
Sebelum membaca Vie mohon klik tombol Like jangan lupa ya, terus di vote juga, Rate bintang lima juga ya, apalagi mau kasih koin seikhlasnya boleh banget...
Happy Reading 😘😘
****
Rani merasakan ada sesuatu yang menempel di bibirnya. Rani lalu terbatuk mengeluarkan air namun ia pura-pura pingsan kembali sambil membuat pose bibir cipokable.
Ivan masih berusaha memberikan nafas buatan pada Rani kembali. Lalu dirasakannya ada sentuhan lain yang menarik bibir Ivan dengan sensasi berbeda menggetarkan hatinya, memanaskan tubuhnya kala itu. Ivan membalas sentuhan itu dengan lumatan dan pagutan pada bibir Rani.
"Kok gue ngerasa ada yang aneh ya?" ucap Anto sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Iya kok mereka kayanya..." Caca berusaha mencerna adegan yang dilihatnya barusan.
"*****.....!!! pada ngapain elo!!" Rendi menendang bokong Ivan dengan gemas.
"Eh ehm anu tadi." Ivan terbata-bata menjelaskan.
"Elo ciuman ya kak?" Anto menoyol kepala Rani kali ini.
"Gak ko, orang gue berasa dikasih nafas buatan ya Van? eh makasih yak." Rani menoleh kearah Ivan.
"I.. i..ya sama-sama Ran." Ivan menjawab malu.
"Ah... puas banget kayanya tuh barusan coba gue abadikan tadi." goda Caca pada Rani sambil menunjuk bagian bibirnya.
__ADS_1
Rendi merasakan ada benjolan daging lembek yang menyentuh lengannya kali itu dan dia tau persis bagian mana tubuh Caca yang menyentuh lengannya karena genggaman Caca yang makin erat.
"Hahahaha awww Ren malu gue liatnya."
Rani menutup wajahnya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanan nya menunjuk bagian adik Rendi yang menegang tepat dihadapan Rani duduk saat itu.
"Apaan sih Ran?" Caca melirik kearah bawah tempat Rani menunjuk."
"Eh itu kenapa kak?" Tanya Caca polos.
Rendi berusaha menutupi bagian adik kecilnya itu dengan tangan saking malunya.
"Ca lepas dulu ya ini kegesek soalnya." Ucap Rendi malu yang mengundang gelak tawa semuanya.
Caca pun langsung melepas genggamannya dan sedikit menjauh menyadari gesekin dadanya yang menonjol itu di lengan Rendi.
Kali ini Ivan yang berusaha menutupi bagian bawahnya dengan muka yang merona merah menahan malu.
"Arrrgg ini kalian pada kenapa sih otak mesum semua pada, pikiran polos gue kan jadi ternodai ini." Anto mengacak-acak rambutnya tak tahan dengan kelakuan orang-orang yang di lihatnya barusan.
***
Ivan, Rendi dan Anto masih asik bermain di kolam renang sementara Rani dan Caca sudah berada di kamarnya untuk bilas dan berganti baju.
Rani mengelap rambutnya dengan handuk sambil memandang kolam renang dari jendela kamar Caca. Ia memperhatikan Ivan kali ini sambil senyum-senyum.
__ADS_1
"Ehm so... yang tadi itu apa Ran?" goda Caca yang juga mengelap rambutnya dengan handuk.
"Emmm apa yak pas nempel tuh nagihin gue pikir Anto mau gue dorong aja dong tuh, eh taunya Ivan." Jawab Rani sambil masih memandang Ivan.
"Tus beneran elo ***** gitu?"
"Ya abis, dia bales ya gue lanjutin hehehehe."
"Parah elo ke enakan banget yak pantesan tadi." Kali ini Caca sudah memakai kaus dan celana pendeknya berbahan jeans.
"Sekali-kali Ca, eh kalo besok besok Ivan mau lagi dihhhhh gue sih... mau deh." Jawab Rani yang juga sudah mengganti bajunya dengan celana pendek dan kaos lengan pendek merah berkerah.
"Masih ngarep kan lo sama Ivan? btw berati udah move on nih dari Nando?" tanya Caca penuh selidik.
"Yup berengsek kaya gitu mah udah gak bakal lama di hati gue."
"Bagus deh Ran." Caca memeluk sahabatnya dengan erat dari arah belakang.
"Wah wah wah... nenek lampir , si ular pantai selatan ngapain ada dikolam situ Ca?" Tunjuk Rani ke arah kolam dari jendela kamar Caca.
Caca melihat ke arah kolam renang dan dilihatnya sosok Nayla sedang berdiri di depan tiga pemuda tampan itu dengan rok pendek dan sepatu heels nya.
***
Bersambung
__ADS_1
Happy Reading
Jangan lupa Vote, like dan komen