini mengulang semuanya kembali beberapa hari kemarin yang Tasha melihat Farhan dengan seorang wanita yang tak lain adalah Siska dan dengan seorang anak bayi bersama mereka membuat pukulan hebat pada d**a nya.
Manik coklat yang tadi nya bersinar kini telah sayup sendu setelah pertemuannya dengan Farhan yang masih dihadapannya, hati yang seperti sudah menangis mengingat kembali rasa sakit baginya dulu yang harus diobatinya sendiri. Tasha yang masih tidak bisa bernafas dengan jantung yang masih berdetak kencang mulai memalingkan wajahnya dari tatapan Farhan yang sangat menajam itu.
Manik yang sudah berkaca-kaca namun harus ditahannya dari tatapan Farhan kini, melangkahkan kakinya menuju kesuatu tempat yang tidak tau tujuan, setidaknya dia bisa menenangkan kembali hati yang telah hancur itu setelah melihat kehadiran Farhan. Bukan hanya sebatas melihat dari kejauhan tapi kali ini dia bisa menatap langsung dan sangat dekat dengan seorang lelaki yang pernah singgah dihidupnya dulu, kini dia sudah melihat kembali bola mata yang sudah satu tahun tidak lagi dilihatnya dan mempora-porandakan hidupnya sampai ketitik terendah kedepresian.
Ribuan orang yang berada disana tidak menghalangi langkah Tasha untuk terus menerobos orang-orang yang ada disana. Farhan yang terus mengikuti langkah Tasha terhenti karena telah kehilangan jejak Tasha disebalik banyaknya orang-orang yang hadir diacara ballroom yang sedang berlangsung itu.
Kaki yang masih diambang pintu namun air mata telah berada dipeluk mata dan akan meloloskan butirannya untuk terjun kepipi yang masih memerah itu. Rasa sakit yang ditahannya membuat wajah yang tadinya segar kini telah memucat.
"Si b*******k itu kenapa menampakkan wajahnya lagi di hadapkan ku Tuhan. Kenapa dia tidak pergi jauh saja dari hidupku atau bahkan dia m**i saja biar aku tidak pernah melihat hidupnya lagi" air mata yang sudah terjatuh dengan derasnya membasahi kedua pipinya.
Tasha yang tadi nya berdiri menatap ke arah cermin yang ada ditoilet itu kini kakinya melemah dan sudah tidak kuat lagi menopang tubuhnya dan bertahan memegang pinggiran wastafel diruangan itu.
__ADS_1
*
Ditempat lain Arga yang terus mengedarkan matanya mencari keberadaan Tasha di ruangan acara itu tidak menemukan sosok Tasha yang dicari nya. Dia yang sedari tadi berbincang pada rekan pembisnis-pembisnisnya itu, yang awalnya dari kejauhan Arga melihat Tasha dengan asik dan mengobrol diantara para istri-istri rekan bisnisnya.
"S**l kemana dia? Kenapa aku tidak menemukannya. Apa dia telah pergi dari acara ini" batin nya yang masih berada diantara kolega-koleganya, yang bahkan dari luar negeri jauh datang keacara ini.
Manik yang sudah tidak tenang nya lagi mulai menampakan aura kegelisahannya yang tadinya bersikap tenang kini sudah tidak dapat lagi dikontrolnya.
"Maaf semuanya Tuan, saya permisi harus pergi" ucapnya pada seluruh kolega-kolega yang berada disana.
"Ada apa Tuan Arga, apa ada masalah?" ucap salah satu pembisnis yang juga memiliki perusahaan terbesar dikota itu yang juga tidak kalah dengan perusahaan yang dimiliki Arga.
"Tidak Tuan. Saya ingin menemui istri saya"
"Wah begitu ya kalau pengantin baru, tidak melihat istri sebentar saja sudah rindu" sambung salah seorang kolega yang sudah hampir separuh baya itu yang berada disebelah Arga. Arga yang sudah tersipu mendengarkan rekan-rekannya menundukkan sedikit tubuhnya sebelum dia berlalu meninggalkan kolega-koleganya.
__ADS_1