
Sebelum membaca Vie mohon klik tombol Like jangan lupa ya, terus di vote juga, Rate bintang lima juga ya, apalagi mau kasih koin seikhlasnya boleh banget...
Happy Reading 😘😘😘
*****
Pagi itu Caca pulang dari rumah Rani. Ia sangat merasa mengantuk, ya jelas saja ia dan Rani tidur pukul empat pagi saking asiknya mengobrol sampai lupa waktu.
"Non, sarapan dulu, oh iya non ada tuan yang dari tadi nungguin non." ucap mbok Nah saat Caca ingin naik tangga menuju kamarnya dengan lunglai.
"Ada papa mbok? kok tumben amat pake nungguin aku pula lagi." ucap nya.
Mesko Caca enggan menuju ruang makan, namun mbok Nah sudah menariknya menuju ruang makan untuk menemui papanya.
"Dari mana kamu Ca?" tanya papa pagi itu dengan menyeruput kopi hitam yang hangat dan roti sandwich di atas meja buatan mbok Nah.
"Aku nginep di rumah Rani." jawabnya sambil menuangkan beberapa sendok nasi goreng buat mbok Nah yang super lezat pastinya ke atas piringnya.
"Tumben, biasanya Rani yang sering nginep disini." ucap papa sambil tersenyum memperlihatkan guratan halus keriput di ujung matanya.
"Tumben papa juga sarapan disini." jawab Caca membalas papanya.
Tak..!!
papa menjatuhkan sendok garpu nya ke meja samping piring nya. Papa mulai kesal mendengar cibiran dari Caca barusan.
Ada gurat marah yang Caca tangkap di mata papa nya namun papa tidak berkata apa-apa lagi dan segera menghabiskan sarapannya tanpa bicara lagi sedikitpun.
Sang papa pergi tanpa pamit menuju ke arah mobilnya bergegas pergi ke kantornya. Hanya pak supir yang menyapa Caca sebelum dia masuk ke mobil papa dari arah dapur.
"Non harusnya Ndak boleh gitu, tadi tuh keliatan banget papa non mau ngobrol sama non eh malah jutek gitu sih non."
__ADS_1
ucap mbok Nah mencoba merubah sikap Caca yang selalu kecewa dengan keberadaan papa dan mama nya.
"Hah, gak penting mbok, sejak kapan mereka anggep Caca, biasanya juga mereka pada cuek kan?" jawab Caca.
"Tapi non..." ucapan mbok Nah terhenti.
"Udah husshhh cukup ya mbok, aku ngantuk mbok mau tidur dulu udah yak udah jangan ceramah dulu aku pusing." potong Caca sebelum mbok Nah selesai berbicara.
*Anak itu dasar keras kepala mirip sih sama tuan dan nyonya keras kepalanya. sampai kapan keluarga ini dingin seperti ini.
batin* mbok Nah sambil merapikan meja makan dan hanya bisa memandangi Caca yang naik ke kamarnya.
***
Caca membaringkan dirinya di kamar kesayangannya sambil membayangkan masa lalunya.
Flashback 10 tahun lalu...
"Hai anak cantik, ini papa bawa hadiah." ucap papa seraya memberi Caca satu kotak kado di hari ulang tahunnya.
"Ini kue ulang tahun kan dari mama memangnya mau kado apa lagi sih sayang?" tanya mama.
"Liburan yuk ma, pa, ke pantai apa gunung please... Caca suntuk nih dirumah." ucap Caca dengan nada memelas.
"Oke, oke baiklah tapi tiup lilin dulu dong make a wish cantik." pinta mama pada Caca.
Caca meniup lilin bertuliskan angka 10 diatas kue coklat lezat buatan mamanya. Kebahagiaan sangat terpancarkan di keluarganya saat itu.
Bagi Caca orang tuanya adalah sosok sempurna karena baginya ia mempunyai papa yang tampan dengan postur tinggi berbadan tegap dan memiliki mata serta hidungnya yang persis seperti Caca.
Kalau bibir dan rambut Caca persis seperti milik mamanya yang juga sangat cantik di usianya yang masih muda saat itu 35 tahun. Sedangkan ayah Caca berusia 40 tahun kala itu.
__ADS_1
Akan tetapi Caca tak menyangka jika hari itu adalah ulang tahun terakhir yang Caca rayakan bersama mama papanya. Sepertinya keinginan Caca di hari ulang tahun nya tidak terkabul karena semenjak hari itu semuanya berubah. Tak ada lagi papa yang setiap Minggu selalu hadir meski sibuk dengan pekerjaannya. Tak ada lagi mama yang setiap hari ada buat Caca karena mama mulai bekerja.
Sepekan kemudian papa Caca mengalami kebangkrutan karena ditipu oleh rekan bisnisnya, papa lalu jatuh sakit dan menjadi pendiam serta sering terlihat murung.
Sementara sang Mama mendapat tawaran pekerjaan yang menggiurkan dan baginya ini adalah kesempatan emas untuk mendapat uang menggantikan posisi papa sebagai pencari nafkah dan ini juga merupakan kesempatannya mengejar cita-citanya.
Sebenarnya papa bukan lelaki yang suka jika istrinya bekerja di luar, pergi dari rumah, namun dia tahu diri karena istrinya sudah membantunya dengan hasil pekerjaan-pekerjaan nya saat ia mengalami kebangkrutan.
Hingga suatu ketika papa mendapat tawaran kerja sama dengan temannya tetapi mengharuskan dia harus mau bekerja diluar kota yang membuat Caca semakin jarang bertemu papa nya. Papa yang selalu mengecup keningnya saat mau tidur malam sudah tidak ada lagi. Sejak bekerja diluar kota itu papa berubah. tak ada lagi kecupan di kening Caca saat mau tidur malam.
Dan rumah Caca yang tadinya bagaikan surga pun berubah menjadi neraka semenjak saat itu. Kesibukan kedua orang tuanya yang membuat mereka jarang berkomunikasi dan malah sering berburuk sangka sampai akhirnya timbul pertengkaran mempertahankan egonya masing-masing.
***
Kembali ke masa sekarang.
Dikamarnya Caca segera membenamkan wajahnya ke bantal dan langsung terlelap setelah menangis membayangkan masa lalunya.
Caca tak tahu bahwa saat itu jug di layar ponselnya ada puluhan misscall dari Rendi dan chat yang belum ia baca juga dari Rendi yang menanyakan kabarnya dengan Rani.
***
Bersambung...
duuhhh author makin auto baper nih nulisnya... 😂😂😂
Tengok novel ku lainnya ya
- Pocong Tampan
- 9 Lives
__ADS_1
- Gue Bukan Player
Vie love you all readers....😘😘😘....